Baca berita ini rasanya kayak dengerin orang yang lagi mabuk kecubung

Belum kelar pusing mikirin sapi halusinasi, eh muncul lagi wacana baru yang gak kalah halu. Koperasi Desa Merah Putih alias KDMP katanya diproyeksi bisa ngasih untung bersih 1,4 miliar rupiah per tahun untuk tiap desa.

Baca beritanya itu rasanya kayak dengerin teman yang lagi mabuk kecubung cerita mau beli bitcoin pakai uang monopoli. Akhirnya ketahuan ini yang ngasih ide halu ke pak presiden, nyomot dana desa sekian pasti akan ngasih return ke desa 2x lipat pertahun.

Coba kita waras-warasan sebentar. Untung bersih 1,4 miliar setahun itu artinya sebulan harus nyetak laba seratusan juta lebih. Belum biaya operasional, gaji pegawai, SHU angota dan pengurus,

Kalau margin labanya diasumsikan cuma delapan persen, semua omzet kotornya harus nyentuh lima puluh juta sehari.

Lhadalah, 50 juta sehari di satu desa itu mau jualan apa? Jualan tanah bonus sertifikat?

Mereka ini mikirnya daya beli warga desa itu kayak sultan tukang parkir yang tiap ada motor mau keluar dari toko langsung dapat dua ribu?

Padahal boro-boro buat belanja heboh tiap hari, perputaran uang warga desa itu seringnya musiman, nunggu panen kelar atau nunggu kiriman anak yang merantau di kota.

Di atas kertas, omzet ritel nasional ratusan triliun terus dibagi rata ke puluhan ribu desa itu kelihatan gampang banget. Kayak main game SimCity, tinggal klik, drag, dan tiba-tiba bangunan berdiri ngasilin koin emas.

Tapi realitanya di lapangan? Nah, ini dia plot twistnya. Musuh utama dari program ini sebenarnya BUKAN minimarket waralaba sebelah yang raknya selalu rapi itu. Musuh utamanya justru isi kepala yang bikin kebijakan itu sendiri.

Tampaknya yang nganalisa dan bikin proyeksi angka ini murni tipe pejabat kantoran yang seumur hidupnya belum pernah ngerasain pahitnya buka usaha sungguhan.

Mereka nggak tahu rasanya barang numpuk di gudang sampai kedaluwarsa, atau mulesnya muter otak bayar gaji karyawan pas omzet lagi sepi-sepinya.

Nanti deh, coba tunggu pas mereka udah pensiun terus iseng-iseng buka usaha warung kopi atau toko kelontong pakai uang pesangon. Baru kerasa kalau ternyata program dan omongan manis mereka selama ini murni bullshit semua.

Menjalankan bisnis itu beda jauh sama bikin grup WA karyawan yang pesertanya tinggal di-add paksa lalu disuruh kasih jempol kalau adminnya ngomong.

Ujung-ujungnya, narasi untung miliaran semacam ini cuma jadi nina bobo buat masyarakat bawah. Kita itu butuh pemimpin dan pembuat kebijakan yang kakinya napak ke bumi, yang ngerti detail perputaran duit receh di warung tetangga.

Membangun ekonomi desa itu bukan soal seberapa banyak gerai beton yang bisa kamu bangun pakai dana top-down, tapi seberapa paham kamu sama napas kehidupan warganya.

Karena kalau cuma modal hitungan di atas awan, yang untung ya paling cuma yang bikin gedungnya, sementara desanya tetap aja jalan di tempat sambil gigit jari.

(Bambang Prasodjo)

sumber: fb

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

4 komentar

  1. saya dan teman2 mengelola koperasi konsumen di tengah kota. Saat ini boro2 omzet 50 juta bisa dapat 30 juta sudah syukur Alhamdulillah

  2. jika mobil dan motor listriknya rusak sdh pasti akan cepat jd besi tua…karna bengkel & seperpart nya belum ada..tentu disayangkan karna pengadaan 2 kendaraan itu habis trilyunan rupiah

  3. Kayaknya bisa sih kalau cuma mencetak untung 1,4 M per tahun , apalagi kopdes nya terletak diatas gunung yg ramai JIN nya. Nanti yg pada belanja di koperasi KONGLOMERAT JIN. 🤣🤣🤣🤣🤣