Catatan oleh: Bramantyo Suryo Nugroho
- Tahun 1926 di Gontor banyak kufr, maksiat. Banyak molimo (judi, mabuk, maling, madat, zina).
- Tahun 1958 pondok diwakafkan kepada umat islam. Pada momen 4 windu Gontor.
- Dengan keikhlasan pendiri, mewakafkan ide, sistem, nilai, lembaga dan cinta.
- Dulu tanah milik Gontor saat diwakafkan hanya 1 hektar, sekarang jadi 1200 hektar.
- Gedung BPPM (Balai Pertemuan Pondok Modern) dulu dari pokok bambu, diganti tahun 1957 jadi gedung balai pertemuan pondok. Sekarang memuat 4000-5000.
- Gontor memilih Pendidikan.
- Soekarno dengan JAS MERAH, Gontor tidak berhenti disitu, tapi “cerdaslah menyikapi sejarah, karena kita akan membangun sejarah. Tidak menyerah pada sejarah.”
- Banyak orang cari muka, karena tidak punya muka. Orang tidak punya ijazah, cari ijazah. Orang tidak punya jabatan, cari jabatan.
- Gontor tidak keluar dari kata Iman, Islam dan Ihsan. Sehingga anak Gontor itu, masuk gontor NU keluar memimpin NU. Masuk Muhammadiyah keluar memimpin Muhammadiyah.
- Gontor sejak zaman Belanda, memerdekakan umat dari kesesatan dari kekufuran.
- Kalau makanan kyai, pakaian kyai, kendaraan kyai, melebihi makanan santri, pakaian santri, kendaraan santri, silakan protes, boleh dikritik, boleh didemo.
- Setiap masa ada tokohnya, setiap tokoh ada masanya.
- 100 tahun Gontor bukan perayaan, tapi peringatan.
- Kita berusaha selalu ingat nikmat Allah, untuk bersyukur, untuk beribadah lebih, inilah doa kita.
- Gontor mendidik santri dengan “STIR” (Sabar, Tawakal, Ikhlas, Ridho).
- Gontor memberi buku, “Hadiah Gontor untuk Indonesia”.
[VIDEO]







