Pemimpin Taliban Memberi Teladan

Salah satu ujian terbesar bagi para tokoh, ulama, dan aktivis adalah ketika mereka memperoleh jabatan dan kekuasaan. Tidak sedikit yang gaya hidupnya berubah. Kesederhanaan yang dahulu menjadi ciri perjuangan perlahan memudar, lalu berganti dengan kemewahan dan berbagai fasilitas.

Bagi saya, Afghanistan di bawah Taliban sering dijadikan contoh yang kontras dalam hal ini. Banyak pemimpin dan pejabat mereka yang tetap mempertahankan gaya hidup sederhana sebagaimana sebelum memegang kekuasaan. Mereka berasal dari kalangan ulama dan fuqaha. Sebelum maupun sesudah menjabat, kehidupan mereka relatif tidak banyak berubah: tetap sederhana, bersahaja, dan hidup sebagaimana rakyat kebanyakan. Makanan mereka sederhana, minuman mereka sekadar air putih, dan mereka tidak canggung duduk di atas batu atau langsung di atas tanah bersama masyarakat.

Seorang pemimpin yang gagal menjaga kesederhanaan sesungguhnya sedang gagal menjaga ruh perjuangannya. Tujuan awalnya mungkin untuk memperjuangkan agama dan rakyat. Namun, setelah memperoleh jabatan, yang diperjuangkan justru kepentingan dirinya sendiri. Pola hidup berubah drastis: makanan semakin mewah, pakaian semakin mahal, kendaraan berganti, rumah membesar, bahkan gaya hidup keluarga ikut berubah.

Inilah salah satu sebab mengapa sebagian umat kurang percaya kepada partai-partai yang mengatasnamakan Islam. Mereka berharap melihat teladan, tetapi yang tampak justru gaya hidup yang jauh dari nilai-nilai yang dahulu diperjuangkan. Akibatnya, muncul anggapan bahwa simbol-simbol Islam hanya digunakan untuk meraih simpati politik, bukan untuk diwujudkan dalam kehidupan.

Padahal, kekuatan dakwah tidak hanya terletak pada pidato dan slogan, tetapi juga pada keteladanan. Rakyat lebih mudah percaya kepada pemimpin yang hidup sederhana daripada kepada pemimpin yang pandai berbicara tetapi tenggelam dalam kemewahan.

Karena itu, sebelum berbicara tentang menegakkan Islam di tengah masyarakat, tegakkanlah terlebih dahulu Islam dalam diri sendiri. Sebab, perubahan besar selalu dimulai dari keteladanan, bukan sekadar dari kekuasaan.

(Hafidin Achmad Luthfie)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 komentar

  1. Seorang pemimpin yang gagal menjaga kesederhanaan sesungguhnya sedang gagal menjaga ruh perjuangannya. Tujuan awalnya mungkin untuk memperjuangkan agama dan rakyat. Namun, setelah memperoleh jabatan, yang diperjuangkan justru kepentingan dirinya sendiri, keluarga dan kroni serta cem²an 😍