DUBAI: Dari kota yang biasanya penuh lampu gemerlap dan turis selfie yang lalu-lalang di depan Burj Khalifa, kini yang lewat hanya angin gurun yang panas

Negeri yang terbentuk dari kumpulan kecamatan ini sekarang mulai merasakan dampak perang yang lebih kuat. Pak camat UEA mungkin sedang syulit untuk bobok manis, karena kota-kota di UEA yang dulu ramai sebelum perang kini terancam menjadi kuburan mewah jika perang tak usai-usai.

Sejak perang AS-Israel melawan Iran meletus akhir Februari 2026, gelombang dampak ekonomi langsung menyapu kota impian di Teluk itu. Hotel-hotel ikonik yang biasanya penuh sesak kini seperti rumah kosong. Tingkat okupansi anjlok drastis dari rata-rata 80-85% menjadi hanya 15-25 persen, bahkan di bawah 10% di beberapa tempat.

Ribuan booking langsung dibatalkan. Beberapa hotel besar terpaksa tutup sementara atau “renovasi mendadak”. Burj Al Arab, simbol kebanggaan Dubai, bahkan ditutup total selama 18 bulan dan ini pertama kalinya sejak dibuka tahun 1999. Hotel lain seperti St. Regis The Palm dan Radisson Blu Media City juga ikut mengurangi operasional.

Pak camat UEA sebenere tak tinggal diam. Mereka kucurkan paket bantuan senilai AED 1 miliar (sekitar Rp 4,3 triliun) berupa penundaan pembayaran dan stimulus untuk menyelamatkan industri perhotelan. Tapi tetap saja, itu ngga ngataasi. Banyak karyawan kena PHK atau pemotongan gaji. Sekarang hotel-hotel berlomba kasih diskon gila-gilaan dan tawarkan paket staycation khusus buat warga lokal biar tetap hidup.

Bukan cuma pariwisata yang kena getahnya. Pelabuhan Jebel Ali, yang menyumbang hampir 36% GDP Dubai, ikut terganggu. Kapal-kapal memutar rute jauh, waktu pengiriman molor sampai dua bulan, dan biaya pengiriman naik tiga kali lipat. Bandara Dubai, salah satu hub tersibuk di dunia, sempat ditutup sementara karena ancaman rudal dan drone. Ribuan penerbangan batal, dan gangguan masih terasa sampai sekarang.

Di pasar keuangan, saham Dubai (DFM) kehilangan nilai hingga US$120 miliar sejak perang dimulai. Indeks turun sekitar 16%. Banyak ekspatriat kaya dan investor mulai angkat kaki ke tempat yang dianggap lebih aman. Citra Dubai sebagai “safe haven” di Timur Tengah mulai goyah.

Secara keseluruhan, ekonomi UEA termasuk Dubai terpukul cukup keras. Lembaga seperti UN dan Oxford Economics memperkirakan kerugian negara Arab itu bisa mencapai US$120-194 miliar.

Sekarang, meski ada ceasefire/gencatan senjata sementara, suasana di Dubai masih tegang. Wisatawan belum berani datang massal, dan pelaku bisnis berusaha bertahan sambil menunggu situasi benar-benar tenang. Dari kota yang biasanya penuh lampu gemerlap dan turis selfie yang lalu-lalang di depan Burj Khalifa, kini yang lewat hanya angin gurun yang panas.

Dubai selama bertahun-tahun berusaha keras branding diri sebagai “Switzerland of the Middle East”: netral, aman, welcome semua orang, dari miliarder Barat sampai sheikh Timur Tengah. Tapi begitu rudal Iran beterbangan, tiba-tiba para camat itu baru ngeh kalau letak geografisnya cuma 100-an kilometer dari Selat Hormuz, atau jarak antar UEA dengan negeri yang dibenci pak camat, yakni Iran, hanya setara dengan jarak Jakarta-Semarang. Rudal balistik Iran jelas gampang banget sampai UEA, ga sampai satu jam juga nyampe.

Ketika konflik masih fase awal, pak camat bilang, “Tenang bro, kami netral. Kami cuma mau duit dari semua pihak. Barat boleh, Arab boleh, Iran juga boleh asal bayar mahal,” Namun di balik itu, kebijakan pak camat untuk “tidak ikut-ikutan perang” ternyata cuma slogan.

Realitanya, mereka mencla-mencle. Di satu sisi ya ingin segera selesai perangnya dengan pura-pura sok netral supaya ga diserang , tapi di sisi lain diam-diam ingin menghabisi lran dengan bantu Amerika dan israel. Tentu saja pihak lran tahu akal-akalan pak camat itu. Makanya Iran dengan cuek tetep merudal beberapa lokasi di UEA yang dipakai basis AS.

Ada seorang analis yang lambene rada gacor pernah mengatakan, “Dubai terlalu asyik jadi pelacur geopolitik, melayani semua orang supaya duit mengalir, sampai lupa kalau di tengah perang besar, tidak punya posisi tegas itu sama saja bunuh diri pelan-pelan.”

Dubai ini contoh bagus dari negara level kecamatan yang terlalu percaya diri dengan kekuatan duit. Mereka bangun segala macam kemewahan, bayari preman buat satpam, sambil berharap perang di RW tetangga nggak akan mengganggu bisnis. Mereka lupa bahwa preman yang mereka bayar itu ga peduli ama kesejahteraan pak camat. Ini seperti law of attraction. Karena terlalu ngandelin dui, ia pun menarik pihak yang rakus duit macam Paman Sam, apalagi bosnya si pedopil ndas oren itu kemaruknya juga ga kira-kira kalo soal duit. Cocoklah.

-Triwibowo Budi Santoso-

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

2 komentar