Salah satu alasan saya menyukai konsep ibadah Islam adalah siapa pun (laki-laki) boleh menjadi imam (asal bacaan dan hafalannya bagus) dan bisa berdiri di baris mana pun.
Tidak ada kasta hirarkis profesi. Pedagang cilok bisa sejajar dengan bupati sekalipun jika sudah shalat jamaah.
Bahkan pedagang tersebut bisa saja mengimami seorang presiden.
Tidak ada istilah “tempat ini khusus untuk bapak/ibu A, B, C (donatur utama, pejabat, orang penting)” seperti di agama sebelah.
Seorang muslim ketika shalat juga melepaskan semua harta bendanya di lantai (hape, tas, dompet dll).
Tidak ada yang dibawa dan dipegang lagi kecuali iman dan takwa.
(@sibambaang)







Negri konyol emang, pejabat gila hormat, ingin selalu prioritas, selalu bertingkah macam VVIP, bahkan untuk urusan beragama.
penduduknya aja kebanyakan kayak si tolol af
kayak di Istiqlal pada saat hari raya shaf depan sampai 5 shaf kebelakang harus steril yg isi aparat keamanan, karna shaf terdepan di isi jamaah vvip
Bagi saya pribadi boleh mengkavling shaf pertama dengan sajadah, syaratnya :
1. Ybs hadir lebih dahulu sebelum jamaah lainnya hadir;
2. Faham atas kewajibannya sebagai makmum;
3. Mutqin
walallahu a’lam 🙏
Kayaknya gambar diatas itu hoax…karena aslinya yg dikarpet merah tulisannya MAKMUM…..bhua…ha..ha… negeri para penjilat. Ternyata pengurus masjid punya jabatan struktural yang takut jabatannya di copot
setahu sy selama mempeljari agama unt jd imam tdk sekedar hapalan dan bisa alquran saja!!!