Memajukan negara dan menaikkan pendapatan masyarakat konsekuensinya memang merusak hutan, membongkar bumi dan membelah gunung.
Kalau bukan merusak negara sendiri maka yang dirusak itu wilayah negara lain.
Pembeli Nikel, kayu dari hutan dan minyak Sawit itu negara-negara maju loh. Barang yang dikonsumsi 1 orang AS itu setara konsumsi 50 orang Somalia berdasar GDP daya beli per kapita.
Contoh langsungnya adalah Mali, Burkina Faso dan Niger adalah trio negara Sahel yang selama puluhan tahun tetap dihisap Perancis meski sudah merdeka. Disedot sampai habis bahkan hingga ke sum-sumnya. Gabungan ketiganya termasuk penghasil Emas, Uranium, bauksit dan logam lain, terbesar di Afrika. Tapi semuanya disedot oleh perusahaan Perancis. Uangnya dicetak Perancis, kekayaan harus disimpan bank Perancis.
Saat Perancis pamer kemajuan, ketertiban, estetika, dst, Mali yang Emasnya dikeruk ribuan ton, jalan-jalan di ibukota kebanyakan hanya jalan tanah liat merah. Boro-boro jalan aspal.
Ini baru satu negara yaitu Perancis.
Makanya sebagai Muslim standar ideal kesejahteraan umat manusia itu bukan Eropa, Amerika utara atau Jepang.
Karena kalau semua manusia di masa kini ‘semakmur’ rakyat AS dan Jepang kita butuh beberapa bumi lagi.
Paling heran melihat orang-orang anti Islam mengejek orang Yaman, Afghan, Sudan, sebagai terbelakang atau tertinggal, sambil mengejek Islam tertinggal dari AS atau Eropa.
Padahal apa bedanya orang Yaman dan Afghan itu dengan orang Papua yang hidup di kampung sendiri dengan kearifan lokalnya, dengan cara mereka sendiri. Tidak ganggu orang lain dan tidak merusak lingkungan. Salahnya dimana?
Seandainya seluruh penduduk Bumi hidup dengan cara kesederhaan, maka justru bumi makin subur dan cukup buat 100 miliar orang sekalipun. Keserakahan manusia yang menghancurkan bumi dan isinya.
(Pega Aji Sitama)







nampol si af rasis