Dahulu warga Palestina dan wilayah Syam lainnya bisa pergi haji langsung ke Madinah menggunakan kereta api. Jalur legendaris ini dikenal dengan nama Jalur Kereta Api Hijaz (Hejaz Railway).
Kereta api ini merupakan mahakarya yang dibangun pada masa Kekhalifahan Utsmaniyah (Ottoman) di bawah instruksi Sultan Abdul Hamid II dan resmi beroperasi pada tahun 1908.

Berikut adalah fakta menarik di balik jalur kereta bersejarah tersebut:
- Rute Perjalanan: Jalur utama kereta ini membentang dari Istanbul (Turki), melewati Damaskus (Suriah), Amman (Yordania), dan berakhir di Madinah (Arab Saudi). Warga Palestina biasanya naik dari stasiun penghubung di wilayah mereka (seperti Haifa atau Tulkarm) yang tersambung langsung ke jalur utama di Damaskus atau Amman.
- Memangkas Waktu Secara Drastis: Sebelum ada kereta ini, perjalanan haji dari Damaskus ke Madinah menggunakan unta memakan waktu sekitar 40 hari dengan medan gurun yang berat. Setelah kereta beroperasi, waktu tempuh terpangkas menjadi hanya 4 hari.
- Tujuan Pembangunan: Sultan Abdul Hamid II membangunnya khusus untuk memudahkan perjalanan jemaah haji ke tanah suci, melindungi mereka dari serangan di gurun, serta memperkuat ikatan politik dan militer di wilayah kekhalifahan.
Sayangnya, jalur kereta api historis ini tidak bertahan lama. Jalur ini rusak berat akibat pengeboman selama Perang Dunia I (sekitar tahun 1916) dan pemberontakan Arab, sehingga operasinya terhenti dan tidak pernah pulih sepenuhnya sampai sekarang.
Menghidupkan Kembali Hejaz Railway
Pada tanggal 9 Juni 2026, Turki dan Arab Saudi menandatangani nota kesepahaman untuk memulihkan jalur kereta api bersejarah Hijaz.
Kesepakatan tersebut menyusul perjanjian transportasi trilateral yang ditandatangani oleh Turki, Suriah, dan Yordania pada bulan April, setelah ketiga negara mencapai kesepakatan awal pada bulan September untuk menghidupkan kembali jalur tersebut.
“Terlepas dari pertimbangan politik dan ekonomi apa pun, menghidupkan kembali jalur kereta api Hijaz akan memberikan dorongan psikologis bagi umat Islam di seluruh dunia, karena hal itu membangkitkan kembali proyek bersejarah yang dilaksanakan di tengah kesulitan luar biasa pada awal abad ke-20 di bawah Kesultanan Utsmaniyah,” ujar Ufuk Gulsoy, seorang sejarawan Turki yang menulis buku tentang pembangunan dan sejarah jalur kereta api tersebut, kepada TRT World.
Berikut adalah poin-poin penting mengenai proyek revitalisasi Hejaz Railway:
1. Perjanjian Strategis dan Rute Baru
- Kerja Sama Regional: Pada Juni 2026, Turki dan Arab Saudi menandatangani nota kesepahaman (MoU) perkeretaapian untuk memajukan proyek ini. Sebelumnya, kesepakatan serupa juga telah dibicarakan dengan pihak Suriah dan Yordania.
- Rute Istanbul–Jeddah: Rencana modern ini akan menghubungkan Jeddah langsung ke Istanbul. Kereta akan melintasi Makkah, Madinah, kemudian mengarah ke utara melewati Yordania dan Suriah, hingga terhubung ke jaringan kereta Eropa melalui Istanbul.
- Ekstensi ke Oman: Menteri Transportasi dan Infrastruktur Turki, Abdulkadir Uraloglu, menyatakan bahwa tahap awal akan menghubungkan Turki ke Aleppo (Suriah) menggunakan jaringan yang ada. Target jangka panjang proyek ini bahkan akan diperpanjang hingga ke Oman.
2. Tujuan dan Nilai Strategis
- Jalur Logistik Alternatif: Proyek ini bertujuan menciptakan rute dagang global baru yang menghubungkan kawasan Teluk langsung ke Eropa. Jalur darat ini diproyeksikan menjadi alternatif strategis guna menghindari ketergantungan pada jalur laut rawan seperti Selat Hormuz.
- Pariwisata dan Religi: Selain untuk transit logistik modern, rute ini akan dihidupkan kembali sebagai daya tarik pariwisata sejarah dan mempermudah akses transportasi bagi jemaah umrah maupun haji.
- Implikasi Geopolitik: Langkah mengejutkan dari aliansi regional ini juga dinilai para analis sebagai upaya menciptakan konektivitas utara-selatan di Timur Tengah yang sepenuhnya melewati atau tidak bergantung pada jalur rancangan Israel.
3. Tantangan Nyata yang Dihadapi
Meski ambisinya sangat besar, proyek ini masih berada dalam tahap studi kelayakan. Beberapa tantangan besar yang membayangi realisasinya meliputi:
- Hambatan Keamanan: Jalur ini harus melewati Suriah, wilayah yang kondisi politik dan keamanannya belum sepenuhnya stabil pasca-konflik berkepanjangan.
- Pendanaan Fantastis: Mengingat skala mega proyek yang melintasi beberapa negara dan kondisi geografis gurun, proyek ini membutuhkan skema pendanaan serta investasi yang sangat besar.
- Standardisasi Rel: Infrastruktur lama sisa Ottoman menggunakan rel berukuran sempit (narrow gauge), sehingga modernisasi total memerlukan pembangunan rel standar internasional baru agar bisa menampung kereta logistik dan penumpang cepat.








itu pada zaman kekhilafahan, ini sebagai bukti ketika umat masih bersatu dalam sat aturan islam tanpa sekat nasionalisme, keberkahan akan datang dari langit dan bumi.
masih kalah sm whoos- nya si Jokibul
jarak deket tapi bangun ka cepat 😂😂