Board of Piece dilepeh Eropa
Tadi lewat tulisan yang bilang bergabung ke Board of Piece besutan Trump sebagai langkah diplomatis penting untuk mengimbangi kepentingan IsraeI bla bla bla….
Padahal Board of Piece ini dianggap ormas tak jelas dan tanpa masa depan oleh negara-negara Eropa yang merupakan sekutu Amerika.
Tak ada nama Inggris, Jerman, Prancis, Kanada, Australia, Spanyol, Italia dan Belanda, yang merupakan pilar dari istilah Barat itu sendiri. Kekuatan besar ekonomi Asia seperti China, Jepang, Korea Selatan, bahkan cuek terhadap undangan bergabung Trump.
Bagi banyak negara tak ada alasan strategis buat bergabung ormas ini, kecuali misalnya Turki dan Qatar yang ingin menancapkan pengaruh di Gaza.
Agar ormasnya orbit, Trump memang menggunakan masalah Gaza sebagai proyek pertama yang akan dikelola oleh Board of Peace (BoP).
Gaza adalah isu besar. Bisa dibilang jadi pusat perhatian dunia, uang juga bakal banyak. Jika BoP sukses dengan agendanya, daya tawar ormas ini akan naik, bahkan diharapkan secara perlahan mengalahkan pengaruh PBB. Dengan dalih: BoP bisa, sedangkan PBB tidak bisa (tumpul).
Menggarap Gaza bukan perkara gampang, Amerika tak mau terjun sendiri. Makanya harus melibatkan negara lain, yang kira-kira tidak mengalami resistensi sebesar Amerika.
Adapun membership berbayar 1 miliar Dollar (Rp 16,8 Triliun) sebetulnya adalah jebakan biar para anggota tidak gampang keluar jika nantinya BoP tidak berkembang, atau Trump keburu pensiun 3 tahun lagi, sementara kebijakan pemerintah baru AS berubah.
Sudah terlanjur bayar gitu loh. Mau tidak mau harus ikut jalan. Jika BoP eksis, secara otomatis anak, menantu, keponakan dan cucu Trump bisa memiliki pengaruh di dunia meski sang kakek bukan lagi presiden AS.
Lalu apa rencana Trump di Gaza?
Intinya mirip dengan yang pernah dilakukan Amerika di Afghanistan, yaitu mengganti pemerintahan dengan pemerintahan baru. Membentuk pasukan keamanan baru yang akan menggantikan peran Hamas. Tapi belum ada atau tidak ada agenda pembentukan negara Palestina.
Setelah terbentuknya pemerintahan baru yang tidak agresif terhadap IsraeI dan di bawah kendali BoP, diharapkan IsraeI setuju untuk mundur sepenuhnya dari Gaza dan rekonstruksi bisa mulai berjalan sesuai dengan planning yang dibikin menantu Trump.
Gaza akan dibangun jadi kota internasional, terdengar muluk-muluk memang. Mau berhasil atau tidak itu bukan hal penting, yang pasti ada proyek senilai puluhan miliar Dollar. Ditambah seluruh dunia yang mau bantu Gaza harus lewat BoP, bukan lagi PBB.
Ganjalan rencana tersebut adalah mekanisme pembentukan pemerintahan yang tidak jelas dan bagaimana cara melucuti senjata Hamas secara persuasif. Juga bagaimana mencegah orang-orang Hamas tidak menyusup dalam pemerintahan Gaza yang dibikin BoP. Solusi yang harus dipikirkan semua member BoP.
Nah biar ormasnya makin terkenal, kakek Trump mungkin akan memperluas lahan garapan. Misalnya mencoba menyelesaikan perang Ukraina, jika itu berhasil di bawah kerangka BoP ya makin kuat pengaruh sang lansia setelah pensiun nanti lha wong dia ketua seumur hidup.
(Pega Aji Sitama)







Komentar