Presiden RI ke-8 Prabowo Subianto sempat tergelincir lidah saat berpidato di rapat paripurna Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) pada Rabu, 20 Mei 2026. Presiden salah menyebut bahwa gaji guru naik hampir 300 persen meski akhirnya ia ralat bahwa yang gaji naik hampir 300 persen adalah hakim.
Awalnya Prabowo menyampaikan bahwa negara yang ingin maju harus memiliki pemerintah dan birokrasi yang kuat.
“Tidak ada negara maju kalau pemerintahannya lemah, birokrasinya lemah. Tidak ada negara maju kalau tidak ada kepastian hukum,” kata Prabowo dalam pidatonya dengan suara tegas.
“Karena itu pemerintah saya telah menaikkan gaji-gaji guru, ada yang sampai hampir 300 persen naiknya, penghasilan guru-guru,” lanjutnya.
“Eeee hakim-hakim kita, maaf, hakim,” koreksi Prabowo.
Setelah itu Prabowo sempat terdiam sejenak sebelum melanjutkan pidatonya yang berapi-api itu 🔥🔥🔥
[VIDEO]







macam teguran langsung utk yg brpidato skalian ama yg dengerin pidato..
🫣✌🏻
Pemimpin adalah Cerminan dari Rakyat, Sadarlah !
كَمَا تَكُوْنُوْنَ يُوَلَّى عَلَيْكُمْ
“Bagaimanapun keadaan kalian (rakyat), maka begitulah keadaan pemimpin kalian.”
+ Hobby Membully
Sumsub merilis laporan Global Fraud Index 2025 yang menempatkan Indonesia di posisi kedua sebagai negara paling rentan terhadap penipuan di dunia dengan skor 6,53 dari 10.
Data ini menunjukkan masyarakat masih cukup rentan terhadap berbagai modus penipuan digital, mulai dari investasi bodong, pencurian data pribadi, hingga penipuan online lainnya.
Tingginya angka tersebut jadi pengingat bahwa literasi digital dan kewaspadaan masyarakat masih perlu ditingkatkan. Penting untuk lebih hati-hati, tidak mudah percaya, dan selalu memeriksa informasi sebelum bertindak.
Sumber: Global Fraud Index 2025 oleh Sumsub
Didalam Islam, komentar, pendapat dan omongan orang bodoh tidak dianggap.
Karena pasti tidak ilmiyah, pasti tidak berbobot, pasti tidak berdasarkan data, tidak punya latar belakang pendidikan yang cukup, tidak punya kompetensi dan pasti salah dan menyesatkan.
https://www.facebook.com/reel/956644453444037
Secara agama, penjilat dianggap sebagai perbuatan tercela yang dilarang karena berkaitan dengan kemunafikan dan sifat bermuka dua. Secara kesehatan (psikologis), kebiasaan ini merujuk pada sindrom people-pleaser kronis yang dapat memicu stres berat, kecemasan, dan hilangnya identitas diri akibat manipulasi terus-menerus.]
Berikut adalah uraian mendalam mengenai sifat penjilat dari kedua sudut pandang tersebut:
1. Dari Segi Agama (Islam)
Dalam ajaran agama Islam, menjilat sangat dikutuk karena merusak moral dan hubungan antarmanusia. Beberapa poin utamanya meliputi:
• Sifat Kemunafikan: Penjilat sering dikategorikan sebagai orang bermuka dua. Nabi Muhammad SAW menyebut orang yang datang ke suatu kaum dengan wajah berbeda-beda sebagai seburuk-buruknya manusia.
• Dusta dan Pujian Palsu: Perbuatan ini melibatkan ketidakjujuran dan sanjungan berlebihan (pujian yang tidak sesuai dengan fakta atau kenyataan) demi mencari keuntungan pribadi.
• Merusak Keadilan: Praktik menjilat atasan atau penguasa untuk mendapatkan kedudukan sering kali menimbulkan kezaliman, merugikan orang lain, dan merusak sistem.
2. Dari Segi Kesehatan Mental dan Psikologi
Dari sudut pandang psikologi, perilaku menjilat sering kali berakar dari kecemasan sosial dan kebutuhan validasi yang ekstrem. Kondisi ini membawa dampak negatif, seperti:
• Stres dan Beban Mental: Menjadi penjilat berarti harus terus-menerus ‘bermain peran’ dan menyembunyikan jati diri asli demi menyenangkan orang lain, yang memicu kelelahan mental (burnout).
• Krisis Identitas: Pelaku sering kali kehilangan arah tentang siapa diri mereka sebenarnya karena standar hidup dan nilai-nilai mereka didikte oleh keinginan untuk disukai atau mendapat keuntungan dari orang lain.
• Kecemasan Kronis: Ketakutan untuk tidak disukai, kehilangan muka, atau terbongkarnya kepalsuan diri bisa menyebabkan gangguan kecemasan (anxiety) hingga depresi.
Perilaku ini bertolak belakang dengan konsep kedamaian batin dalam agama maupun kestabilan emosional dalam ilmu kesehatan, karena keduanya sama-sama menganjurkan ketulusan dan integritas diri.
tidak ada negara maju klau tidak ada kepastian hukum . . gitu kata beliau.
makanya negara ini ga maju2 . . hukumnya pilih kasih. yg jelas2 sdh ada putusan hukum aja bebas berkeliaran. digaji negara lagi. ampun…ampun…
Membara-bara tapi “burung perkutut” nya ga ada, percuma dong. Cuma omon-omon seorang jenderal kardus.
ngulang2 copas aja lu tong 😂😂😂
biasa nyontek dulu waktu sekolah ya 😂😂