Sebagai Orang Palestina, Saya Berdiri Bersama Rakyat Iran. Berikut Alasannya…
Oleh: Ghada Ageel
Profesor Ilmu Politik, University of Alberta di Edmonton, Kanada
Simpati terdalam saya tertuju kepada rakyat Iran, yang hatinya tercabik ke berbagai arah. Banyak yang mendambakan kebebasan dan martabat, namun mereka tetap waspada terhadap sejarah panjang intervensi imperial Barat di seluruh dunia, termasuk di negara mereka sendiri.
Rakyat Iran yang turun ke jalan dalam beberapa tahun terakhir tidak menyerukan agar satu bentuk dominasi digantikan oleh dominasi lain. Mereka menuntut diakhirinya penindasan dalam segala bentuk, bukan dimulainya babak baru di bawah kendali Barat. Mereka juga tidak menginginkan perubahan dengan harga berapa pun.
Di setiap langkah, sejarah mengajarkan kita bahwa janji-janji kebebasan yang ditawarkan Barat tidak pernah terpenuhi.
Alasannya sederhana. Kebebasan pihak lain bukanlah bagian dari agenda Barat, terlepas dari retorika publiknya. Imperialisme semacam ini tidak menginginkan kebebasan; ia menginginkan kendali, dominasi, kekuasaan, dan keuntungan.
Pada 4 Maret, ketika bom jatuh di sekelilingnya di Teheran, seorang pembangkang Iran, Mohamad Maljoo, akhirnya berhasil terhubung ke internet. Ia menulis di kanal Telegram-nya:
“Mereka yang mengira bahwa api bisa dihujankan ke tubuh Iran atas nama menyerang Republik Islam, sambil membayangkan rakyat akan tetap tidak terluka, entah tidak memahami realitas perang atau sengaja mengabaikannya. Bom tidak membedakan. Kehancuran tidak bekerja secara selektif.”
Kebenaran dari peringatannya bergema dari Palestina hingga Iran:
“Kehidupan tidak tumbuh di bawah bayang-bayang penindasan. Juga tidak berkembang di bawah reruntuhan bom.”
Sebagai seorang Palestina, saya merasakan rasa sakit dan tekad dalam kata-kata tersebut. Saya tidak bisa tidak merasakan solidaritas.
Kami, rakyat Palestina, mengenal kengerian perang dalam tubuh kami sendiri. Kami memahami getaran akibat ledakan demi ledakan, air mata anak-anak yatim, dan keputusasaan malam-malam tanpa tidur saat api berkobar di mana-mana. Dari Nakba 1948 (malapetaka) hingga kehancuran yang terjadi saat ini, kami telah merasakan penderitaan genosida selama beberapa generasi. Kami melihat gema pengalaman kami dalam penderitaan orang lain.
Perang Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran dimulai dengan sesuatu yang sangat kami kenal: serangan terhadap sekolah.
Menurut UNICEF, rata-rata satu kelas penuh anak-anak terbunuh setiap hari selama dua tahun di Gaza; 432 dari 564 sekolah di wilayah tersebut mengalami “serangan langsung” dari tentara Israel.
Sekolah dasar putri Shajareh Tayyebeh di kota Minab, Iran selatan, juga mengalami “serangan langsung”. Sekitar 170 siswi berusia enam hingga dua belas tahun serta staf tewas akibat dua rudal Tomahawk presisi tinggi buatan Amerika Serikat pada 28 Februari.
Setelah serangan pertama, para guru berusaha melindungi para siswa. Petugas medis bergegas ke lokasi untuk menyelamatkan yang terluka. Lalu, bom kedua jatuh.
Itu adalah serangan “double-tap” — kengerian perang modern yang sangat dikenal oleh warga Gaza. Dirancang untuk membunuh target utama, lalu membunuh lagi mereka yang datang menolong.
Seperti di Gaza, serangan terhadap sekolah putri di Minab bukanlah pengecualian. Dalam tiga minggu terakhir, Israel dan Amerika Serikat menurunkan kematian dan kehancuran di berbagai ruang publik di Iran. Sekolah, rumah sakit, gedung olahraga, stadion, toko, kafe, bazar, dan situs bersejarah telah diserang. Lebih dari 5.000 unit hunian terkena dampak, dan lebih dari 1.900 warga sipil tewas.
Seperti di Gaza, tujuan kumulatifnya bukan hanya kehancuran fisik, tetapi juga penyebaran ketakutan dan teror. Penargetan ruang sipil berfungsi sebagai bentuk perang psikologis — serangan terhadap gagasan tentang keamanan dan normalitas itu sendiri.
Menargetkan infrastruktur sipil bertentangan dengan hukum internasional. Namun, Amerika Serikat dan Israel memandang norma hukum internasional melalui lensa Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, yang berulang kali menyatakan ketidaksukaannya terhadap aturan keterlibatan, menyebutnya “bodoh”.
Kini jelas bahwa Gaza telah menjadi laboratorium bagi Israel — tempat uji coba bagi visi yang ingin diterapkannya di seluruh kawasan.
Beberapa hari lalu, Menteri Keuangan Israel Bezalel Smotrich mengeluarkan peringatan yang mengerikan:
“Dahiyeh [di Beirut selatan] akan terlihat seperti Khan Younis [Gaza].”

Kehancuran Khan Younis — kampung halaman saya — telah menjadi model baru kehancuran yang akan diulang di tempat lain. Di Lebanon, dalam kurun 20 hari, model ini telah menyebabkan pembantaian hampir 1.100 orang, termasuk 120 anak-anak — setara satu kelas penuh setiap tiga hari.
Apa yang kita saksikan di Gaza menjalar ke Lebanon, lalu ke Iran.
Apa tujuan akhirnya? Konsolidasi hegemoni Israel di kawasan. Strateginya tidak selalu berupa penggulingan total rezim Iran, melainkan menghancurkan negara Iran itu sendiri dan secara signifikan mengurangi kapasitasnya untuk memproyeksikan kekuatan. Iran yang dilemahkan atau dihancurkan tidak lagi menjadi penghalang bagi supremasi regional Israel.
Semua ini terjadi dengan dukungan penuh Amerika Serikat. Bulan lalu, Duta Besar AS untuk Israel, Mike Huckabee, menyatakan dukungannya terhadap ekspansi Israel menuju “Israel Raya”.
Kekuatan Barat lainnya juga turut menyetujui, mendukung perang ilegal terhadap Iran, meskipun menolak mengerahkan pasukan, kapal, dan pesawat mereka sendiri.
Dalam puisinya “The Earth Is Closing on Us”, Mahmoud Darwish menulis:
“Ke mana kita harus pergi setelah batas terakhir?
Ke mana burung akan terbang setelah langit terakhir?
Di mana tanaman akan tidur setelah napas udara terakhir?”
Segera, ini bisa menjadi kenyataan bagi seluruh kawasan. Di bawah dominasi Israel yang mutlak dan tanpa batas, kita semua akan merasa seolah tidak ada lagi tempat untuk pergi. Seperti apa kehidupan dalam realitas seperti itu?
Jika Gaza adalah laboratorium, maka kita bisa membayangkan bahwa kawasan ini akan terbakar dalam api selama bertahun-tahun ke depan. Kapan pun Israel menghendaki, ia akan “memangkas rumput” untuk memaksakan kehendaknya atas pemerintahan mana pun dan menekan setiap perlawanan dari rakyat di kawasan.
(Sumber: Al Jazeera)






