✍️Erizeli Jely Bandaro
Indonesia bukan negara miskin sumber daya. Kita punya emas, batu bara, nikel, tembaga, bauksit, timah, hutan, hingga industri sawit yang besar. Tetapi ada ironi dalam struktur penerimaan negara.
Berdasarkan outlook 2025, penerimaan dari sumber daya alam hanya sekitar 8% dari total pendapatan negara, sementara lebih dari 80% ditopang penerimaan perpajakan. Artinya, mesin fiskal negara jauh lebih bergantung pada pajak daripada rente ekonomi yang dapat ditangkap negara dari kekayaan alamnya.
Masalahnya bukan sekadar berapa banyak tambang yang kita miliki, tetapi berapa besar economic rent dari SDA yang benar-benar kembali kepada negara dan masyarakat. Di sinilah persoalan tata kelola menjadi penting: kualitas perizinan, beneficial ownership, transfer pricing, pengawasan produksi dan ekspor, royalti, illegal mining, sampai kebocoran penerimaan.
Kondisi ini patut dibaca bersama persoalan yang lebih luas: indikator persepsi korupsi Indonesia yang masih lemah dan ICOR yang tinggi. ICOR tinggi menunjukkan investasi membutuhkan modal semakin besar untuk menghasilkan tambahan output. Dengan kata lain, banyak uang bergerak, banyak proyek dibangun, SDA terus dieksploitasi, tetapi produktivitas ekonominya belum sebanding.
Karena itu paradoks Indonesia bukanlah kekurangan kekayaan alam, melainkan kemampuan negara mengubah kekayaan alam menjadi kekayaan publik. Gunungnya kaya mineral, tanahnya subur, lautnya luas. Tetapi APBN tetap terutama hidup dari pajak rakyat. Di situlah pertanyaan tentang tata kelola seharusnya dimulai.







udah gitu uangnya buat program penghasil tai😂😂
cuma 200 T yg dipakai mbg, total dana apbn kita nyaris 4000T alias 3800anT, gausah berlebihan begitulah makanya jgn gagal fokus saban hari teriak2 embege, lihat dong stop importing solar, swasembada pangan, kapal induk pertama, renovasi sekolah seluruh nkri, hilirsasi dan penegakan hukum mafia migas dan mafia pertanian jadi kita mandiri energi dan pangan
Woy BABI!!, Kapal induk pertama?? inilah golongan termul/terwo yang tolol nya minta ampun, woy, kapal induk itu lebih cocok untuk laut dalam, emang seberapa banyak kita punya laut dalam, berapa banyak pesawat atau bahkab helikopter yang bisa ditampung, belum lagi biaya operasional, tolol lo!
kapal induknya hibah krn kita beli pesawat latih aermacchi m-346 dr Italia. apanya yg luar biasa?
penegakan huku mafia migas mana? si riza sah keta gkep blm? mbh wo udah² lari² ngejar koruptor sampai antartika blm? pen liat dong beliau lari-larian ngejar koruptor
Jago ngibul nya terwo bisanya ngarang terus kaya si mukibul ; bacot berbusa kenyatan zonk.
perusahaan penambang sda itu bayar ke negara dalam bentuk pajak bukan diberi hasil tambangnya, semua swasta dan bumn spt itu, ya memang sistem negara modern spt itu diconvert ke pajak, pentingnya pengetahuan umum
kasi datanya dong, biar g omon² seperti bowo
Tapi bo ong….
Penting pengetahuan umum tapi kok masih goblok aja otakmu.
Kementerian ESDM, Pembayaran/Penyetoran Iuran Tetap, Iuran Produksi/Royalti…
https://jdih.esdm.go.id/dokumen/download?id=2025pmesdm9.pdf
Kementerian Keuangan, Definisi Penerimaan Negara Bukan Pajak Sumber Daya Alam
https://jdih.kemenkeu.go.id/kamus-hukum/penerimaan-negara-bukan-pajak-sumber-daya-alam?id=130c117b3e16b47bcc9ae2db5457a401
tp percuma sih kasih data dan fakta ke kaum drun yg terkan bebal halu denial bin benci fakta
wah terwo hobi comot copasan lagi😂😂😂
akibat pemimpin yang malas dan bodoh
bukan pemimpin nkri pasti pemimpin sudan atau yg lain itu, pemimpin nkri cerdas fasih bhs asing rajin baca buku seorang pemimpin perang yg kredibel dan yg paling penting seorang muslim dan pribumi
para dogs
terwo : dijamin klo kadrun yemn yg ngurus sejahtera rakyat wakanda 👍
di negara lain gitu juga kali , penerimaan utama negara ya dari pajak, paham lu drun?
kasi data komplitnya om, biar ga omon² cem kidnap
Suruh paham tapi lu sendiri cuma opini sakarep dewe tanpa data…pe’a