Rejim ini memang berhasil membungkam orang yang berbeda pendapat. Tidak saja membungkam mereka yang secara langsung mengkritik dengan menunjukkan berbagai macam kejanggalan. Setiap pengkritik selalu dicap ‘antek-antek asing,’ ‘tidak cinta tanah air’ atau bahkan ‘pengkhianat bangsa’ yang harus pergi dari Indonesia, ke Yaman!
Di dalam rejim sendiri tidak kurang orang-orang pinter. Kaum intelektual atau mantan intelektual yang duduk di kursi kekuasaan. Kaum Kiri, baik mantan Kiri maupun Kiri apkir, yang mengelola mesin-mesin kementrian. Orang-orang relijius yang dulu punya komitmen sosial.
Mereka sekarang mengalami kebangkrutan moral!
Orang-orang ini tidak berani melakukan oposisi. Mereka bahkan keluar membela rejim ini dengan argumen-argumen mentah dan kacau balau. Melakukan pembohongan dan fabrikasi. Atau, ketika mendengar kejanggalan, mereka menelannya dengan sukarela.
Orang-orang Kiri, yang sibuk membela pemerintahan yang mereka klaim “sosialis” ini bahkan membelokkan otaknya ke atas. Sehingga, satu-satunya yang berfungsi di kepala adalah lidah: untuk menjilat.
Namun demikian, bukan berarti oposisi itu akan hilang begitu saja. Sekarang ini, “pasarlah” yang menjadi oposisi. Setiap hari ia menggerogoti kekuasaan rejim salah urus ini.
Orang-orang Kiri mungkin akan berteriak, “Ini konspirasi kapitalisme untuk menghancurkan Indonesia.” Yang mereka tidak sadar bahwa mereka sendiri juga menjadi “kabir-kabir” baru. Kabir adalah kapitalis birokrat. Istilah jaman tahun 50-60an dulu.
Juga, negara ini kurang kapitalis apa? Siapa yang mengimpor 2.500 buldozzer untuk membongkar pohon dan hutan di Papua? Siapa yang memiliki media? Kalau masih memakai media sosial untuk berkampanye, bikin narasi-narasi sinting, dan memutarbalikkan fakta, berhentilah memusuhi kapitalisme.
Pasar melakukan oposis?
Iya, betul. Mungkin Anda tidak sadar bahwa pemecatan Dadan cs yang tidak kompeten dan diganti oleh orang yang lebih tidak kompeten lagi itu tidak mendapat perhatian pasar. Salah besar!
Pasar juga tahu bahwa Rp 268 triiun duit pajak ini akan dikelola oleh orang-orang super tidak kompeten. Akibatnya akan merambah ke banyak sektor di ekonomi.
Anda mungkin juga sudah merasakan. Presiden pidato bahwa stok beras Indonesia terbesar sepanjang sejarah! Tapi harga beras yang dibeli oleh rakyat biasa? Sekarang rata-rata 16-17 ribu per kg. Awal dia berkuasa hanya harga beras hanya di kisaran Rp 12-13 ribu per kg. Tidak hanya beras. Harga kedele dan minyak goreng juga naik.
Petaka tidak hanya menimpa konsumen. Namun produsen juga. Dulu, presiden bilang bahwa MBG akan menggerakkan ekonomi rakyat. Apa yang terjadi sekarang? Harga telur hanya Rp 20-21 ribu per kg. Sementara beaya produksi telur Rp 23 ribu! Di Blitar, para produsen telur membagi-bagikan telurnya kepada siapa saja yang mau.
Sama saja dengan susu, yang katanya akan dibutuhkan banyak oleh MBG. Para peternak susu di Boyolali membuang 50 ribu liter susu ke sungai! Karena harga yang rendah.
Kemarin ada kawan warga asing yang bertanya pada saya, apakah pemerintahan Prabowo-Gibran ini sama dengan pemerintahan Orde Baru-nya Soeharto?
Untuk saya, pertanyaan ini tidak terlalu sulit untuk dijawab. Lalu, jawabannya? Tidak!
Orde Baru adalah rejim otoriter yang kompeten. Soeharto mempekerjakan orang-orang yang memang kompeten untuk mengurus ekonomi. Dia juga mempekerjakan orang-orang yang kompeten untuk menindas rakyatnya. Rejim Orba memang kejam, brutal, dan sadis luar biasa. Namun semua ini dilakukan secara terukur.
Sepanjang ingatan saya, tidak ada aktivis yang disiram air keras pada jaman Soeharto. Biasanya, rejim ini galak, sadis, dan brutal kepada rakyat kecil: kepada preman-preman yang di-petrus-kan untuk kemudian dijadikan mesin teror; kepada buruh seperti Marsinah. Untuk para aktivis? Biasanya para gedibal rejim akan cincai-cincai — sogok mereka dengan uang dan berbagai macam hal. Para intelektual diawasi.
Rejim ini mulai menculik ketika melihat kekuatan kelas menengah aktivis ini mulai berkolaborasi dengan rakyat kecil — buruh, kaum miskin kota, dll. Ini yang menakutkan mereka. Dan siapa pelaku penculikan itu? Pelaku bukan otak dibaliknya!
Orde baru adalah rejim otoriter yang kompeten! Anda mungkin akan marah-marah dengan kenyataan ini. Tapi itulah kenyataannya. Masih ingat program Orde Baru, yaitu Posyandu atau Pos Pelayanan Terpadu, untuk mengatasi gizi buruk (stunting, kata rejim ini)? Penguasa Orde Baru membagikan kacang ijo dan susu kepada bayi dan ibu hamil? Pernah Anda dengar ada yang keracunan kacang ijo pembagian Posyandu?
Lalu bagaimana dengan menindas? Bahkan menindas pun rejim yang sekarang ini tidak kompeten! Menyiram air keras ke wajah seorang aktivis muda — yang saya tahu sangat berkomitmen pada kemajuan negeri ini — apakah itu tindakan yang kompeten? Dan kemudian, para pelakunya mengatakan bahwa mereka punya “dendam pribadi” terhadap aktivis ini? Siapa yang setolol itu mempercayai argumen yang bodohnya setengah mampus ini?
Anda boleh tidak percaya pada oposisi oleh pasar ini. Hanya saja, Anda harus percaya pada konsekuensinya. Ini seperti Anda boleh saja tidak percaya pada pemanasan global dan membiarkan hutan-hutan dibabat sembarangan. Suatu saat, rumah Anda akan tenggelam karena banjir atau terkubur tanah longsor! Itu hukum alam.
Pasar pun demikian juga. Ketika nanti rupiah menjadi Rp 25.000 per US dollar, semua menjadi tidak terjangkau, barulah Anda terkaing-kaing. Daripada terkaing-kaing kemudian mungkin lebih baik menggonggong sekarang?
(Made Supriatma)







menteri keuangan nya aja sdh keliatan lusuh .stress bosnya dableg
copot aja lah itu deputi gubernur BI, siapa tau investor merespon positif
dua presiden indo memakai topeng orang hebat. tidak tahunya memble, topeng kpalsu.