Rasulullah ﷺ bersabda,
اسْمَعُوا، هَلْ سَمِعْتُمْ أَنَّهُ سَيَكُونُ بَعْدِي أُمَرَاءُ؟ فَمَنْ دَخَلَ عَلَيْهِمْ فَصَدَّقَهُمْ بِكَذِبِهِمْ وَأَعَانَهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ فَلَيْسَ مِنِّي وَلَسْتُ مِنْهُ وَلَيْسَ بِوَارِدٍ عَلَيَّ الحَوْضَ،َ
“Dengarkanlah, apakah kalian telah mendengar bahwa sepeninggalku akan ada para pemimpin? Siapa yang masuk kepada mereka, lalu membenarkan kedustaan mereka, dan menyokong kezaliman mereka, maka dia bukan golonganku, aku juga bukan golongannya. Dia juga tak akan menemuiku di telaga.” (HR. Tirmidzi, AN-Nasai, dan Al-Hakim)
Hadis di atas sahih, diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (2259), An-Nasa’i (4208), Ahmad (18151). Disahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi. Dan lafaz di atas adalah lafaz At-Tirmidzi.
TAAT KEPADA PEMIMPIN ITU BUKAN TAAT BUTA
لا طَاعَةَ لِمَخْلُوقٍ فِي مَعْصِيَةِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ
“Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Allah Azza wa Jalla.”
[Diriwayatkan oleh Ahmad (1041), dan hadits ini shahih]







Hadits plg atas itu berlaku utk pemimpin negeri Muslim yg berlaku hukum Islam. Karena kalo diberlakukan di negeri kafir, maka bisa celaka. Hadits di bawah itu berlaku utk semua Muslim di seluruh negeri baik yg memberlakukan hukum Islam atau bukan. Apalagi negeri demokrasi atau liberal spt Indonesia, yg mana demonstrasi dan mengemukakan pendapat di muka umum dijamim UU. Begitu sih kalo mau berfikir terbuka …
lha kan gue gak milih dia … cara milihnya pun indikasi curang.. curang .. curang .. trus harus taat buta getoo … helooo… lu aja kalee
Pemimpin DZHOLIM adalah ADZAB ALLOH untuk RAKYATnya
Allah Ta’ala berfirman,
وَكَذَلِكَ نُوَلِّي بَعْضَ الظَّالِمِينَ بَعْضًا بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
“Dan demikianlah kami jadikan sebagian orang yang zalim sebagai pemimpin bagi sebagian yang lain disebabkan amal yang mereka lakukan.” (Qs Al An’am: 129)
Fakhruddin Ar Razi mengatakan,
“Jika rakyat ingin terbebas dari penguasa yang zalim maka hendaklah mereka meninggalkan kezaliman yang mereka lakukan.”
[Tafsir At Tahrir wat Tanwir karya Ibnu Asyur 8/74 cetakan Dar Tunisiah 1984]
Ali al-Qâri mengatakan, “Dikatakan, maknanya adalah jika mereka baik niscaya Allâh Azza wa Jalla akan memberikan kekuasaan kepada orang baik,
jika mereka jahat niscaya Allâh akan memberikan kekuasan kepada orang jahat dari kalangan mereka, sebagaimana ungkapan
“Perbuatan kalian adalah pemimpin kalian”
juga “Sebagaimana keadaan kalian, begitulah keadaan pemimpin kalian.” [Faidhul Qadîr (1/265)]
Pemimpin DZHOLIM adalah ADZAB ALLOH untuk RAKYATnya
Allah Ta’ala berfirman,
وَكَذَلِكَ نُوَلِّي بَعْضَ الظَّالِمِينَ بَعْضًا بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
“Dan demikianlah kami jadikan sebagian orang yang zalim sebagai pemimpin bagi sebagian yang lain disebabkan amal yang mereka lakukan.” (Qs Al An’am: 129)
Fakhruddin Ar Razi mengatakan,
“Jika rakyat ingin terbebas dari penguasa yang zalim maka hendaklah mereka meninggalkan kezaliman yang mereka lakukan.”
[Tafsir At Tahrir wat Tanwir karya Ibnu Asyur 8/74 cetakan Dar Tunisiah 1984]
Ali al-Qâri mengatakan, “Dikatakan, maknanya adalah jika mereka baik niscaya Allâh Azza wa Jalla akan memberikan kekuasaan kepada orang baik,
jika mereka jahat niscaya Allâh akan memberikan kekuasan kepada orang jahat dari kalangan mereka, sebagaimana ungkapan
“Perbuatan kalian adalah pemimpin kalian”
juga “Sebagaimana keadaan kalian, begitulah keadaan pemimpin kalian.” [Faidhul Qadîr (1/265)]
PEMIMPIN BAIK atau Buruk Maka Ta’ati !!!
