Trump memperingatkan tentang kemungkinan ‘jihadis’ berkuasa di Washington

Presiden AS Donald Trump secara agresif menyerang para kandidat dari Partai Demokrat dengan melabeli mereka sebagai “jihadis” menyusul momentum kemenangan sayap progresif dalam pemilu primer menjelang pemilu paruh waktu (midterm elections).

“Kita melihat kaum jihadis terpilih di berbagai tempat, entah itu komunisme [atau] jihadisme,” ujar Trump kepada para wartawan di Ruang Oval pada hari Senin (10/8/2026).

“Seorang teman menelepon saya dan berkata, ‘Anda tahu […] Anda sebaiknya menggunakan istilah jihadis’, karena itulah yang sebenarnya terjadi. Jika Anda melihat apa yang terjadi di negara-negara lain, saya tidak yakin kita ingin menjalani kehidupan seperti itu.”

Pernyataan bernada menghasut ini memicu gelombang diskursus Islamofobia baru dari faksi Republik di tengah persaingan ketat perebutan kursi parlemen.

Pemicu Utama Retorika Trump

Serangan verbal ini mencuat setelah Abdul El-Sayed, seorang politisi Muslim berhaluan progresif dari Partai Demokrat, sukses memenangkan pemilu primer untuk kursi Senat AS di Michigan.

  • Narasi “Dua Amerika”: Trump mengunggah perbandingan foto dirinya bersama Ibu Negara Melania Trump dengan foto El-Sayed bersama istrinya yang berhijab, yang diberi takarir “Two VERY DIFFERENT America’s”.
  • Tuduhan terhadap Demokrat: Trump menyebut para pemenang primer dari sayap kiri sebagai “lunatik radikal”. Ia menuduh bahwa kaum jihadis sedang memenangkan pemilu “di mana-mana” dan mengancam stabilitas Washington.
  • Ekstensi ke Tokoh Lain: Trump juga mengarahkan label serupa untuk menyerang Wali Kota New York yang baru terpilih, Zohran Mamdani, terkait kebijakan pajak properti (pied-à-terre tax).

Eskalasi di Kalangan Republikan

Narasi yang dilontarkan Trump diadopsi oleh sejumlah politisi Republik lainnya untuk menyerang kandidat Muslim secara sistematis:

  • Senator Tommy Tuberville (Alabama): Melabeli El-Sayed sebagai “teroris” dan “Islamis radikal” yang berniat menghancurkan Amerika Serikat.
  • Perwakilan Nancy Mace (South Carolina): Mengklaim secara kontroversial bahwa setiap Muslim yang memegang jabatan publik di Amerika merupakan “Trojan horse” (kuda troya) dan ancaman bagi keamanan nasional.

Respons Demokrat dan Komunitas Muslim

Pihak Demokrat serta organisasi hak sipil mengecam keras serangan bermotif rasial dan agama ini.

  • Tanggapan Abdul El-Sayed: Menepis klaim tersebut dalam wawancara di CNN State of the Union. Ia menegaskan bahwa Partai Demokrat hanya memiliki perbedaan pandangan yang wajar dalam menyusun visi masa depan Amerika.
  • Kecaman dari CAIR: Dewan Hubungan Amerika-Islam (CAIR) menyatakan bahwa retorika Trump sangat berbahaya karena menaruh target kekerasan pada pejabat-pejabat Muslim di AS.
  • Kritik Internal Republik: Senator Republik Bill Cassidy dari Louisiana turut mengutuk penggunaan bahasa tersebut dan menegaskan bahwa setiap kandidat harus dinilai sebagai individu, bukan kelompok agama.

Pertarungan retorika ini semakin memanas mengingat pemilu paruh waktu November 2026 menyisakan waktu kurang dari 90 hari, di mana seluruh 435 kursi DPR (House of Representatives) dan 34 kursi Senat sedang diperebutkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

7 komentar