Apes nih negeri

@RidNgemil:

Bocah tua tengil. Fisiknya aja yg tua bangka, mentalnya masih bocah. Isi pidatonya gak ada yg mutu. Selain mengulang narasi heroisme atas program2 yg penting jalan, yg selalu dia banggakan. Plus, ekspresi nyinyir utk mereka2 yg kritis thd kebijakan2 yg dia buat. Apes nih negeri.

اَللّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُبِكَ مِنْ إِمَارةِ الصِّبْيَانِ وَالسُّفَهَاءِ

“Ya Allah, sungguh kami berlindung kepada-Mu dari pemimpin yang kekanak-kanakan dan dari pemimpin yang bodoh.” (HR. Bukhari dalam Adabul Mufrad).

[VIDEO]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

11 komentar

  1. Woowo luh kan udah bau tanah sedikit lagi lu modar dikubur dibawah tanah dimakan kalajengking cacing tanah sampe jasad luh penuh blatung ditanya malaikat mungkar nakir mbok ya sadar

  2. Ngapain minta tlg ma wowo?
    Dia aja ngeblangsak dan ngeblangsakin orang lain.

  3. sdh hilang momentum mu wok…
    sayang bgt…
    wakil mu si bocil senyam- senyum tuh
    siap nikam dr belakang, dia udah keliling Indon

  4. ALLAH Akan Menghinakan Orang Yang MENGHINAKAN Pemimpin Negaranya

    Imam At-Tirmidzi meriwayatkan [dalam “Sunan”-nya (no. 2224)], dari Ziyad bin Kusaib Al-‘Adawi, dia berkata:

    Saya bersama Abu Bakrah di bawah mimbar Ibnu ‘Amir -dia sedang berkhutbah dengan memakai pakaian tipis-.

    Maka Abu Bilal berkata: Lihat pemimpin kita ini ! Dia memakai pakaian orang-orang fasik !!

    Maka Abu Bakrah berkata : Diamlah! Saya mendengar
    Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

    مَنْ أَهَانَ سُلْطَانَ اللهِ فِي الأَرْضِ؛ أَهَانَهُ اللهُ

    “Barangsiapa yang menghinakan Sulthan (yang dijadikan pemimpin oleh) Allah di muka bumi; maka Allah akan menghinakannya.”…
    Ibnu Abi ‘Ashim meriwayatkan [dalam “As-Sunnah” (II/488)]

    dari Anas bin Malik, dia berkata:

    Para pembesar kami dari kalangan Shahabat Rasulullah
    -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- melarang kami dengan berkata:

    لاَ تَسُبُّوْا أُمَرَاءَكُمْ، وَلاَ تَغُشُّوْهُمْ، وَلاَ تُبْغِضُوْهُمْ، وَاتَّقُوْا اللهَ، وَاصْبِرُوْا؛ فَإِنَّ الأَمْرَ قَرِيْبٌ

    “Janganlah kalian mencela para pemimpin kalian! Janganlah menipu mereka! Dan janganlah membenci mereka! Bertakwalah kepada Allah dan bersabarlah; karena perkaranya dekat.”

    Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam “Ats-Tsiqaat” [V/314-315] dan Ibnu ‘Abdil Barr dalam “At-Tamhiid” [XXI/287]

  5. LARANGAN MENCELA PEMIMPIN

    dari Anas bin Malik -radhiyallaahu ‘anhu- berkata:

    كَانَ الأَكَابِرُ مِنْ أَصْحَابِ رَسُوْلِ اللهِ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- يَنْهَوْنَنَا عَنْ سَبِّ الأُمَرَاءِ

    “Dahulu para pembesar Shahabat Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- melarang kami dari mencela para pemimpin.”

    Dan atsar ini telah diriwayatkan oleh Al-Hafizh Abul Qashim Al-Ashbahani -yang dijuluki Qiwamus Sunnah- dalam kitabnya “At-Targhiib Wat Tarhiib” [III/68] dan dalam kitabnya “Al-Hujjah Fii Bayaanil Mahajjah Wa Syarhi ‘Aqiidati Ahlis Sunnah (II/406)

    dari Anas bin Malik -radhiyallaahu ‘anhu-, dia berkata:

