Tulisan bagus dr. Gia Pratama terkait nakes yang membully pasien BPJS


Tulisan dr. Gia Pratama di Threads:

Teman-teman dokter, teman-teman nakes.

Jas putih yang kita kenakan, seragam rumah sakit yang melekat di tubuh kita, sejatinya adalah pakaian penetral emosi.

Saat seragam itu dipakai, kita sedang mengingatkan diri sendiri bahwa segala lelah, kecewa, marah, dan segala tekanan yang kita rasakan, ada tanggung jawab besar untuk tetap bersikap profesional.

Karena selelah-lelahnya menjadi tenaga kesehatan, percayalah, masih lebih melelahkan menjadi pasien.

Sakit itu Tidak Enak. 

Badan terasa asing. Pikiran penuh ketakutan. Waktu berjalan lebih lambat. Bahkan bagi kita yang setiap hari bekerja di rumah sakit, sejujurnya menjadi pasien adalah salah satu hal yang paling kita takuti.

Kita memahami keterbatasan fasilitas. Kita tahu rumitnya sistem rumah sakit dan BPJS. Kita mengerti perpindahan kamar membutuhkan proses. Kita tahu padatnya IGD, rumitnya rawat inap, dan betapa banyak hal harus dikerjakan dalam waktu bersamaan.

Kita tahu semua itu.

Tapi pasien kan enggak.

Pasien hanya melihat keluarganya kesakitan. hanya ingin mengetahui apa yang sedang terjadi, berapa lama harus menunggu, dan apakah ada seseorang yang sungguh peduli kepada mereka.

Sering kali, cukup kata-kata kita,

“Mohon maaf ya, Pak, Bu. Saat ini prosesnya masih berjalan. Kami masih menunggu kamar tersedia. Perkiraannya sekitar satu jam (atau berapapun jam) lagi. Kami akan terus memberi kabar.”

Bagi orang yang sedang takut kejelasan adalah bentuk kasih sayang

Nada suara yang lembut adalah obat pertama. Penjelasan yang apa adanya itu membuat menunggu terasa lebih manusiawi.

Hubungan kita dengan pasien tidak dibangun seperti hubungan atasan dan bawahan. Kita adalah partner. Kita berdiri di sisi yang sama, bahu-membahu melawan penyakit.

Kita mengerjakan bagian kita dengan ilmu, keterampilan, dan hati. Pasien menjalankan bagiannya dengan kepercayaan, keberanian, dan kesabaran.

Keduanya sama-sama berjuang.

Dan ketika perjuangan itu berhasil, ketika seorang pasien sembuh dan akhirnya pulang, kembali memeluk keluarganya, kembali bekerja, kembali menjalani hidupnya, itu perasaan BAHAGIA yang tiada dua.

Itulah salah satu alasan kita memilih jalan ini.

Lalu ketika ada pasien menyampaikan keluhan di media sosial, bahkan ketika nama rumah sakit atau BPJS ikut disebut, mengapa kita harus begitu mudah tersulut?

Mengapa kelelahan kerja harus dituangkan menjadi kata-kata yang kejam dan jahat?  

Lelah dapat dipahami. Marah dapat terjadi. Frustrasi adalah bagian dari hidup.

Namun Merendahkan pasien, Mempermalukan orang yang sedang sakit, atau melontarkan kalimat yang melukai martabat manusia, tidak memiliki pembenaran dari sisi mana pun.

Pasien kan salah satu jalan datangnya rezeki kita.

Allah selalu mengirimkan rezeki melalui tangan manusia. Dan rezeki kita, para tenaga kesehatan, datang melalui manusia yang sedang sakit, takut, rapuh,dan membutuhkan pertolongan.

Maka sesungguhnya pasien adalah ladang karunia kita.

Melalui mereka, ilmu kita memiliki arti. Melalui mereka, tangan kita dapat menolong. Melalui mereka, kesabaran kita dilatih. Melalui mereka pula, terbuka begitu banyak kesempatan untuk mendapatkan pahala.

Jadi ayo kita sayangi pasien-pasien kita.

Bagi kita, mungkin mereka adalah pasien ke empat puluh hari itu.

Namun bagi mereka, hari itu mungkin adalah salah satu hari paling menakutkan dalam hidupnya.

Pertolongan kita harus selalu dimulai dari rasa kemanusiaan.

https://www.threads.com/@giapratamamd/post/DbpAUJwE87f

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

5 komentar

  1. Saya mengucapkan banyak Terima kasih atas dedikasi semua Dokter,Tenaga Medis dan BPJS atas perjuangan dan pekerjaan terhadap pelayanan semua pasien sakit. Banyak Orang mungkin tidak tau lelah fisik dan dan lelah fikiran Nakes utk kesembuhan pasien. Semoga Pelayanan terus terjaga.

  2. dalam bener kata2 dr Gia. sy sekeluarga jg pasien BPJS mandiri. msk UGD dirumah skt swasta yg besar & cukup elit, dari jam9 pg-18 sore baru msk ruang ICU.selama di UGD.dr nya 5, mnt sekali memeriksa keadaan sy, istri menemani sy di UGD. 3,hari di ICU, 3, hari diruang rwt inap kls 3, tapi bgs & nyaman ruangan kls,3,nya
    tapi klau di UGD diberikan perawatan & perhatian sebenarnya oke aja, sambil menunggu ruang kosong. istri sy ketika mau di operasi bedah karena ada benjolan dipayudara menunggu di UGD dari pg- sampai mlm, tapi tetap dpt perawatan, cek darah, ronsen, USG pula. sambil puasa nunggu operasi, di UGD. pasien hanya curhat biasa, di medsos, mungkin reaksi balasan nya berlebihan. selama sy menggunakan BPJS mandiri tdk ada masalah ketika berobat jln & rwt inap.