✍️محمد شكري Mohammed Shoukry (suara dari Gaza)
Pernyataan yang dikeluarkan oleh lembaga dan serikat keagamaan maupun yang berbasis syariah—ketika didorong oleh agenda politik dan tidak dilandasi keadilan—hanya akan mengikis kredibilitas mereka sendiri; pernyataan-pernyataan tersebut tidak banyak berpengaruh pada jalannya peristiwa dan tidak mengubah keadaan di lapangan. Sebaliknya, hal itu justru menjatuhkan reputasi pembuatnya serta mereka yang menggunakan retorika semacam itu untuk menginjak-injak luka orang lain.
Coba katakan kepada saya: apakah pernyataan Asosiasi Ulama Palestina itu bermoral atau didorong oleh kepentingan pribadi? Jika memang dilandasi moral, di mana kepedulian terhadap darah rakyat Yaman di pihak seberang? Jika bermoral, mengapa pernyataan itu gagal menyebutkan satu pun kesalahan pihak lawan—pihak yang justru melibatkan bantuan Israel? Israel adalah pemain kunci dalam pertempuran melawan Houthi yang sedang berlangsung, namun Anda justru berkata kepada mereka (Houthi), “Perang kalian dengan Israel tidak memberikan kalian kekebalan (untuk dicela/dikritik)”? Sungguh tidak masuk akal! Sementara itu, Anda memberikan kekebalan kepada pihak lain (Saudi cs) tanpa sepatah kata kritik pun—atau bahkan tanpa saran untuk memperbaiki kebijakan mereka terkait perjuangan adil umat ini, terutama mengenai ancaman terhadap Masjid Al-Aqsa dan genosida di Gaza. Di mana iman dan hati nurani Anda dalam semua ini?
Jika tujuannya adalah kepentingan pribadi, kepentingan siapa yang sebenarnya Anda bela? Apakah kepentingan rakyat Anda—yang tidak pernah benar-benar dipedulikan oleh rezim-rezim tersebut hingga mereka terhindar dari genosida dan kekejaman—atau justru kepentingan pribadi Anda sendiri? Katakan pada saya, apa manfaat yang diharapkan? Coba sebutkan sepuluh manfaat nyata dan konkret—di luar sekadar harapan dan janji kosong—yang diperoleh dari pernyataan tersebut, maka saya akan menghentikan kritik dan tuduhan saya. Singkatnya: seorang warga Palestina (yang mengatasnamakan Asosiasi Ulama Palestina) yang lebih mengutamakan kepentingan faksi pihak lain dibandingkan perjuangan universal bangsanya sendiri, tidak layak mendapatkan kepercayaan ataupun hak untuk mewakili rakyat.
***
Saya jarang menulis, meskipun saya berasal dari Gaza—tempat yang tulisan penduduknya biasanya menarik perhatian besar. Namun, sayangnya, saya merasakan adanya semacam pengawasan atau pembatasan yang dikenakan pada suara-suara yang muncul dari Gaza; suara-suara itu diharapkan tetap terbatas pada aspek kemanusiaan saja, tanpa pernah merambah ranah politik, tafsir kritis, ataupun analisis mendalam mengenai realitas dan masa depan dunia Arab serta kaitannya dengan perjuangan Palestina.
Apakah orang-orang mengira bahwa dahsyatnya pengeboman dan besarnya jumlah korban jiwa telah melenyapkan kesadaran atau kemampuan nalar kami untuk memahami kenyataan—kemampuan yang seharusnya memungkinkan kami untuk menulis, menarik kesimpulan, dan mengungkapkan pendapat? Ataukah mereka beranggapan bahwa kebutuhan dan kemelaratan terkadang memaksa kami untuk menutup mata terhadap isu-isu tertentu—karena khawatir bahwa angkat bicara dapat mengancam akses kami terhadap bantuan atau dukungan yang bisa meringankan penderitaan kami? Apakah hal ini mendorong sebagian penulis di sini untuk bersikap lunak, bermain aman, dan menghindari pengambilan sikap yang berisiko mendatangkan kerugian? Benarkah demikian?
Sungguh memalukan keadaan yang telah menanamkan perasaan semacam ini dalam diri kami… sungguh memalukan!
Wassalam 🖐








Ada warga yang bener. Ada warga yang koplak…
kalau di konoha banyak koplaknya daripada benernya
Barangsiapa mati, sedang ia tidak pernah berjihad dan tidak mempunyai keinginan untuk jihad, ia mati dalam satu cabang kemunafikan.” (HR. Muslim No. 1910)
alasan mujahiddi houthi berperang melawan yahudi dan antek yahudi kaum munafik…