“Yang Perlu Diperbuncit Itu Otak, Bukan Perut”
✍️Cut Meutia
Beberapa kali saya mengikuti cuplikan wawancara Fatimah Azzahara dengan sejumlah politisi di televisi maupun media sosial. Yang membuat saya terkesan bukan sekadar keberaniannya berbicara, tetapi kualitas argumennya. Sekelas mahasiswa, Fatimah sangat keren.
Ia berbicara dari apa yang dibaca, bukan hanya dari apa yang didengar.
Semoga Aceh juga akan melahirkan lebih banyak mahasiswa dan mahasiswi seperti Fatimah. Aktivis yang berteriak bukan hanya lantang, tetapi juga berisi. Berdebat bukan sekadar asal bunyi, melainkan berdasarkan data, literatur, dan logika (Critical consciousness/ kesadaran kritis).
Kesadaran kritis ini hanya dapat dicapai melalui proses belajar yang serius.
Ungkapan bahwa “ilmu akan membuat seseorang menjadi pintar dan menjelma menjadi pribadi yang kritis” bukanlah sekadar slogan, tetapi memiliki dasar yang kuat dalam teori pendidikan.
Berpikir kritis lahir dari budaya membaca. Semakin luas bacaan seseorang, semakin kuat pula argumentasinya. Makanya, ilmu akan selalu melahirkan sikap kritis, sikap yang paling ditakuti oleh kekuasaan.
Penguasa sangat memahami hal ini, makanya cenderung mengabaikannya,,mereka faham kualitas sebuah bangsa tidak hanya ditentukan oleh rakyat yang perutnya kenyang, tetapi juga oleh rakyat yang otaknya kenyang.
Mereka tau Kebutuhan dasar seperti pangan memang penting untuk dipenuhi. Namun manusia juga membutuhkan pendidikan, pengetahuan, penghargaan, dan aktualisasi diri agar mampu berkembang secara optimal.
Artinya, program negara seharusnya tidak semata-mata berfokus pada upaya mengenyangkan perut, seperti MBG, tetapi juga harus mengenyangkan otak dengan memperkuat pendidikan, budaya membaca, riset, perpustakaan, laboratorium, beasiswa, dan ruang diskusi yang sehat.
Meskipun tau dan faham, mereka tak peduli.
Mereka lebih memilih program yang memperbuncit perut dibandingkan program yang memperbuncit otak.
Dalam beberapa kali perdebatan antara Fatimah dan para politisi, saya menemukan hal yang kontras. Argumen para politisi itu rata-rata datang dari pengalaman politik dan retorika, sementara argumen Fatimah tampak disusun dari bacaan, data, dan referensi.
Bro!
Kalau tidak mau terlihat konyol di depan anak kemarin sore, loe harus banyak-banyak membaca. Dalam demokrasi modern, legitimasi argumen tidak cukup hanya berasal dari jabatan, tetapi juga dari kualitas pengetahuan yang mendasarinya.
So…
Untuk partai-partai politik, mungkin sudah saatnya kalian lebih banyak menampilkan juru bicara yang “otaknya buncit”, mereka yang kaya literasi, menguasai data, dan mampu berdialog secara ilmiah. Bukan yang buncit perutnya.
Sudah tak sedap dipandang, mendengarnyapun jadi mual.
(*)







bagi yang sadar politik, sudah saatnya meninggalkan parTAI politik yang tidak berpihak pada konstituen. jika semua parTAI politik seperti itu, sudah saatnya untuk GOLPUT 👍🔥