SAHAM TELKOM TERJUN BEBAS

Oleh: Ruly Achdiat Santabrata

Hari ini saham Telkom nyaris menyentuh batas ARB. Ditutup di level Rp 2.350, anjlok sekitar 32 persen sejak Januari. Tepat di hari pelaksanaan RUPS.

Sebagai mantan karyawan Telkom, saya bingung. Bukan karena tidak mengerti datanya, tapi justru karena saya sangat paham apa yang sedang terjadi di balik angka-angka itu.

KENAPA INI BUKAN SOAL TELKOM

Secara fundamental, Telkom tidak sedang runtuh. Laba bersih 2025 tercatat Rp 17,8 triliun. RUPST hari ini menyetujui pembagian dividen Rp 21,9 triliun. Arus kas internal bahkan menguat. Direktur Utama Dian Siswarini menyatakan dengan tenang di podium tadi: โ€œFundamental tidak ada masalah.โ€

Namun, pasar menjawabnya dengan tekanan jual yang masif hingga mendekati lantai bawah.

Ini bukan kontradiksi tanpa alasan. Pasar tidak pernah membeli fundamental dalam ruang hampa. Pasar membeli kepercayaan pada ekosistem tempat fundamental itu hidup โ€” kepercayaan pada fiskal negara yang sehat, tata kelola institusi yang bisa dipegang, dan kejelasan arah dari pemilik mayoritas.

Ekosistem itulah yang hari ini sedang dipertanyakan.

DANANTARA MENGGENGGAM 52 PERSEN

Pemegang saham pengendali Telkom bukan asing, bukan pula publik. Pemilik mayoritasnya adalah Danantara โ€” superholding investasi negara yang diluncurkan empat belas bulan lalu dengan narasi besar tentang transformasi ekonomi.

Dari kepemilikan itu, Danantara menerima dividen Telkom senilai Rp 10,96 triliun untuk tahun buku lalu. Satu perusahaan. Satu tahun anggaran.

Hari ini, ketika nilai asetnya rontok 14 persen dalam satu sesi perdagangan, di mana peran pemiliknya? RUPST memang menyetujui program buyback saham senilai Rp 4 triliun. Menariknya, dana itu bukan keluar dari kantong Danantara sebagai penyelamat aset, melainkan dari kas internal Telkom sendiri. Telkom dipaksa membeli kembali sahamnya sendiri untuk menjaga harga.

LUBANG YANG TIDAK TERLIHAT

Sejak Maret 2025, alur dividen BUMN diubah. Tidak lagi masuk langsung sebagai PNBP di APBN. Sri Mulyani sendiri sempat memaparkan di DPR bahwa APBN kehilangan potensi penerimaan sekitar Rp 80 triliun, yang setelah mitigasi menyisakan lubang sekitar Rp 40 triliun.

Uang itu dialihkan ke Danantara dengan janji dikelola lebih produktif sebagai sovereign wealth fund. Secara teori, gagasan ini tidak keliru. Temasek dan GIC di Singapura melakukan hal serupa dengan sangat sukses.

Namun, Temasek dan GIC memiliki satu prasyarat mutlak yang belum dipenuhi di sini: akuntabilitas publik yang transparan.

Sesuai ketentuan, laporan kinerja lembaga negara wajib disampaikan paling lambat dua bulan setelah tahun anggaran berakhir. Tahun anggaran 2025 sudah ditutup per 31 Desember, sehingga laporan seharusnya sudah ada di akhir Februari 2026.

Per hari ini, Juni 2026, laporan itu belum juga muncul. Terlambat lebih dari tiga bulan โ€” dan terus berjalan. Pasar modal paling benci kekosongan informasi. Kepercayaan tidak bisa tumbuh di ruang yang gelap.

Sebagian besar orang yang membangun fondasi dan fundamental kuat di Telkom adalah sahabat-sahabat terbaik saya. Kerja keras mereka nyata. Hasilnya nyata.

Tapi fundamental sebuah perusahaan tidak bisa, sendirian, mengangkat agregat masalah fiskal dan tata kelola yang melingkupinya. Telkom bukan gagal. Telkom sedang menanggung beban yang seharusnya bukan miliknya.

Analisis yang lebih mendalam ada di esai lengkapnya:

https://tulis.simei.uk/ketika-barometer-pecah

๐˜ž๐˜ข๐˜ญ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ถ ๐˜ขโ€™๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ด๐˜ฉ๐˜ด๐˜ฉ๐˜ข๐˜ธ๐˜ข๐˜ฃ.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

3 komentar

  1. KEPANIKAN SEMU dibuat oleh MSCI ( Morgan Stanley Capital International) adalah Senjata Rahasia Wall Street : kasus di Yunani (2013), Argentina (2019-2021), Nigeria(2016/2022), Malaysia(1998) (13)

    Belakangan lagi ramai goreng isu “Kiamat Juni-Juli” gara-gara MSCI coret beberapa saham premium spt BBCA dari list indeksnya. Rupiah ditekan, pasar sekunder memerah.

    Apa itu MSCI sebenarnya? mereka sebenarnya cuma jualan angka di atas kertas. Tapi dalam realitas geopolitik, MSCI adalah hulu ledak Washington Consensus. Tugasnya? Menghukum negara-negara yang berani ambil kebijakan mandiri (market defiance) dan menolak “menyembah” modal asing.

    Tiap ada negara yang ogah nurut sama resep pengetatan anggaran ala IMF, atau berani kunci sumber dayanya di dalam negeri, MSCI bakal langsung aktifin mode penalti: menurunkan status (downgrade), mencoret (drop), atau tebar ancaman keluar indeks.
    Berikut jejak digital kekejaman mereka

    1. Tragedi Argentina (2009-2021) Tahun 2009, Argentina lelah didera krisis akibat resep IMF. Mereka bikin aturan ketat biar Devisanya gak dibawa lari spekulan asing. Respon MSCI: Langsung degradasi status Argentina ke Frontier Market. Miliaran Dolar dana asing kabur otomatis out of nothing.

    Pola ini diulang pas 2018. Begitu Argentina pilih Presiden pro-Wall Street, statusnya dinaikkin lagi biar ada euforia kertas. Tapi pas 2019 rakyatnya pilih pemerintahan nasionalis lagi, MSCI langsung tendang Argentina ke kasta terendah (Standalone Market).
    Manipulatif? Banget.

    2. Yunani (2013): Degradasi Negara Maju Pasca-krisis Eropa, rakyat Yunani ngamuk nolak paket penghematan (austerity) ekstrem Troika (IMF dkk) yang bikin miskin struktural.

    Pemerintahnya coba bertahan demi amankan perut rakyat. Respon MSCI: November 2013, Yunani dicatat sejarah sebagai negara maju PERTAMA yang didegradasi jadi Emerging Market.

    Tujuannya jelas, bikin bursa saham Athena kebakaran, jatuhin harga aset premium mereka, dan nakut-nakutin pemerintah Yunani biar cepet-cepet angkat tangan dan tanda tangan kontrak utang baru sama IMF. Teror psikologis lewat layar monitor.

    3. Malaysia (1998): Bung Mahathir vs Gertakan Indeks Ini yang paling mirip trauma ’98 yang lagi digoreng pengamat lokal. Pas krisis Asia, IMF paksa semua mata uang ngambang bebas.
    Indonesia patuh dan hancur lebur. Tapi Mahathir Mohamad pilih market defiance: kunci kurs Ringgit secara sepihak dan larang modal asing kabur.

    MSCI murka dan langsung keluarkan Malaysia total dari indeks Emerging Market akhir ‘1998. Pengamat neoliberal meramal Malaysia bakal kiamat dan runtuh.

    Faktanya? Mahathir gak peduli indeks kertas. Malaysia fokus ke ekonomi riil. Hasilnya mereka keluar krisis jauh lebih cepat TANPA kerusuhan berdarah. Tahun 2000, MSCI jilat ludah sendiri dan masukin Malaysia lagi.

    4. Nigeria (2016 & 2022) Nigeria berkali-kali diancam didepak MSCI tiap kali Bank Sentral mereka coba amankan pasokan Dolar domestik biar mata uang Naira gak ambruk diserang spekulan. Bagi MSCI, negara itu bersalah kalau berani kunci dolarnya di rumah sendiri. Kapitalis asing harus bebas kuras likuiditas.

    Benang Merah Kasus BBCA & Indonesia Hari Ini Tekanan jual pada BBCA murni aturan mekanis portofolio (rule of thumb). Saham dilepas otomatis karena komputer di Manhattan kurangi bobot indeks kita, BUKAN karena fundamental BCA rusak.

    Secara fakta riil, ekonomi kita sangat produktif.
    – Keseimbangan Primer kita tetap surplus Rp 58,6 Triliun.
    – Konsumsi domestik (PPN/PPnBM) melonjak naik 41,3%.
    – Pemerintah sengaja tarik anggaran di depan (front-loading) buat investasi fisik jangka panjang: gizi manusia lewat program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan kedaulatan hulu mineral.

    Tidak terlalu berharga memelihara ketakutan sama fatamorgana digital buatan MSCI. Mereka cuma lagi panik karena sistem utang Dolar AS senilai USD 34 Triliun lagi kejepit di batas bunga 5,5%.
    Selama perut rakyat Indonesia kenyang dan hulu komoditas kita kuasai sendiri, kita aman di “sekoci kedaulatan” kita.

  2. ayo sejoli AF & Anonim, buruan borong itu saham mumpung harga jeblok. tunjukin aksi nyata, mosok ngaku pendukung mbah wo tapi ga mau berbuat nyata? mosok pendukung die hard cuma modal komen hasil copas