Ali Larijani “Kennedy-nya Iran”

Siapa Ali Larijani, Kepala Keamanan-Filosof Iran yang Gugur Dibunuh Israel?

Ali Larijani, yang dipandang sebagai seorang pragmatis, muncul sebagai salah satu tokoh paling berpengaruh di Iran setelah terbunuhnya Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei.

Ali Larijani, yang menjadi salah satu figur paling kuat di Iran setelah kematian Khamenei, telah gugur, dalam rilis resmi pemerintah.

Pengumuman Iran pada Selasa (17/3/2026) malam itu muncul beberapa jam setelah Menteri Pertahanan Israel Israel Katz mengatakan bahwa Larijani (67) tewas dalam serangan semalam di tengah perang AS-Israel melawan Iran.

Secara terpisah, Brigadir Jenderal Gholamreza Soleimani, kepala pasukan paramiliter Basij Iran, juga gugur dalam serangan tersebut, menurut media pemerintah Iran.

Larijani, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, terakhir terlihat di depan publik pada Jumat (13/3/2026) saat pawai Hari al-Quds Sedunia di ibu kota, Teheran.

Ia merupakan pejabat Iran dengan posisi tertinggi yang gugur oleh Israel sejak Khamenei, yang terbunuh pada hari pertama perang, 28 Februari.

Sosok pragmatis yang berubah keras

Selama beberapa dekade, Larijani dikenal sebagai wajah tenang dan pragmatis dari elite Iran—seorang yang menulis buku tentang filsuf Jerman abad ke-18 Immanuel Kant dan terlibat dalam negosiasi nuklir dengan Barat.

Namun pada 1 Maret, nada bicaranya berubah drastis.

Muncul di televisi pemerintah hanya 24 jam setelah serangan udara AS-Israel menewaskan Khamenei dan komandan Garda Revolusi Mohammad Pakpour, Larijani menyampaikan pesan keras:

“Amerika dan rezim Zionis [Israel] telah membakar hati bangsa Iran… Kami akan membuat mereka menyesal,” tulisnya di media sosial.

Larijani, yang sebelumnya menuduh Presiden AS Donald Trump terjebak dalam “perangkap Israel”, berada di pusat respons sistem pemerintahan Iran terhadap krisis terbesar sejak 1979.

Ia memainkan peran penting bersama dewan transisi tiga orang yang menjalankan Iran setelah kematian Khamenei.

“Kennedy-nya Iran”

Lahir pada 3 Juni 1958 di Najaf, Irak, dari keluarga kaya asal Amol, Larijani berasal dari dinasti politik berpengaruh yang pada 2009 disebut majalah TIME sebagai “Kennedy-nya Iran”.

Ayahnya, Mirza Hashem Amoli, adalah ulama terkemuka. Saudara-saudaranya juga memegang posisi penting di Iran, termasuk di peradilan dan Majelis Ahli—lembaga yang memilih pemimpin tertinggi.

Ia juga memiliki hubungan dekat dengan elite revolusi Iran pasca-1979. Pada usia 20 tahun, ia menikah dengan Farideh Motahari, putri dari Morteza Motahhari, tokoh dekat pendiri Republik Islam Iran, Ruhollah Khomeini.

Filsuf sekaligus politisi

Berbeda dengan banyak tokoh Iran lainnya yang berasal dari latar belakang keagamaan, Larijani juga memiliki pendidikan sekuler.

Ia meraih gelar sarjana Matematika dan Ilmu Komputer dari Universitas Teknologi Sharif, lalu melanjutkan magister dan doktor dalam filsafat Barat di Universitas Teheran dengan tesis tentang Immanuel Kant.

Namun, karier politiknya menjadi pusat pengaruhnya.

Setelah Revolusi 1979, ia bergabung dengan Garda Revolusi (IRGC) pada awal 1980-an, kemudian masuk pemerintahan sebagai Menteri Kebudayaan di era Presiden Akbar Hashemi Rafsanjani (1994–1997), dan kepala penyiaran negara (IRIB) hingga 2004.

Pada periode 2008–2020, ia menjabat sebagai Ketua Parlemen Iran (Majlis) selama tiga periode, memainkan peran besar dalam kebijakan domestik dan luar negeri.

Peran dalam isu nuklir dan politik

Larijani mencalonkan diri sebagai presiden pada 2005 tetapi gagal. Di tahun yang sama, ia diangkat sebagai Sekretaris Dewan Keamanan Nasional dan kepala perunding nuklir Iran.

Ia mundur pada 2007 karena perbedaan dengan Presiden Mahmoud Ahmadinejad terkait kebijakan nuklir.

Sebagai ketua parlemen, ia membantu meloloskan kesepakatan nuklir 2015 (JCPOA) antara Iran dan kekuatan dunia.

Namun, upayanya mencalonkan diri lagi sebagai presiden pada 2021 dan 2024 digagalkan oleh Dewan Penjaga, yang menurut analis membuka jalan bagi tokoh garis keras Ebrahim Raisi.

Ia kembali berpengaruh pada Agustus 2025 ketika Presiden Masoud Pezeshkian menunjuknya kembali sebagai Sekretaris Dewan Keamanan Nasional.

Dari diplomasi ke konfrontasi

Meski dikenal pragmatis dan pernah mendukung kesepakatan nuklir 2015, sikap Larijani mengeras dalam beberapa bulan terakhir.

Pada 2025, ia bahkan membatalkan kerja sama dengan Badan Energi Atom Internasional (IAEA), menyebut laporan mereka “tidak lagi efektif”.

Sebelum eskalasi perang, ia dilaporkan terlibat dalam negosiasi tidak langsung dengan AS melalui mediasi Oman, dan menyebut jalur diplomasi sebagai “rasional”.

Namun setelah serangan AS-Israel, peluang diplomasi runtuh.

Ia menegaskan Iran tidak akan bernegosiasi dengan Washington, dan memperingatkan bahwa pasukan AS akan ditangkap atau dibunuh jika memasuki Iran.

Warisan dan dampak kematiannya

Larijani dianggap sebagai penghubung penting antara aparat keamanan, militer, dan elite politik Iran.

Menurut analis, kematiannya merupakan kehilangan besar yang akan memengaruhi pengambilan keputusan strategis negara.

Meski struktur politik dan militer Iran tetap berjalan, mencari pengganti dengan pengaruh seperti Larijani tidak akan mudah.

Ia dianggap sebagai salah satu tokoh kunci—tidak hanya dalam mengelola perang, tetapi juga dalam menjaga kemungkinan de-eskalasi di tengah situasi yang sangat sensitif.

(Sumber: Al Jazeera)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 komentar