Anak-anak yang dibantai kok “alhamdulillah hancur lebur”

Islam tidak pernah mengajarkan kita untuk kehilangan kemanusiaan hanya karena kita berbeda posisi politik. Kebencian kepada sebuah negara, pemerintah, kelompok, atau ideologi tidak pernah menjadi izin untuk bergembira ketika yang menjadi korban adalah orang-orang yang tidak ikut berperang.

Dalam tradisi Islam, bahkan ketika perang benar-benar terjadi, ada batas yang tidak boleh dilampaui. Nonkombatan tidak boleh dijadikan sasaran. Anak-anak tidak boleh dibunuh. Orang tua, perempuan, dan mereka yang tidak terlibat dalam pertempuran harus dilindungi. Bahkan pohon dan tanaman tidak boleh dirusak tanpa alasan yang dibenarkan. Kalau terhadap pohon saja Islam mengajarkan batas, bagaimana mungkin hati seorang Muslim justru merasa senang ketika yang hancur adalah sekolah dan yang menjadi korban adalah anak-anak?

Pada salah satu postingan saya mengenai sebuah sekolah di Minab, Iran, yang saya beritakan mengalami kehancuran akibat serangan AS dan Israel, ada seseorang menuliskan komentar:

“Alhamdulillah, hancur lebur.”

Ketika saya sambangi profilnya. Sayapun terdiam, ia tampak berkecimpung di dunia pendidikan dan parenting. Mungkin saja ia mengajar, mendampingi guru, mengikuti workshop PAUD dan TK, atau setiap hari berbicara tentang bagaimana mencintai, mendidik, dan melindungi anak.

Coba, bagaimana mungkin seseorang bisa berbicara tentang pendidikan anak di satu tempat, tetapi bersyukur ketika anak-anak di tempat lain menjadi korban perang?

Cobalah sejenak pisahkan persoalan ini dari Iran. