Rupiah Tembus Rp 17.000, Ini Kata Purbaya

Nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Selasa (7/4/2026). Mengutip Bloomberg, rupiah di pasar spot melemah 0,38% secara harian ke Rp 17.100 per dolar AS.

Berdasarkan Jisdor Bank Indonesia (BI), rupiah melemah 0,32% secara harian ke Rp 17.092 per dolar AS.

Analis mata uang, Ibrahim Assuaibi, mengatakan pelemahan rupiah karena sentimen eskalasi di Timur Tengah. Gangguan lalu lintas kapal tanker dalam beberapa pekan terakhir telah memperketat ekspektasi pasokan dan meningkatkan premi risiko di seluruh pasar minyak.

Upaya diplomatik untuk meredakan konflik tampaknya goyah. Iran menolak proposal yang didukung AS yang menguraikan gencatan senjata 45 hari dan pembukaan kembali selat secara bertahap, bersamaan dengan negosiasi yang lebih luas tentang pencabutan sanksi dan rekonstruksi.

“Iran menolak proposal tersebut dan menyerukan penghentian permusuhan secara permanen, jaminan yang mengikat terhadap serangan di masa mendatang, pencabutan sanksi, dan kompensasi atas kerusakan,” ujar Ibrahim, Selasa (7/4/2026), dilansir Kontan.co.id.

Ibrahim memproyeksikan rupiah besok (8/4/2026) bergerak fluktuatif, namun ditutup melemah di rentang Rp 17.100 – Rp 17.150 per dolar AS.

Respons Purbaya

Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan, pelemahan nilai tukar rupiah yang saat ini menembus level Rp17.100 per dolar AS masuk dalam hitungan simulasi pemerintah. Dia menyatakan, lonjakan tersebut tidak serta-merta mengganggu postur belanja maupun penerimaan negara karena pemerintah telah menyiapkan berbagai skenario cadangan.

Purbaya mengatakan, dalam penyusunan anggaran, Kementerian Keuangan tidak hanya terpaku pada satu angka asumsi, melainkan telah menaikkan parameter simulasi ke level tertentu untuk mengantisipasi gejolak pasar.

“Saya tekankan dulu ya, angka simulasi itu rupiah-nya bukan rupiah di APBN yang sebelumnya, sudah dinaikkan ke level tertentu, jadi itu masih termasuk dalam itungan skenario,” ucap Purbaya saat berdiskusi bersama media di kantin Kemenkeu, Jakarta, Selasa (7/4/2026), dilansir inews.id.

Meski mengakui adanya tekanan pada mata uang Garuda, Purbaya enggan membeberkan angka pasti asumsi rupiah yang digunakan dalam simulasi terbaru pemerintah guna menghindari spekulasi pasar yang berlebihan.

“Tapi saya nggak bilang Rupiah-nya berapa.. Kalau bilang, ‘oh kata Menteri Keuangan rupiah ke sana’, kamu udah beli Dolar? Jadi kalau Rupiah kita serahkan ke Bank Sentral, ke ahlinya lah. Saya percaya dia bisa betulin,” kata dia.

Hingga saat ini, Bank Indonesia (BI) terpantau belum mengeluarkan pernyataan resmi sejak nilai tukar rupiah melewati ambang psikologis Rp17.000 per Dolar AS.

Di sisi lain, pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi mencatat bahwa tren pelemahan rupiah masih berpotensi berlanjut dalam waktu dekat.

Berdasarkan pantauan pasar, posisi Rupiah telah melampaui angka Rp17.106 dan diprediksi akan menghadapi ujian baru pada perdagangan esok hari.

“Rupiah saat ini sudah tembus 17.106, ada kemungkinan besok 17.120 akan tembus,” ungkap Ibrahim.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

5 komentar

  1. dolar US malah menguat saat perang Iran, kenyataannya memang pasar melihat amerika sangat superior di perang ini, propaganda dan takiyah siah sudah merasuki portal kadal gurun, lihat di kenyataan drun jgn terus2an menipu diri