Tak Ada Asap Kalau Tak Ada Api

Oleh: Gufroni, S.H., M.H.
(Ketua Riset & Advokasi Publik LBH AP PP Muhammadiyah)

Kami setuju dengan pepatah lama yang menyatakan ‘tak ada asap kalau tak ada api’. Maksudnya, tak mungkin kami mendampingi putri Ahmad Bahar, tanpa ada sebab. Penjemputan paksa, interograsi hingga ancaman menggunakan senjata api terhadap Ilma Sani Fitriana (Putri Ahmad Bahar), bukan penyebab tunggal.

Bahkan sebelum itu, 4 orang anggota ormas Grib Jaya (anak buah Hercules), telah mendatangi kediaman Ahmad Bahar (Jum’at, 15/5/2026). Dengan nada ancaman, seolah bertindak seperti aparat penegak hukum, dua diantaranya mengaku mantan anggota militer dan brimob, merasa bangga melakukan tindakan represif kepada Ahmad Bahar.

Keduanya membanggakan diri, telah bertindak kurang dari 1 x 24 jam, menyatroni rumah Ahmad Bahar di Depok. Membuat video, memperlakukan Ahmad Bahar seperti maling yang diamankan oleh anggota Grib Jaya.

Jadi, Hercules benar bahwa tidak ada asap kalau tidak ada api. Api penyebabnya, adalah tindakan arogan ormas, yang mengambil wewenang aparat penegak hukum, melakukan tindakan polisionil tanpa dasar hukum dan tanpa dasar kewenangan.

Adapun komunikasi kepada istri Hercules (Hercules menuduh pihak Ahmad Bahar mengirim pesan WA kepada istri Hercules yang berisi ancaman -red), yang dianggap sebagai penyebab, sudah dijelaskan berulangkali bahwa Ahmad Bahar dan putrinya tidak atau bukan pihak yang mengirim. Ada dugaan, operasi IT yang mendiskreditkan Hercules melalui nomor Hp dan yang dimiliki Ahmad Bahar dan Putrinya.

Sederhana saja. Ahmad Bahar dan putrinya, tidak kenal istri Hercules dan Hercules. Tak punya nomor hp keduanya.

Namun, penjelasan ini tidak diterima. Hercules memaksakan Ahmad Bahar dan putrinya, mengakui perbuatan yang tidak pernah dilakukan. Sampai mengirim anggota Grib Jaya, bahkan tak puas dengan itu, hingga membawa paksa putri Ahmad Bahar ke Markas Grib Jaya, diinterograsi dan diintimidasi, hingga merendahkan jilbab dan meminta untuk dicopot saja jilbabnya.

Sayang sekali. Hercules terprovokasi informasi yang tak jelas, hingga langsung menuduh Ahmad Bahar pelakunya. Lalu, mendatangi kediaman Ahmad Bahar, sampai membawa putri Ahmad Bahar secara paksa.

Semestinya, Hercules datang ke kantor Polisi. Bukan main hakim sendiri, mengirim anggotanya mendatangi rumah Ahmad Bahar dan menjemput putrinya secara paksa.

Jika lapor polisi, Hercules setidaknya akan mendapatkan edukasi terkait informasi yang dia terima bukanlah informasi yang legal. Melainkan, hasil olahan AI (Artificial Intelegence), dan nomor pengirim bisa ada potensi di hack.

Lagipula, jika proses klarifikasi melalui polisi, Ahmad Bahar dan putrinya akan merasa nyaman dan bisa dengan leluasa menjelaskan persoalan secara gamblang. Bukan dibawah ancaman dan intimidasi.

Hari ini, kami mendampingi putri Ahmad Bahar untuk mengambil langkah hukum, mencari keadilan. Tapi kami tetap dituduh playing victim. Padahal, nyata-nyata putri Ahmad Bahar dijemput paksa oleh anggota Grib Jaya tanpa dasar hukum dan tanpa kewenangan untuk mengambil tindakan tersebut. Bukankah, kewenangan itu ada pada polisi, bukan pada Ormas Grib Jaya?

(fb)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *