GALANG RAMBU ANARKI, HARGA BBM MELAMBUNG TINGGI

✍️Triwibowo Budi Santoso

Indonesia pernah merasakan kenaikan BBM terberat, sampai 60% pada 4 Januari 1982, pada masa pemerintah Orde Baru di bawah Presiden Soeharto. Harga Premium (bensin) naik dari sebelumnya sekitar Rp 150 menjadi Rp 240 per liter, harga Solar menjadi Rp 85 per liter.

Kenaikan ini diputuskan melalui Keppres No. 1 Tahun 1982 tanggal 3 Januari 1982 dan langsung memicu efek domino: harga barang kebutuhan pokok naik, tarif angkutan melambung, dan inflasi meroket. Masyarakat kecil merasakan beban berat, karena BBM saat itu sangat memengaruhi biaya transportasi dan produksi. Pemerintah sendiri mengakui ini sebagai “kenyataan pahit”, dan Soeharto bahkan meminta maaf dua kali saat menyampaikan RAPBN.

Kenaikan ini terjadi hanya empat bulan sebelum Pemilu 1982 (5 Mei 1982). Meski demikian, Golkar tetap menang telak dengan 64,3% suara, berkat struktur kekuasaan Orde Baru yang kuat (ABRI, birokrasi, dan Golkar).

Tiga hari sebelum kenaikan BBM, istrinya Iwan Fals melahirkan anak tepat pada 1 Januari 1982. Iwan lalu menciptakan salah satu lagu ikoniknya yang memadukan kebahagiaan pribadi dengan rasa keprihatinan dan kesedihannya melihat dampak dari kenaikan BBM itu. Lagu ini termuat dalam album Opini (1982), dengan judul nama anaknya, Galang Rambu Anarki.

“Galang rambu anarki anakku
Lahir awal januari menjelang pemilu
Tangisan pertamamu ditandai bbm
Membumbung tinggi

Maafkan kedua orangtuamu
Kalau tak mampu beli susu
Bbm naik tinggi
Susu tak terbeli
Orang pintar tarik subsidi
Mungkin bayi kurang gizi

Cepatlah besar matahariku
Hantamlah sombongnya dunia buah hatiku
Doa kami di nadimu..”

Lagu ini seperti surat untuk anaknya: campuran antara doa dan harapan agar Galang tumbuh menjadi pribadi yang kuat di tengah situasi “anarki” (kekacauan atau ketidakberesan) ekonomi dan politik. Itulah kenapa lagu ini terasa sangat kuat dan masih relevan sampai sekarang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

4 komentar

  1. “orde baru” yg terus2an dipoles negatif ama “orde2 slanjutnya” aj masi punya etik (adab) saat trjadi knaikan harga.. “pejabat presiden” saat itu ampe 2x mngutarakan maaf..
    ☝🏻👇
    pejabat skarang.. tiba2 tengah malem naek harga.. sama dgn pejabat sblmnya.. etik etik n&@$**..
    ✌🏻😅
    yg dulu klo didemo suka “ngilang”..
    yg skarang klo dikritik suka “nyinyir”..
    rupanya bneran “keberlanjutan” y guys..
    ✌🏻🤭

  2. Suka atau tidak suka, di jaman pak harto lah indonesia aman, damai dan sentosa, sebelum dan Setelah era pak harto, indonesia makin hancur