DRAMA IJAZAH GIBRAN DI MK: FOR REAL ATAU PECAH KONGSI?
✍️Meilanie Buitenzorgy
Akhirnya masalah ijazah SMA Gibran sampai juga ke babak MK. Sebagai orang yang pertama kali mengangkat isu ini di tahun 2023, tentu saya berucap: Alhamdulillah, finally!
Saya bukan fans Prof Denny, tapi tentu saya sangat mendukung langkah beliau membawa masalah ini ke MK.
Evolusi dari 2023 ke 2026 ini, mungkin, sekali lagi mungkin lho ya, ada dimensi politisnya.
Bacaan saya gini.
Akhir 2023, pertama kali saya bahas di medsos. Jelang Pilpres. Isunya nggak kemana-mana. Diredam.
Ini babak Koalisi Prabowo-Jokowi sedang mesra-mesranya. Prabowo lagi butuh-butuhnya Gibran. Supaya bapaknya Gibran yang masih menjabat, kerja mati-matian lewat bansos, apparat dan apparatus.
Pertengahan 2025, ada “novum” baru, saya bahas lagi di medsos. Viral sampai ke media mainstream. Banyak sekali yang mem-viral-kan ntah siapa-siapa. Saya sampai dipersekusi kelompok nganu.
Ini babak Pihak Hambalang kirim sinyal ke Solo: “jangan macam-macam”. Sepertinya ada kaitannya dengan rombongan preman yang keliling bikin rusuh dan penjarahan di beberapa titik termasuk rumah Sri Mulyani pada Agustus kelabu 2025. Di titik-titik itu saksi mata melihat seseorang dengan Mobil Mercy Merah ikut keliling mengamati situasi. Belakangan diketahui pemilik mercy merah tsb adalah seorang pengusaha furniture dari Solo.
Akhir 2026, babak PTUN, lanjut babak MK. Saya sendiri sudah tidak pernah bahas lagi di medsos sejak 2025. Karena rasanya semua hal yang saya ketahui sekaligs pertanyakan sudah saya sampaikan di medsos pada 2025 tersebut.
Nah, Ini babak pecah kongsi sih. Kayaknya lho ya.
Kita ngga tau nih apa yang sedang terjadi antara Hambalang dan Solo di balik layar MK. Saya perhatikan di Medsos, mulai banyak buzzer soft-selling Jokowi dan Gibran.
Video polah lucu Pak Bas Menteri PU rezim Jokowi menyingkap beskap Erick Tohir pas upacara 17an jaman Jokowi presiden ujug-ujug viral lagi. Ngajak netizen nostalgia “seru asik jaman Jokowi thoo?”
Tetiba ada akun anonim testi ke-humble-an Jokowi pas nginep di hotel tempat dia kerja.
Terus urusan Gibran minta maaf ke ortu korban MBG aja ampe segitunya di-elu-elukan. Kayak Gibran berhasil mati-in api karhutla sepulau Kalimantan aja.
Halah!
Kita-kita yang gak mempan manipulasi bisa aja mencibir manuver2 norak ini, tapi yang kek gitu-gitu ngena banget lho di masyarakat kita. Masyarakat yang gampang lupa, dan daya pikirnya sangat terbatas. Kebanyakan cuma mampu mencerna satu variabel untuk membuat keputusan maha penting.
“Ah, saya pilih Prabowo aja deh soalnya gemoy.”
“Mas Gibran keren ih berani kritik MBG, fix ini dia calon presiden gw di 2029.”
Anyway, apa pun dimensi politiknya, yuk kita fokus mengawal substansi masalah ijazah SMA Gibran ini di sidang di MK. Ada kekhawatiran ini tuh bukan drama perkara hukum serius, tapi cuma peringatan terakhir dari Hambalang ke Solo. Di balik layar bisa aja mereka berdamai dan deal-deal-an lagi.
Ada secercah harapan menyaksikan aksi hakim MK Prof Saldi Isra mencecar bawaslu dan KPU di video singkat rekaman sidang yang sedang viral. Tapi ingat, MK tuh ya udah beberapa kali gitu gayanya: di proses sidang kayaknya galak dan detil, pas keputusan taunya anyep. Putusan MK melarang MBG pake duit anggaran pendidikan aja tuh baru-baru ini kayaknya keren. Eh, berlakunya baru 2028 njir. Si nganu masih dikasih kesempatan menjarah duit anggaran pendidikan sampai 2028. Sama juga boong njir!!
Jadi, di negara barbar yang penuh drama ini ya Prof Saldi dkk, terus terang kita nggak ngarep banyak sih dari kalian. Tapi tolong ya sekali-sekali bikin kami-kami rakyat ini terkezut sujud syukur dengan putusan yang sesuai rasa keadilan publilk. Masak publik minta ditunjukkan ijazah SMA aja mesti lewat sidang MK. Emang ni keluarga Bahlul yang sok-sok alesan “tidak ada pasal konstitusi yang mewajibkan saya menunjukkan ijazah ke publik kok, apelu apelu?”
Ya emang gak ada, Bahlul. Karena itu bukan kewajiban konstitusi, tapi kewajiban MORAL elu sebagai pejabat publik. Elu sampai di jabatan itu kan ada syarat administratifnya, termasuk ijazah. Kalau public minta elu tunjukkan keterpenuhan syarat administratif, ya penuhi aja sebagai kewajiban MORAL elu. Masak kewajiban moral dasar gitu aja rakyat mesti cape-cape nuntut lewat proses pengadilan.
Fix memang keluarga ini keluarga TIDAK BERMORAL.
So, jangan mau lagi klean dibodohi pakai gimmick-gimmick beskap Erick Tohir yang disingkap Pak Basuki PU.
-FB-







ayoo nyanyi dulu :
🎼 🎼 kemesraan ini….. skrg hampir berlalu… 🎸🎻🎺