Kim Jong Un Sindir Amerika Jadi Negara yang Sponsori Aksi Agresi dan Terorisme

Pyongyang, 25 Maret 2026 – Pemimpin Tertinggi Korea Utara, Kim Jong Un, kembali melontarkan kritik keras terhadap Amerika Serikat. Dalam pidato resminya di Sidang Pertama Majelis Rakyat Tertinggi (Supreme People’s Assembly) ke-15, Kim menuduh Washington melakukan “tindakan terorisme yang disponsori negara dan agresi” di berbagai belahan dunia.

Pernyataan ini langsung menjadi sorotan media internasional, termasuk CNN, yang menyebutnya sebagai sindiran tajam terhadap pemerintahan Presiden Donald Trump di tengah konflik AS-Israel dengan Iran.

Pidato tersebut disampaikan pada Senin (23 Maret 2026) dan dipublikasikan oleh kantor berita resmi Korea Utara, KCNA, pada hari berikutnya. Meski tidak menyebut nama Trump atau Iran secara langsung, konteksnya jelas merujuk pada operasi militer AS dan sekutunya di Timur Tengah sejak akhir Februari 2026.

“Amerika Serikat kini sedang melakukan tindakan terorisme negara dan agresi,” ujar Kim seperti dikutip KCNA dan dilaporkan CNN.

Lebih lanjut, Kim menegaskan bahwa situasi global saat ini membuktikan keputusan Korea Utara untuk mempertahankan program senjata nuklirnya adalah langkah yang tepat. Ia menolak segala bentuk tekanan maupun “rayuan manis” dari AS untuk meninggalkan arsenal nuklir.

“Status nuklir Korea Utara kini tidak dapat dibalikkan,” tegasnya. Menurut Kim, sikap arogan dan sewenang-wenang Amerika justru gagal melemahkan semangat bangsa-bangsa untuk melawan dominasi dan memperjuangkan kemerdekaan.

Pernyataan ini muncul hanya beberapa hari setelah Kim Jong Un kembali terpilih dengan suara hampir 100 persen dalam pemilu internal Korea Utara. Para analis menilai pidato tersebut sebagai upaya untuk membenarkan pengembangan senjata nuklir dan rudal balistik di tengah meningkatnya ketegangan global.

Konflik di Iran, yang disebut-sebut menyebabkan tewasnya pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, akibat serangan presisi AS-Israel, menjadi semacam “bukti hidup” bagi Kim bahwa kekuatan militer—terutama nuklir—merupakan jaminan utama kelangsungan rezim.

Selama ini, Korea Utara kerap menjadi sasaran kritik internasional atas program nuklirnya yang dianggap melanggar resolusi Dewan Keamanan PBB. Namun, Kim justru membalik narasi tersebut dengan menuding AS sebagai pelaku “state-sponsored terrorism”, istilah yang biasanya digunakan Barat terhadap negara lain seperti Iran atau Korea Utara sendiri.

Retorika keras ini merupakan ciri khas Pyongyang untuk memperkuat citra sebagai korban agresi imperialis.

Di dalam negeri, Kim juga menegaskan kembali sikap permusuhan terhadap Korea Selatan. Ia menyebut Seoul sebagai “negara yang paling memusuhi” dan berjanji akan terus memperkuat kemampuan pertahanan. Dalam beberapa kesempatan, Kim bahkan tampil bersama putrinya, Kim Ju Ae, dalam kegiatan militer seperti uji coba rudal dan latihan tank—memicu spekulasi soal persiapan suksesi kepemimpinan.

Reaksi internasional terhadap pernyataan ini beragam. Hingga berita ini ditulis, pemerintah AS belum memberikan tanggapan resmi. Namun sebelumnya, Gedung Putih menegaskan bahwa program nuklir Korea Utara merupakan ancaman serius bagi keamanan regional dan global. Sementara itu, China dan Rusia cenderung menahan diri dan hanya menyerukan dialog.

Di sisi lain, konflik antara AS dan Iran kini telah memasuki hari ke-26. Serangkaian serangan udara dan operasi militer dilaporkan telah merusak sejumlah fasilitas strategis Iran, meski Teheran masih melakukan perlawanan melalui serangan balasan dan jaringan sekutunya di kawasan.

Presiden Donald Trump juga dikabarkan tengah mengupayakan pertemuan dengan pihak Iran di Pakistan untuk membahas kemungkinan gencatan senjata, meski syarat yang diajukan dinilai cukup berat.

Bagi para pengamat, pidato Kim Jong Un ini bukan hal baru. Korea Utara selama ini kerap memanfaatkan krisis global untuk memperkuat narasi internal bahwa hanya kekuatan nuklir yang dapat melindungi negara dari ancaman eksternal.

Meski demikian, kondisi domestik Korea Utara masih dibayangi tekanan ekonomi akibat sanksi internasional. Krisis pangan dan kekurangan energi tetap menjadi masalah kronis, walaupun rezim berhasil menjaga stabilitas internal melalui kontrol ketat terhadap informasi dan militer.

Di tengah situasi global yang memanas, pernyataan Kim Jong Un semakin memperkeruh ketegangan geopolitik. Jika tekanan terhadap Korea Utara meningkat, bukan tidak mungkin kawasan Semenanjung Korea kembali menjadi titik panas baru dunia.

Kim menutup pidatonya dengan menegaskan komitmen untuk terus memperkuat kekuatan nuklir dan pertahanan negara demi menjaga kedaulatan. Bagi banyak pihak, ini menjadi pengingat bahwa dalam kondisi dunia yang tidak menentu, Korea Utara tetap menjadi aktor yang sulit diprediksi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

4 komentar