Dokter dan psikiater dr. Fidiansjah Sp.K.J di tvOne mengungkap pernah menangani TNI dan Polri dengan orientasi LGBT.
Host: Cerikan dok, salah satu pasien dokter ketika konsul ke dokter, aspek utama pemicunya apa?
dr. Fidiansjah: Yang memang paling dominan karena aspek sosial dan perkembangan psikologisnya. Jadi dia sendiri sebenarnya tidak tahu proses itu terjadi karena traumatik. Jadi ada pengalaman-pengalaman yang dia sendiri awalnya tidak sadar. Karena perkembangan daripada kapasitas baik cara berpikir dia maupun pemahaman tentang nilai-nilai itu sendiri. Tapi begitu dia sadar tentang sesuatu yang dikatakan sebagai sesuatu hal yang kita sebut ego dystonik. Jadi egonya itu tahu ada hal yang tidak sesuai dengan fitrah yang mesti dijaga. Itulah yang sering terjadi.
Host: Dok, berarti tahunya belakangan?
dr. Fidiansjah: Belakangan. Tadi kan kapasitas terhadap proses berpikir tiap orang bisa terjadi, kehilafan atau ketidaktahuan.
Host: Sederhananya berarti dorongan itu muncul tanpa dia sadar begitu?
dr. Fidiansjah: Iya.
Host: Banyaknya kasus sudah menikah atau masih lajang?
dr. Fidiansjah: Nah ini dia. Hampir tertutupi karena mereka bi-seksual. Artinya dia sudah menikah dan punya anak. Akibatnya tentu tadi menjadi samar. Karena lingkungan tidak menduga, tapi kemudian kasus hukum meruak. Disinilah peran daripada betapa memang terapi keluarga itu menjadi sangat penting untuk bisa membantu orang-orang seperti tadi.
Host: Pasiennya yang dokter tangani, berarti saat itu ketahuan nggak sama institusinya?
dr. Fidiansjah: Ketahuan.
Host: Sudah dikeluarkan dari institusi?
dr. Fidiansjah: Ada yang dikeluarkan, ada yang masih bisa dilakukan semacam sebuah bimbingan.
Host: Apa sih curahan hati mereka mungkin waktu konsul? apa kata-katanya?
dr. Fidiansjah: Yang pertama tentu penyesalan. Rasa sesal terhadap hal yang memang dia rasakan sebagai sesuatu yang tidak benar karena sudah melewati proses hukum. Lalu yang kedua tadi, mohon untuk bisa mendapatkan dukungan. Istilah tadi, jangan di-stigma, jangan di-diskriminasi. Dan itu tentu sangat memang mereka butuhkan dari semua aspek. Dan kami dari sisi terapi tentu tidak membedakan tadi. Kalau sudah masuk ke dalam area terapi rehabilitasi, kita tentu tidak masuk pada area stigma dan diskriminasi. Kita perlakukan sama.
Karena kita sedang akan melakukan proses perubahan, proses pengembalian, agar apa yang mereka lakukan itu sebagai suatu kesadaran penyimpangan bisa kemudian berubah untuk kembali kepada fitrah yang sebenarnya.
Host: Dok, mohon maaf juga untuk pemirsa. Tapi ketika ada dorongan tersebut kan ingin dilampiaskan. Ketika mereka aparat (pengidap LGBT) yang punya jabatan, kemudian mengajak bawahannya, sehingga bawahannya gak bisa nolak karena atasannya. Ada tidak kasus yang kayak gitu?
dr. Fidiansjah: Kasus yang saya tanggulangi justru korban semua.
Host: Korban atasan?
dr. Fidiansjah: Iya.
Host: Waduh!
[VIDEO]







Dok, mau tanya…Apa seorang pria yang pernah mengalami kekerasan seksuil seperti dikebiri atau dipotong “burung perkututnya” kemungkinan bisa berubah menjadi homoseksuil? Atau paling tidak jadi simpatisan pria homoseksuil ?
Bagaimana hai kau si Anonim BabRun pendukung garis keras mbah Wowo aNTEK asing Gemoy omon omon, masih kau salahkan kami yg selalu mengomentari masalah si Teddy bear⁉️ Sampai disini kau masih tak paham akibat keGOBLOKAN mu ya kan⁉️🐷😜😂🤣
hal kayak gini sudah lama terjadi baru ada keterbukaan era Facebook/meta Internet dimulai tahun 2010-2011 dimana memang ada minoritas atau kelompok apa individu tni dan polri LGBT (gay dan lesbian bagi wanita 👩). Tapi yang sering disorot itu gay karena pada saat tes kesehatan masuknya saja sudah dianalisis kalo jangankan yang suka disodomi, baru kena wasir/ambaien saja tidak lolos seleksi. Dan itu betul, kebanyakan dari mereka bukan LGBT dari awal karena juga ada seleksi psikologis jadi kebanyakan bermula dari korban atasan/kakak tingkat atau teman satu barak/asrama sendiri yang tidur satu kamar ruangan walaupun tempat tidur nya terpisah (termasuk praktek senioritas dan bullying dengan alasan bisa kuat menghadapi musuh termasuk saat disandera). Hal ini juga bahkan lebih parah dari pesantren menyimpang atau lembaga sekolah agama,sekolah dinas dan boarding school yang lain dalam kasus serupa jika tanpa adanya tindakan pencegahan.
termasuk bagi mereka yang belum menikah 👰 tapi sudah melepaskan hasrat nafsu seksual nya yang lebih parah dari zina dengan wanita 👩 yaitu pelecehan sesama jenis terutama homo.
dan LGBT yang termasuk B nya Biseksual inilah bagi orang yang belum tahu aib orang tersebut dikira orang itu orang normal heteroseksual.