Reza Pahlevi Dilempari Saos Tomat di Berlin

Seorang demonstran Iran melemparkan saos tomat ke arah Reza Pahlevi, putra mahkota Iran yang diasingkan dan anak dari Shah Iran terakhir, saat ia keluar dari gedung Federal Press Conference Center di Berlin, Jerman, pada Kamis (23 April 2026).

Insiden ini terjadi hanya beberapa saat setelah Reza Pahlevi menggelar konferensi pers di mana ia kembali mengkritik keras pemerintahan Iran serta menyerukan intervensi asing dan perubahan rezim di negaranya. Ia juga mengecam gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran, sikap yang banyak dipandang sebagai provokasi terhadap kedaulatan Republik Islam Iran.

Menurut saksi dan video yang beredar, Reza Pahlevi sedang berjalan di trotoar bersama tim keamanannya ketika seorang pria dari belakang mendekat dan menyiramkan cairan merah ke punggung serta lehernya. Cairan tersebut langsung membasahi blazer dan kulitnya. Tim keamanan segera menahan pelaku, sementara Reza Pahlevi dibawa masuk ke mobil tanpa mengalami luka fisik.

Polisi Jerman langsung menangkap pelaku, seorang warga Iran yang disebut-sebut sebagai aktivis. Banyak pihak di kalangan pendukung Iran melihat aksi ini sebagai bentuk penolakan spontan terhadap upaya Reza Pahlevi yang dianggap ingin mengembalikan sistem monarki dan menjadi boneka kekuatan asing.

Reza Pahlevi, yang tinggal di pengasingan selama puluhan tahun, sering mengklaim dirinya sebagai pemimpin oposisi Iran. Namun, di mata banyak rakyat Iran, ia mewakili simbol kekuasaan lama yang korup dan pro-Barat yang pernah ditumbangkan oleh Revolusi Islam 1979. Kunjungannya ke Berlin ini pun dikritik karena dianggap memanfaatkan situasi geopolitik untuk memprovokasi konflik lebih lanjut.

Aksi lempar saos tomat ini menjadi sorotan karena mencerminkan kemarahan sebagian masyarakat Iran terhadap figur-figur pengkhianat yang kerap meminta bantuan negara asing untuk menggulingkan pemerintahan sah di Tehran. Sementara itu, Reza Pahlevi dan pendukungnya berusaha memutarbalikkan narasi dengan menyebut insiden ini sebagai “serangan”.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

2 komentar