Dokter Icha

Oleh: Dahlan Iskan

Panorama di perjalanan saya ke Buffalo (AS) ini sebenarnya indah sekali. Tapi lima berita duka masuk ke HP saya: dokter Icha gantung diri setelah ditekan dua anggota DPRD di NTT.

Bu Muslimah, si guru legendaris di film Laskar Pelangi, meninggal di Belitung.

Lima calon manajer Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih meninggal saat latihan militer.

Tetangga sebelah rumah lama saya meninggal sebulan setelah saya bergurau kepadanya bahwa ia nanti akan langsung masuk surga –karena sudah terlalu lama di neraka: Prof Anton Prijatno SH. Ia ketua Yayasan Universitas Surabaya (Ubaya) yang juga mantan rektor di kampus itu.

Maka sedih dan senang melintas di pikiran saya di sepanjang perjalanan Connecticut-Buffalo. Padahal di kiri jalan ini ada sungai Susquehanna yang panjangnya lebih 700 km. Meliuk indah. Airnya jernih. Itu mengingatkan saya di keindahan perjalanan di Clear Water antara negara bagian Washington dengan Idaho.

Berita kematian dokter Icha muncul saat saya mampir ke museum Bethel Woodstock.

Dokter Icha masih muda: 27 tahun. Cantik eksotik. Saya pun mengontak beberapa dokter di NTT. Saya ingin tahu lebih banyak tentang peristiwa itu: kok bisa anggota DPRD menekan dokter sampai dokternyi gantung diri.

Ternyata dr Icha putra daerah. Dia alumnus Univetsitas Nusa Cendana (Undana), Kupang. Dia lulus tahun 2022.

Malam itu dr Icha bertugas di IGD rumah sakit Leona di kota Kefamenanu, kabupaten TTU –Timor Tengah Utara. Pemkab TTU-lah yang memberi beasiswa dr Icha.

Saat itu ada seorang anak diantar ke IGD Leona. Si anak baru saja digigit ular. Dokter Icha melakukan pemeriksaan. Dia juga berkonsultasi ke seniornya di sana. Anak itu tidak dalam keadaan bahaya. Tidak semua ular berbisa. Pun yang berbisa tidak semua punya bisa yang kuat. Maka Anda harus periksa ular Anda: berbisa atau tidak.

Tapi dua orang anggota DPRD di Kefamenanu –saya harus mengeja huruf-hurufnya saat menuliskan nama sulit kota itu– mendatangi IGD. Mereka keluarga pasien. Mereka menekan dr Icha untuk memberikan obat anti racun antivenom. Yang ditekan tidak mau. Kebetulan obatnya juga tidak ada.

Obat infus antivenom memang mahal: bisa sampai 3 juta. Karena itu tidak semua rumah sakit punya stok. Tapi dalam kasus di RS Leona ini, si anak sendiri tidak perlu diberi obat itu.

RS Leona milik swasta. Ada tiga RS Leona di seluruh pulau Timor. Sebelum di Leona, dr Icha bertugas di puskesmas setempat.

Keesokan harinya dr Icha melihat dua anggota DPRD itu lagi di Leona. Dia merasa tertekan. Dia memutuskan pulang ke Kupang. Jarak Kefamenanu ke Kupang sekitar lima jam naik mobil. Badannyi lemah. Dia merasa terus tertekan. Dia dibawa ke rumah sakit –termasuk untuk masalah kejiwaannyi. Setelah membaik, dr Icha boleh pulang. Seminggu kemudian harus kontrol.

Saat tiba waktunyi kontrol itulah Icha tidak muncul. Lalu ditelepon. Tidak merespons. Di rumah itu orang tua Icha belum pulang kerja. Tapi ada adiknyi yang juga dokter. Sang adik ke lantai atas. Icha terlihat sudah meninggal dalam keadaan menggantung.

Di kamar sang adik ditemukan dua HP dan satu surat tertutup. Dua jenis barang bukti itu kini di tangan polisi. Keluarga pun belum sempat membaca apa isi surat Icha.

Dari surat itu kelak akan jelas apa yang terjadi sebenarnya. Tapi, meski masih junior, Icha tergolong sudah kuat dalam memegang teguh kode etik profesi dokter.

Salah satu unsur terpenting yang membuat dokter itu sebuah profesi –bukan pekerjaan– adalah otonomi.

Dokter memiliki otonomi untuk melakukan atau tidak melakukan. Mereka harus melakukan tindakan medis biar pun ditekan orang lain untuk tidak melakukan. Sebaliknya dokter tidak akan mau melakukan biar pun ditekan agar melakukan. Pun bila itu taruhannya jabatan. Bahkan nyawa.

Dokter Icha –Eliza Princila Utami Pakaenoni– mempertaruhkan profesinya sampai ke nyawa. Dokter Icha, di mata saya, adalah pahlawan profesi. Banyak profesi lain tidak lagi punya pahlawan.

Di dunia wartawan kian sulit mencari pahlawan profesi kewartawanan seperti Icha di kedokteran. Pun di profesi pengacara. Juga di profesi hakim bukan?

Apalagi si anak yang digigit ular itu akhirnya benar-benar sembuh.

Tentu saya harus menghubungi dua anggota DPRD itu. Tapi tidak berhasil mendapatkan nomor kontak mereka.

Saya baca di berita online, keduanya membantah telah melakukan tekanan. Memang keduanya mengakui bicara keras kepada Icha tapi tidak ada maksud menekan.

Keduanya juga sudah minta maaf. Keluarga Icha sendiri tidak memperkarakan itu. Bahkan tidak mau jenazah Icha diotopsi.

Tapi latar belakang peristiwa ini harus jelas.

Semua berita duka itu seperti mempersingkat perjalanan darat saya yang lima jam. Pukul 21.01 saya tiba di hotel di down town Buffalo: matahari belum juga tenggelam. Tapi bulan purnama sudah tampak menor di ufuk barat. Indah. Romantis. Gabungan antara matahari senja dan bulan purnama.

Pun di Buffalo, matahari ternyata tenggelamnya juga di barat. (Dahlan Iskan)

https://disway.id/catatan-harian-dahlan/954794/dokter-icha

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *