Sudrajat, Polisi dan Tentara

Kalau Anda sejenak mengenang masa kecil, Anda pasti ingat makanan yang Anda konsumsi di sekolah.

Sebagai anak-anak, Anda mendapat bekal. Puluhan pedagang berkumpul di depan sekolah. Anak-anak berbelanja. Tidak banyak. Tidak mahal. Anda mungkin membawa kenangan itu, dan bahkan mungkin rasanya juga, hingga tua.

Anda mungkin lupa siapa guru Anda ketika SD. Tapi masih ingat bagaimana rasa manisan cerme warna merah dibungkus plastil yang dijajakan di depan sekolah bersama manisan buah lainnya. Atau, pedagang bakso ketika di SMA. Tempat makan rame-rame sambil bersenda gurau.

Akan halnya para pedagangnya, mereka anonim. Kecuali yang istimewa banget. Saya masih ingat Pak Gareng, tukang bakso di dekat SD saya dulu. Yang makan kebanyakan anak-anak SMA. Anak-anak SD tidak akan kesana karena selain terlalu mahal, itu tempat berkumpulnya anak-anak SMA. Dan, anak-anak yang saat itu masih SD akan ke sana juga ketika dia SMA. Jadi ada semacam ‘rite of passage’ di sekolah swasta yang satu kompleks dari TK hingga SMA itu.

Sudrajat, seorang pedagang es kue, adalah salah satu pedagang itu. Ia kini menjadi perbincangan karena perlakuan aparat keamanan — polisi dan militer — yang menuduhnya menjual es dengan bahan-bahan berbahaya.

Videonya bersliweran di media sosial. Dua orang petugas, satu polisi dan satu tentara, menginterogasi Sudrajat. Kedua berbadan besar, kontras dengan Sudrajat yang kurus kering. Kontras itu agaknya juga mewakili orang yang diberi makan negara — dan mencari makan lewat negara! — dengan seorang warga yang tidak ada urusan dengan negara. Kalau bisa bahkan tidak berurusan dengan negara. Semacam mental ‘leave me alone,’ yang sangat umum di kalangan rakyat biasa.

Pak polisi, yang kemudian diketahui bernama Ajun Inspektur Polisi Satu Ikhwan Mulyadi. Dia adalah Bhayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Bhabinkamtibmas) Kelurahan Kampung Rawa, Kecamatan Johar Baru, Jakarta Pusat. Dialah yang menuduh Sudrajat menjual es dengan bahan spon. Ya, spon! Yang bisa dipakai jok untuk motor Anda itu.

Di video itu terlihat si polisi menuduh Sudrajat menjual es dengan bahan berbahaya. Sudrajat menyangkal. Dia suruh polisi memeriksa di pabriknya di Depok. Namun itu malah membuat si polisi marah.

Dan si polisi membawa serta pula seorang militer — yang hingga sekarang belum saya ketahui namanya. Saya dari lencana yang dia kenakan, dia adalah seorang Bintara Pembina Desa (Babinsa). Dia inilah yang secara sadis menghardik Sudrajat. Di video dia memaksa Sudrajat makan es kue yang dijajakan.

Saya melihat sorotan mata Sudrajat mendapat perlakuan yang amat tidak hormat itu. Rasa sakit hati dari perlakuan keji. Dan kemudian, Sudrajat mengakui dia ditendang dan dipukul dengan selang. Bahkan masyarakat, yang memang suka main hakim sendiri karena ketiadaan hukum, juga ikut memukulnya.

Si polisi sudah minta maaf. Dan saya tidak tahu apakah dia akan kena sanksi atau tidak. Tapi yang tentara, yang lebih brutal dalam menganiaya, tampaknya tidak terdengar ada ceritanya. Ia hilang. Mungkin karena dia tentara yang sekarang sedang pegang peranan dimana-mana.

Sodara, jangan kira ini adalah insiden yang berdiri sendiri (isolated incident). Ini terstruktur. Ini terjadi dimana-mana. Ada banyak Sudrajat-Sudrajat lain. Ia menimpa mulai dari penjual es, petani, buruh, hingga ke mahasiswa, jurnalis, akademisi, intelektual, dan lain sebagainya.

Ini adalah fenomena keseharian kita. Dan, sebagian besar dari kita tidak ada masalah dengan soal-soal penyalahgunaan kewenangan ini. Kita melihat bahwa petugas-petuga ini ‘mengayomi’ dan melindungi masyarakat. Dengan kekerasan? Iya karena kita tidak percaya satu sama lain.

Kita sering mendengar bahwa masyarakat kita itu gotong royong. Kita punya ‘mutual trust’ — saling percaya satu sama lain. Itu sebabnya kita bahagia. Kita guyub, rukun, harmonis.

Yang tidak pernah kita sadari bahwa kita yang menggotong semuanya dan ada sedikit yang royong-royong menikmati. Kita menyembunyikan struktur penindasan yang amat sistematis ini dibalik pura-pura harmoni. Kita bahagia namun disisi lain bisa sadis dan brutal hingga memukul, menendang, dan melecut dengan selang, orang sekurus Sudrajat. Kita tidak berlaku sama terhadap para maling, para pembohong, tukang omon-omon, dan para politikus hitam yang menguasai negeri ini bukan?

Demi apa? Demi harmoni. Demi ketenangan. Demi ketertiban. Demi keamanan. Demi melindungi masyarakat dari makan es spon?

Orang-orang ini dengan jumawanya menjadi ahli dalam menentukan beracun atau tidaknya es kue itu. Tapi, bagaimana dengan banyak SPPG yang rajin meracuni anak-anak Indonesia?

Terus terang, saya marah sekali melihat bagaimana orang seperti Sudrajat diperlakukan dengan amat tidak adil. Namun Sudrajat masih untung. Dia tidak dikeroyok sampai mati.

Dan kontras itu. Seorang pekerja keras yang hanya membawa Rp 50 ribu setiap hari ke rumah untuk menghidupi istri dan tiga anaknya. Di sisi lain, dua orang berperawakan besar — yang makan dari negara dan dari uang pajak yang dibayar oleh orang seperti Sudrajat; dan mungkin masih bisa mencari uang juga lewat negara.

Mengapa negara hadir dengan dua wajah bengis ini? Kalau Anda tidak mempertanyakan itu, Anda mengawetkan penindasan ini.

(MADE SUPRIATMA)

Komentar