
✍️Meilanie Buitenzorgy
Membaca komen-komen biadab para nakes di threads alm Yurizal, gua gak terlalu heran.
“Potong aja kak nadinya nanti juga cepet dpet ruangan”
“Kalo mau pindah cepat, noh ruang jenazah kosong”
“Serangan jantung mas nek pingin cepat”
Maaf beribu maaf ya, tapi para nakes kita emang nggak sedikit yang kualitasnya sampah.
Kenapa? Karena pemerintah kita dari rezim ke rezim emang gak becus merekrut nakes, terutama dokter. Sebelum menyimpulkan buruknya sistem seleksi calon dokter Konoha, coba kita intip kek mana sih negara-negara beradab merekrut calon-calon dokter? Apa cukup dengan saringan akademik doang kayak di Konoha?
Jawabannya: KAGAK CUKUP.
Di Australia, saringan akademik itu baru 1/3 jalan. Lolos saringan akademik yang threshold-nya level otak dewa (minimal ATAR 99.75 untuk univ2 top Australia), pelamar sekolah kedokteran Australia mesti lolos 2 saringan lagi: tes UCAT (University Clinical Aptitute Test)/Casper, dan tes wawancara medis.
Apa yang diuji dalam tes UCAT/Casper? Aspek-aspek non-akademik seperti Kapasitas moral, etika medis, empati, kerjasama tim sampai etika profesional.
Lolos ATAR dan UCAT/Casper, masih harus jabanin lagi tes wawancara medis yang melibatkan 6-8 pos penilaian berbeda. Disini yang dinilai adalah kemampuan komunikasi, penalaran kritis dan kelayakan sebagai calon dokter.
Sistem rekrutmen calon dokter di Inggris dan Amerika juga mirip-mirip seperti itu. Selain tes akademik, ada test personality dan behavioural.
Sampe sini udah gak heran khan, liat komen2 biadab para dokter dan nakes kualitas sampah di threads alm Yurizal? Yup, akar masalahnya adalah: sistem seleksi calon-calon dokter kita emang SAMPAH.
Boro-boro ada tes kapasitas moral, etika, empati, komunikasi, penalaran kritis kayak di negara sebelah, bahkan saringan akademis aja nih, saringan paling basic, nyaris nihil.
Kalau di Australia, lu mesti punya otak dewa untuk lolos saringan awal (akademik) calon dokter (ATAR 99.75 cuy). Nha kalo di Konoha, ga masyalah otak lu cekak, asalkan ortu lu tajir melintir, lu bisa-bisa aja masuk sekolah kedokteran. Ada ratusan sekolah kedokteran se-Konoha yang siap menampung duit ortu tajir lu.
Karena sistem saringannya BOCOR, gak heran kualitas dokter kita sangat BERAGAM. Yang hebat, pinter, bermoral, beretika, tentu banyak. Tapi yang sampah juga BANYAK. Manusia-manusia biadab yang mem-bully alm Yurizal itu itu contoh nyata dokter-nakes sampah.
Nah, udahlah sistem saringan di hulu banget berkualitas SAMPAH, proses pendidikan kedokteran Konoha sendiri pun ada yang berkualitas SAMPAH, yaitu budaya bullying. Kekejaman nakes di media sosial tidak lahir di ruang hampa. Ini erat kaitannya dengan lingkungan pendidikan kedokteran di Indonesia yang terkenal keras dan toksik. Data resmi Kementerian Kesehatan menunjukkan ada lebih dari 1.200 laporan perundungan (bullying) di lingkungan pendidikan kedokteran spesialis (PPDS).
Di Inggris dan AS, kalau ada senior atau dokter konsulen yang ketahuan memaki juniornya—apalagi sampai menyuruh beli nasi kotak atau kerja rodi non-klinis—izin mengajar mereka bisa dicabut, rumah sakitnya bisa kehilangan status sebagai RS pendidikan, dan karier mereka tamat saat itu juga. Mereka punya sistem whistleblowing yang independen dan beneran jalan.
Sedangkan di Konoha gemanah? Bullying dan feodalisme di dunia kedokteran itu dinormalisasi berkedok “pembentukan mental” dan “tradisi”. Junior disuruh jadi babu personal senior, beliin makanan pake duit sendiri, ngerjain tugas pribadi, sampai dapet makian verbal yang mengikis martabat manusia. Alasan klasiknya selalu sama dari zaman kolonial: “Dulu kami digituin juga sama senior, jadi kalian harus ngerasain.” Sebuah rantai setan pembalasan dendam psikologis yang dipelihara subur.
Ketika seorang calon dokter dididik dalam ekosistem yang penuh tekanan mental, senioritas buta, dan perundungan verbal, mental mereka otomatis akan mengeras. Mereka ngalamin yang namanya compassion fatigue—kelelahan empati. Setelah lulus dan bebas dari siksaan, trauma dan hilangnya rasa empati tersebut berpotensi dilimpahkan kembali kepada siapa? Ya kepada pasien seperti alm Yurizal yang posisinya jauh lebih lemah dalam rantai makanan ini.
Kementerian Kesehatan dan Konsil Kedokteran harus berani ngerombak total dari hulu ke hilir. Di hulu, gembok rapat pintu FK dari anak-anak manja nan culas yang cuma modal duit ortu, ganti dengan tes kepribadian (behavioural test) yang menggugurkan.
Di hilir, sikat dan pidanakan para pelaku bullying di rumah sakit pendidikan tanpa pandang bulu.
Kita butuh dokter yang punya stetoskop di leher, sekaligus punya nurani di dalam dadanya. Bukan robot pintar, penghafal ulung, atau anak orang kaya berhati batu yang hobi nge-bully pasien sekarat di media sosial.
Selamat jalan, Mas Yurizal. Semoga kepergianmu jadi tamparan keras yang meruntuhkan keangkuhan menara gading dunia medis kita.







harusnya sih dipecat aja nakes yg g ada empati, g punya adab, g cocok sama kerjaanya yang mulia
Jikalau ini semua harus beres, ganti dulu mentri kesehatannya dulu, lah. Mentri kesehatan harusnya seorang dokter yang paham sluk-bluk manajement rumah sakit, kesehatan masharakat, dan keterjangkauan akses kesehatan, mental pemimpin yang kuat, adab sopan-santun yang baik, dan lainnya silakan ditambah ya…
Tu nakes dokter ngebacot ga pake otak, tg jwb dunia gagal opo maneh tg jwv akhirat, modyaaaaar bangkruuut
Jadi penjilat aja kaya af aris jarus ada saratnya apalagi nakes
Dan MAYORITAS gerombolan SAMPAH itu sekarang ditampung dalam barisan BuzzeRp dan Buzzer relawan TerMul dan TerWo Nusantara!!! 😂🤣😂🤣
kalau sistemnya korup dan inputnya modelan taik mana mungkin berharap dapat output berkualitas