Yang Kelaparan Saat MBG Dihentikan

MBG dihentikan sementara.

Anak-anak sekolah tampak biasa saja. Tidak pingsan. Tidak ngamuk. Tidak demo membawa piring. Tidak menulis surat terbuka kepada negara: “Pak, nasi saya mana?”

Mereka tentram. Asyik bermain.

Yang mulai gelisah justru bukan perut kecil di kelas, tapi dapur besar di belakang program. Pemilik SPPG tantrum. Kalkulatornya mungkin lebih lapar daripada murid. Kompor belum tentu menyala, tapi tagihan, cicilan, kontrak, dan harapan keuntungan sudah lebih dulu mendidih.

Maka pertanyaannya jadi lucu, sekaligus pahit: sebenarnya siapa yang kelaparan?

Anak sekolah lapar nasi, itu bisa dimengerti. Tapi ada juga yang lapar proyek. Lapar anggaran. Lapar jatah. Lapar agar program jangan berhenti, bukan karena anak-anak akan pingsan, tapi karena aliran rezeki bisa tersendat di tikungan.

Negara kadang memang pandai membuat makanan. Tapi lebih pandai membuat orang berebut dapur.

Anak-anak hanya ingin belajar dengan tenang. Yang ribut mungkin bukan yang lapar makan.

Tapi yang lapar bagian.

~Dwysa~

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

4 komentar

  1. Begitulah kalau diurus yang bahkan 10+6=17…………….PT. DI bisa maju, PT. PAL bisa bikin kapal selam karena di urus oleh manusia-manusia yang tidak makan dari MBG.

  2. Dan si Aris Wijayantolol/af/ANONim (Akal Nol, Otak miNim gerombolan TerMul dan TerWo BabRun, Jaringan ANak CUcu Keturunan (JANCUK) PKI pun KELAPARAN. Lapar cari cuan dg cara menjadi buzzer amatiran yg gak naik² kelasnya karena kualitas komennya tidak didukung oleh kualitas otak dan akalnya‼️😝🤣😜😂

  3. JIAHAHAHA…Eleh…eleh…Itu anak kecil siap yg mau dengerin…🤣🤣🤣 Tapi artinya dia banyak duit juga, ya, bisa bangun SPPG milyaran, mungkin jual sapi, kebo dan tanah warisan bapaknya…🤣🤣🤣