Karen Armstrong: Muhammad jenius terbesar yang pernah dikenal dalam sejarah

Karen Armstrong berkata:

“Kita tidak pernah membaca bahwa Kristus pernah tertawa, tetapi kita sering menemukan Muhammad tersenyum dan bercanda dengan orang-orang terdekatnya. Kita melihatnya bermain dengan anak-anak, berselisih dengan istri-istrinya, menangis tersedu-sedu atas kematian salah satu sahabatnya, dan dengan bangga memamerkan putra barunya seperti ayah yang penuh kasih sayang. Jika kita dapat memandang Muhammad seperti kita memandang tokoh-tokoh sejarah besar lainnya, kita pasti akan melihatnya sebagai salah satu jenius terbesar yang pernah dikenal dalam sejarah.”

— Karen Armstrong, Nabi Muhammad: Biografi Nabi (1991).

Kutipan dari Karen Armstrong tersebut menyoroti sisi kemanusiaan Nabi Muhammad SAW yang terekam jelas dalam berbagai catatan sejarah dan hadis. Melalui perspektif akademis, ia membandingkan penggambaran tersebut dengan catatan tentang Yesus Kristus untuk menekankan betapa dinamisnya aspek keseharian Nabi Muhammad.

Aspek Kemanusiaan dalam Catatan Sejarah

Poin-poin utama yang diangkat oleh Armstrong mencerminkan kepribadian Nabi Muhammad dalam kehidupan sehari-hari:

  • Suka Tersenyum dan Bercanda: Sahabat Nabi, Jarir bin Abdullah, meriwayatkan bahwa beliau tidak pernah melihat Nabi kecuali dalam keadaan tersenyum. Beliau juga kerap bercanda tanpa keluar dari koridor kebenaran.
  • Kedekatan dengan Anak-Anak: Nabi sering menggendong cucu-cucunya, Hasan dan Husain, saat shalat, serta memperbolehkan mereka bermain di punggungnya saat bersujud.
  • Dinamika Rumah Tangga: Catatan sejarah menunjukkan interaksi yang jujur, penuh kasih, dan manusiawi antara Nabi dengan para istrinya, termasuk saat terjadi perbedaan pendapat yang diselesaikan dengan bijaksana.
  • Ekspresi Emosi yang Mendalam: Ketika putra beliau, Ibrahim, atau sahabat karibnya wafat, Nabi Muhammad menangis secara terbuka, menunjukkan rasa duka yang mendalam sebagai manusia biasa.

Muhammad sebagai Tokoh Sejarah

Armstrong, sebagai seorang pakar mufasir agama-agama besar, mengajak pembaca Barat untuk melepaskan prasangka dahulu. Jika dinilai dari sudut pandang sejarah murni, keberhasilan beliau dalam menyatukan suku-suku Arab yang terpecah belah menjadi satu bangsa yang kokoh dalam waktu singkat merupakan sebuah pencapaian yang luar biasa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

3 komentar