Rupiah jatuh ke level terendah sepanjang masa di angka 17.500 per Dolar AS

The Spectator Index:

🇮🇩 Indonesia’s rupiah falls to record low of 17,500 per US Dollar.

Rupiah Indonesia jatuh ke level terendah sepanjang masa di angka 17.500 per Dolar AS

Hari ini 12 Mei 2026, nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS telah menyentuh angka psikologis Rp17.500, yang merupakan rekor terlemah sepanjang sejarah.

Pelemahan ini didorong oleh kombinasi ketidakpastian global dan faktor domestik.

Penyebab Utama:

  • Ketegangan di Timur Tengah: Konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran telah memicu lonjakan harga minyak global (Brent), yang membebani neraca perdagangan Indonesia.
  • Permintaan Aset Aman: Investor beralih ke Dolar AS sebagai aset safe haven, menyebabkan indeks Dolar (DXY) terus menguat.
  • Cadangan Devisa: Cadangan devisa Indonesia dilaporkan menurun selama empat bulan berturut-turut hingga April 2026, yang memperlemah “benteng” intervensi Bank Indonesia.

Respons Bank Indonesia (BI)

  • BI melakukan intervensi “triple intervention” di pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), dan pasar obligasi.
  • Suku bunga Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dinaikkan hingga 6,2% untuk menarik aliran modal asing masuk (inflow) guna menstabilkan kurs.

Kondisi di Perbankan

Sejumlah bank besar, seperti BCA dan BNI, terpantau menetapkan kurs jual di atas Rp17.500 per USD untuk transaksi fisik atau bank notes.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

6 komentar

  1. Kayaknya sih gemoy bakalan senasib sm mertuanya … jatuh gegara krisis moneter … kondisi pemerintahannya jg mirip, diisi kroni, keluarga dan para penjilatnya …

    1. @Abi Ahnaf.. mungkin ad beda dikit bang.. dulu zaman mertuanya “ekonomi dunia” emank lg “olenk”.. trus momennya dijadikan utk meminta almarhum Soeharto turun jabatan..
      ☝🏻👇
      klo skarang sperti “efek akumulasi” dari 2 period “kerja ekonomi” pa’wiwi plus klanjutannya pa’wowo.. Indonesi macam “olenk” sendirian..
      🫢🫣

    2. Masalahnya, generasi sekarang sudah ga punya nyali seperti tahun 1998, cuma ditakut- takuti darurat militer sama dibilang “Suara kita sudah di dengar”, “Tuntutan kita sudah didengar” pada bubar jalan, udah itu lupa
      kalo jaman 98, sebelum tuntutan terealisasi, ga ada kata mundur