    نَهَانَا كُبَرَاؤُنَا مِنْ أَصْحَابِ رَسُوْلِ اللهِ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-: أَنْ لاَ تَسُبُّوْا أُمَرَاءَكُمْ، وَلاَ تَغُشُّوْهُمْ، وَلاَ تَعْصُوْهُمْ، وَاتَّقُوْا اللهَ -عَزَّ وَجَلَّ-، وَاصْبِرُوْا؛ فَإِنَّ الأَمْرَ قَرِيْبٌ

    “Para pembesar kami dari kalangan Shahabat Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- melarang kami dengan berkata:

    “Janganlah kalian mencela para pemimpin kalian! Janganlah menipu mereka! Dan janganlah durhaka kepada mereka! Bertakwalah kepada Allah -‘Azza Wa Jalla-, dan bersabarlah; karena perkaranya dekat.”…

    Sebagaimana Imam Al-Baihaqi juga meriwayatkan atsar ini dalam kitabnya “Al-Jami’ Lisyu’abil Iimaan” [XIII/186-202]…dengan lafazh:

    أَمَرَنَا أَكَابِرَنَا مِنْ أَصْحَابِ مُحَمَّدٍ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-: أَنْ لاَ نَسُبَّ أُمَرَاءَنَا…

    “Para pembesar kami dari kalangan Shahabat Muhammad -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- memerintahkan kami agar kami tidak mencela para pemimpin kami…”

    Maka dalam atsar ini terdapat kesepakatan para pembesar Shahabat Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- atas haramnya mencela dan mencaci para umara’ (pemimpin/penguasa).

    celaan kepada mereka akan mengantarkan kita kepada meninggalkan keta’atan kepada mereka dalam hal yang ma’ruf, dan juga akan mengantarkan kepada provokasi di dalam hati umat untuk melawan mereka; yang hal ini jelas akan membuka pintu kekacauan yang hanya mengakibatkan kejelekan yang menyebar bagi manusia.

    Sebagaimana ujung dari celaan terhadap penguasa adalah memberontak dan memerangi mereka. Dan ini jelas merupakan kerusakan yang besar dan musibah yang agung.

    dalil-dalil syari’at dan apa yang para Shahabat Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- berada di atasnya: adalah lebih agung di dalam hatinya dibandingkan semangat dan emosi -yang pada hakikatnya itu adalah wahyu dari Syaithan dan merupakan semburan kebid’ahan;

    dimana tidak akan tunduk kepada hal-hal tersebut (wahyu setan dan kebid’ahan) kecuali Ahlul Ahwa (Ahlul Bid’ah) yang tidak ada pengagungan terhadap dalil syari’at di dalam dada mereka, bahkan seolah keadaan mereka mengatakan: Sungguh, dalil-dalil dalam masalah ini tidak mencukupi.

  6. Pemimpin DZHOLIM adalah ADZAB ALLOH untuk RAKYATnya

    Allah Ta’ala berfirman,

    وَكَذَلِكَ نُوَلِّي بَعْضَ الظَّالِمِينَ بَعْضًا بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

    “Dan demikianlah kami jadikan sebagian orang yang zalim sebagai pemimpin bagi sebagian yang lain disebabkan amal yang mereka lakukan.” (Qs Al An’am: 129)

    Fakhruddin Ar Razi mengatakan,

    “Jika rakyat ingin terbebas dari penguasa yang zalim maka hendaklah mereka meninggalkan kezaliman yang mereka lakukan.”

    [Tafsir At Tahrir wat Tanwir karya Ibnu Asyur 8/74 cetakan Dar Tunisiah 1984]

    Ali al-Qâri mengatakan, “Dikatakan, maknanya adalah jika mereka baik niscaya Allâh Azza wa Jalla akan memberikan kekuasaan kepada orang baik,

    jika mereka jahat niscaya Allâh akan memberikan kekuasan kepada orang jahat dari kalangan mereka, sebagaimana ungkapan
    “Perbuatan kalian adalah pemimpin kalian”

    juga “Sebagaimana keadaan kalian, begitulah keadaan pemimpin kalian.” [Faidhul Qadîr (1/265)]

  7. @abu…dalilmu sangat tendensius…apa yg cocok buat junjunganmu lu ambil tp yg gk cocok buat junjunganmu lu buang
    pemimpin yg sholeh dan adil pada rakyatnya otomatis akan dicintai rakyatnya…tp sebaliknya…pemimpin yg dholim pada rakyatnya pasti akan dicaci dan dibenci oleh rakyatnya
    kesabaran rakyat menghadapi pemimpin nya yg dholim itu juga ada batasnya