Rangkuman Pidato KH Hasan Abdullah Sahal ‘Tasyakuran 100 Tahun Gontor’

Catatan oleh: Bramantyo Suryo Nugroho

  1. Tahun 1926 di Gontor banyak kufr, maksiat. Banyak molimo (judi, mabuk, maling, madat, zina).
  2. Tahun 1958 pondok diwakafkan kepada umat islam. Pada momen 4 windu Gontor.
  3. Dengan keikhlasan pendiri, mewakafkan ide, sistem, nilai, lembaga dan cinta.
  4. Dulu tanah milik Gontor saat diwakafkan hanya 1 hektar, sekarang jadi 1200 hektar.
  5. Gedung BPPM (Balai Pertemuan Pondok Modern) dulu dari pokok bambu, diganti tahun 1957 jadi gedung balai pertemuan pondok. Sekarang memuat 4000-5000.
  6. Gontor memilih Pendidikan.
  7. Soekarno dengan JAS MERAH, Gontor tidak berhenti disitu, tapi “cerdaslah menyikapi sejarah, karena kita akan membangun sejarah. Tidak menyerah pada sejarah.”
  8. Banyak orang cari muka, karena tidak punya muka. Orang tidak punya ijazah, cari ijazah. Orang tidak punya jabatan, cari jabatan.
  9. Gontor tidak keluar dari kata Iman, Islam dan Ihsan. Sehingga anak Gontor itu, masuk gontor NU keluar memimpin NU. Masuk Muhammadiyah keluar memimpin Muhammadiyah.
  10. Gontor sejak zaman Belanda, memerdekakan umat dari kesesatan dari kekufuran.
  11. Kalau makanan kyai, pakaian kyai, kendaraan kyai, melebihi makanan santri, pakaian santri, kendaraan santri, silakan protes, boleh dikritik, boleh didemo.
  12. Setiap masa ada tokohnya, setiap tokoh ada masanya.
  13. 100 tahun Gontor bukan perayaan, tapi peringatan.
  14. Kita berusaha selalu ingat nikmat Allah, untuk bersyukur, untuk beribadah lebih, inilah doa kita.
  15. Gontor mendidik santri dengan “STIR” (Sabar, Tawakal, Ikhlas, Ridho).
  16. Gontor memberi buku, “Hadiah Gontor untuk Indonesia”.

    [VIDEO]

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *