Mereka Korupsi, dengan Percaya Diri, karena Tahu Presidennya Mabuk Pujian


✍️AS Laksana

Mereka Korupsi, dengan Percaya Diri, karena Tahu Presidennya Mabuk Pujian

Korupsi di proyek MBG dan KDMP, dan juga di tempat-tempat lain, yang dilakukan oleh orang-orang kepercayaan presiden, tampaknya terjadi karena para pelakunya percaya diri dalam melakukan korupsi. Mereka tidak takut sama sekali, sebab mereka tahu bahwa presiden hanya peduli programnya jalan dan tidak mau repot menanyakan bagaimana program itu dijalankan. Yang penting, presiden mendengar bahwa semua program yang dia inisiasi berhasil.

Mereka tahu presiden punya obsesi kronis untuk melihat dirinya hebat, sedang menjalankan missi kenabian, seorang penyelamat bangsa. Dengan kata lain, presiden senang dijilat. Anda bisa melakukan apa saja, mengeruk apa saja, asalkan tahu cara menjilat. Oya, sebuah buku puja-puji sudah terbit dengan judul jelek sekali: Presiden Solusi.

Dengan berfokus pada kemegahan dirinya sendiri (“Banyak pemimpin dari negara lain ingin belajar dari kita”, “Tidak ada dalam sejarah…”), presiden akan cenderung mengabaikan detail proses dan tidak peduli mekanisme pengawasan. Para pembantunya sangat memahami psikologi ini. Mereka tahu bahwa selama mereka bisa menyajikan seremoni peresmian yang wah, foto-foto keberhasilan di lapangan, dan laporan yang melenakan, presiden akan puas dan mereka bisa memanfaatkan program apa pun untuk korupsi dan mark-up.

Mereka hanya perlu memperlihatkan loyalitas yang membabi buta dan mengarang kabar baik terus-menerus. Para pengkritik akan ditangani oleh presiden sendiri dan disuruh mencari negara lain.

Sistem kepemimpinan seperti ini, dengan para pendukung berebut menjilat dan menjarah, dengan mekanisme kontrol sangat lemah karena tidak ada yang berani melaporkan bahwa program-program presiden sedang digerogoti oleh praktek-praktek culas, akan memperlihatkan keburukannya sendiri karena orang-orang di sekitar presiden pada waktunya akan saling sikut.

Kasus-kasus korupsi di program MBG dan KDMP terbongkar bukan karena fungsi pengawasannya ketat dan pertanggungjawabannya transparan. Kasus-kasus itu muncul ke permukaan secara alami, mirip dengan bom waktu yang meledak ketika tiba waktunya. Ada yang mengeruk banyak, ada yang hanya kecipratan sedikit, dan ada yang sakit hati lalu memberikan bocoran ke media massa atau mengomel di podcast. Lalu publik meramaikannya di media sosial.

Kasusnya nanti akan diredam, isunya dialihkan, dan kita kehilangan jejak. Berkali-kali seperti itu, dalam banyak kasus. Kita tidak tahu, misalnya, bagaimana kabar Nanik S. Deyang setelah namanya disebut-sebut oleh Sony Sonjaya, tersangka korupsi di Badan Gizi Nasional, dan ditaruh di tempat teratas dalam deretan orang-orang korup yang ikut menjarah program MBG. Kejaksaan Agung sekali lagi menolak permohonan Sony Sonjaya untuk menjadi ”Justice Collaborator” dalam kasus korupsi di program yang paling disayangi presiden ini.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

5 komentar

  1. ternyata pejabat yg ada dipemerintahan kebanyakan orang rakus, gak tau diri & gak punya malu.
    binatang ternyata lebih mulia dr mereka, sebab oleh tuhan hewan gak diberi pilihan utk menentukan sikap berbuat baik atau buruk karena gak diberi akal.
    sementara manusia diberi kuasa utk menentukan pilihanya dgn diberikanya akal pikiran.
    jadi stop memaki pejabat brengsek menyamakanya dgn hewan, gak selevel !
    tapi sebut aja “daki iblis”.

  2. bingung juga di kabinet ada tokoh2 yg dulu galak seperti: Fahri, Fadli Zon, Yusril, mereka seperti patung mendiamkan program2 wowok yg sarat korupsi. asu tenan