Dari Hudzaifah Radhiyallahu anhu bahwasanya Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
يَكُونُ بَعْدِي أَئِمَّةٌ لَا يَهْتَدُونَ بِهُدَايَ، وَلَا يَسْتَنُّونَ بِسُنَّتِي، وَسَيَقُوْمُ فِيْهِمْ رِجَالٌ قُلُوبُهُمْ قُلُوبُ الشَّيَاطِينِ فِي جُثْمِانِ إِنْسِ قَالَ : قُلْتُ: كَيْفَ أَصْنَعُ – يَارَسُوْلَ اللهِ- إِنْ أَدْرَكَنِي ذَلِكَ؟ قَالَ: «تَسْمَعُ وَتُطِيعُ لِلْأَمِيرِ ، وَإِنْ ضَرَبَ ظَهْرَكَ، وَأَخَذَ مَالَكَ، فَاسْمَعْ وَأَطِع
Nanti setelahku, akan ada pemimpin-pemimpin yang tidak mengambil petunjuk dari petunjukku dan tidak pula melaksanakan sunnahku. Nanti akan ada di tengah-tengah mereka orang-orang yang berhati setan berbadan manusia.
” Aku berkata, “Wahai Rasûlullâh, apa yang harus aku lakukan jika aku mendapatkan zaman seperti itu?”
Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dengarlah dan ta’atlah kepada pemimpinmu, walaupun mereka menyiksa punggungmu dan mengambil hartamu.Tetaplah mendengar dan ta’at kepada mereka.”
Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-:
إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ بَعْدِي أَثَرَةً وَأُمُورًا تُنْكِرُونَهَا. قَالُوا: فَمَا تَأْمُرُنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ :أَدُّوا إِلَيْهِمْ حَقَّهُمْ، وَسَلُوا اللَّهَ حَقَّكُمْ
“Sesunggunya sepeninggalku kalian akan melihat atsarah (egoisme pemimpin yang mementingkan diri sendiri) dan perkara-perkara yang kalian ingkari.”
قَالَ: تَسْمَعُ وَتُطِيعُ لِلأَمِيرِ وَإِنْ ضُرِبَ ظَهْرُكَ، وَأُخِذَ مَالُكَ؛ فَاسْمَعْ وَأَطِعْ
Sabda Nabi Saw : “Akan ada setelahku: para imam (pemimpin) yang tidak mengambil petunjuk dariku, dan tidak mengambil Sunnahku. Dan akan ada sekelompok lelaki di antara mereka yang hati mereka adalah hati setan dalam tubuh manusia.”
فَقَالَ: إِنَّكُمْ سَتَلْقَوْنَ بَعْدِى أَثَرَةً، فَاصْبِرُوا حَتَّى تَلْقَوْنِي عَلَى الْحَوْضِ
Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:
“Sesungguhnya kalian akan melihat pemimpin yang hanya mementingkan diri sendiri, bersabarlah! Sampai kalian bertemu denganku di telaga!”
[HR. Al-Bukhari (no. 6648), Muslim (no. 4885), dan At- Tirmidzi (no. 2189)]
Menyikapi PEMIMPIN HASIL Pengangkatan Yang Menyelishi SUNNAH?
Imam Ahmad bin Hanbal -rahimahullaah- menjelaskan siapa yang berhak untuk dikatakan amirul mukminin (pemimpin kaum mukminin) yang harus ditaati, beliau -rahimahullaah- berkata dalam “USHUULUS SUNNAH”:
وَمَنْ وَلِـيَ الْـخِلَافَـةَ وَاجْتَمَعَ الـنَّاسُ عَلَـيْـهِ وَرَضُـوْا بِـهِ، وَمَنْ عَلِـيَهُمْ بِالسَّيْفِ حَتَّى صَارَ خَلِيْفَـةً، وَسُـمِّيَ أَمِـيْرَ الْمُؤْمِــنِـيْـنَ
“(Juga mendengar dan ta’at kepada) siapa saja yang meraih kekhilafahan (kepemimpinan) dan manusia berkumpul (sepakat) dan rela atasnya. Dan (demikian juga) orang yang menguasai mereka dengan pedang (kekerasan) sehingga menjadi khalifah (pemimpin) dan dia dinamakan amirul mukminin (maka dia juga harus dita’ati).
“JALAN UNTUK TERBEBAS (DARI KEZHALIMAN PENGUASA) BUKANLAH SEPERTI YANG DISANGKA OLEH SEBAGIAN ORANG; YAITU: REVOLUSI DENGAN MENGANGKAT SENJATA MELAWAN PENGUASA MELALUI KUDETA MILITER. HAL ITU -SELAIN MERUPAKAN BID’AH ZAMAN SEKARANG-; JUGA MENYELISIHI DALIL-DALIL SYAR’I.”
[Syarh Wa Ta’liiq ‘Alaa Al-‘Aqiidah Ath-Thahaawiyyah (hlm.69-cet. Al-Maktab Al-Islaami)]
Akan tetapi, apabila ada seseorang yang berhasil menjadi pemimpin dengan jalan kekerasan tersebut; maka kewajiban kita adalah mentaatinya.
Inilah yang dimaksudkan oleh Imam Ahmad dalam perkataan beliau diatas. Hal ini karena melihat sebuah kaidah besar dalam syari’at; yaitu: kaidah memperhatikan maslahat (kebaikan) dan mafsadat (kerusakan). Dimana ketidakta’atan kepada pemimipin semacam ini akan menimbulkan kerusakan yang banyak ditengah-tengah umat.
Dari sini kita mengetahui dua permasalahan penting yang berkaitan dengan kehidupan kita pada zaman sekarang.