Ini lelucon apa lagi? 

Ini lelucon apa lagi? Kalau Dadan Hindayana dicopot, saya kira pantas. Dia tidak bekerja dengan baik.

Namun, saya tidak menyalahkan Dadan. Dia harus menjalankan operasi yang sangat besar dan kompleks. Operasi macam ini seharusnya membutuhkan persiapan yang matang — dengan desain kelembagaan yang kuat.

Anda bisa bayangkan sebuah progam dengan jangkauan lebih dari 80 juta orang, dirancang hanya dalam waktu beberapa bulan, dikerjakan secara tergesa-gesa. Hanya untuk memberikan “quick win” kepada presiden yang diabdinya.

Dan kemudian pilihan presiden kepada Dadan. Mengapa Dadan? Mengapa tidak memilih seorang CEO yang punya pengalaman mengurusi operasi-operasi besar, tahu persis supply chain, dan tahu persis dimana letak bottle neck dan kecurangan akan dimainkan?

Dadan hanya seorang akademisi. Dia bukan seorang operator dan pemain lapangan. Dan, apakah amburadulnya BGN itu bukan salah Dadan? Ya jelas salah dia. Ketika menerima tanggung jawab yang bukan kompetensinya — dan orang-orang sejenis banyak sekali di pemerintahan ini — itu saja sudah salah.

Akan tetapi, sekali lagi, ini tidak melulu salah Dadan. Ini adalah salah presiden yang menunjuknya. Dan, presiden ini memang tampaknya tidak peduli dengan kompetensi. Yang penting untuk dia adalah loyalitas dan taat pada perintah.

Nah, bagaimana kita menilai penggantinya, Nanik S. Deyang? Saya sakit perut hingga kebelet ngising ketika mendengar ini. Pertanyaan pertama saya, apa kompetensi Nanik Deyang?

Bukan, ini sama sekali bukan bertujuan merendahkan. Untuk saya, ini soal tanggung jawab. Ini adalah orang yang akan mengelola dana terbesar dalam APBN kita. Dia akan mempengaruhi ekonomi — dari atas hingga ke ekonomi rakyat. Dia akan mempengaruhi rantai pasok bahan kebutuhan pokok.

Sekali lagi, apa kompetensi Nanik Deyang? Bahkan dia sebagai Wakil Kepala BGN saja sudah salah. Dia memulai karirnya sebagai wartawan sebuah tabloid yang namanya hampir tidak pernah terdengar. Satu-satunya yang saya tahu dari Nanik Deyang adalah kenyinyiran dia di media sosial dalam membela Prabowo.

Iya, satu-satunya kompetensi yang dia miliki adalah membela junjungannya. Masih ingat insiden Ratna Sarumpaet? Nanik Deyang termasuk yang pertama keluar dengan narasi Ratna Sarumpaet dianiaya orang karena sikap politiknya yang pro Prabowo? Dan ternyata? Ratna Sarumpaet mukanya babak belur karena sedang operasi plastik (oplas).

Masih ingat? Masih ingat? Dan sekarang orang ini akan memimpin BGN yang mengelola ratusan triliun duit pajak yang Anda bayarkan?

Kalau berita CNN ini benar maka ini bukan soal kompetensi. Ini soal loyalitas. Soal “siap, pak … siap, pak”

Saya terus terang sudah sangat pesimis dengan program MBG ini. Pesimisme ini diperkuat lagi oleh BGN, yang operasinya sekarang dipegang oleh seorang influencer.

Di dalam militer, kalau menyitir Napoleon Bonaparte, “tidak ada prajurit yang buruk, yang ada hanya perwira/jendral yang jelek.” Jadi kalau program MBG yang boros ini gagal maka salahkanlah jendralnya.

Seorang influencer yang mahir dan nyinyir membela junjungan di media sosial akan menjalankan operasi terbesar yang didanai oleh pajak rakyat Indonesia!

Mama mia! Belum pernah saya melihat negeri ini dikelola seamburadul ini!

(Made Supriatma)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 komentar

  1. pakar serangga disuruh pegang badan gizi aja udah konyol. mestinya kasih dia peternakan maggot atau ulat sutera, baru cocok