Pemakaman Terbesar Gaza dan Arti Kemenangan Abdul El-Sayed

✍️Dr. Yasir Qadhi

Hari ini, Gaza mengadakan pemakaman massal terbesar yang pernah ada – lebih dari 112 jenazah yang baru-baru ini ditemukan setelah berbulan-bulan tertimbun reruntuhan dimakamkan.

Dan hari ini, Abdul Rahman El-Sayed (politikus AS anti-genosida) meraih kemenangan penting di Michigan – sebuah kemenangan yang telah mengguncang partai Demokrat dan Republik, dan membentuk kembali percakapan di setiap tingkatan politik Amerika.

Kedua berita ini tidak terlepas satu sama lain. AIPAC (lobi Israel) dan sekutunya menghabiskan $65 juta untuk lawan Abdul, tepatnya karena mereka ingin terus menggunakan pajak kita, senjata kita, dan hak veto kita untuk membiayai genosida mereka terhadap keluarga Palestina. Bayangkan: AIPAC menghabiskan $65 juta (Rp 1 triliun lebih -red) untuk mengamankan satu nominasi di dalam partai Demokrat untuk satu posisi Senat potensial. Dan… mereka kalah.

Bagi banyak pemilih, kampanye ini menjadi lebih dari sekadar satu kandidat. Hasil hari ini, setelah dua tahun terakhir genosida brutal di Gaza, dan setelah puluhan tahun pemerintahan Apartheid rasis mereka, menegaskan kenyataan bahwa Israel dan sekutunya telah kehilangan semua kredibilitas di mata warga Amerika yang bekerja keras dan membayar pajak.

Hasil hari ini mencerminkan meningkatnya tuntutan di antara banyak warga Amerika untuk kebijakan luar negeri yang dibentuk terutama oleh kepentingan, nilai-nilai, dan hati nurani rakyat Amerika.

Ini menjadi pernyataan bahwa tidak ada upaya lobi—baik luar negeri maupun dalam negeri—yang boleh mengalahkan suara warga biasa, dan tidak ada bantuan yang boleh diberikan untuk membunuh warga sipil yang tidak bersalah.

Dukungan seorang kandidat oleh AIPAC kini, akhirnya, dianggap oleh sebagian besar masyarakat sebagai beban, bukan aset.

Martabat, keberanian, dan ketekunan rakyat Gaza dalam menghadapi pendudukan, pembantaian, dan perang telah mengguncang fondasi sebuah lembaga yang mapan yang otoritas moralnya terus terkikis.

Kami menantikan masa depan yang ditandai dengan keadilan, bukan keterlibatan – masa depan di mana negara kita tidak membiayai perang dan kekejaman di luar negeri, melainkan menawarkan layanan yang lebih baik kepada rakyatnya sendiri.

(Dr. Yasir Qadhi adalah seorang cendekiawan, teolog, dan ulama Muslim Amerika terkemuka yang berbasis di Amerika Serikat. Ia dikenal secara global sebagai salah satu tokoh Islam berbahasa Inggris paling berpengaruh dan saat ini menjabat sebagai dekan akademik di The Islamic Seminary of America serta peneliti tetap di East Plano Islamic Center, Texas)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *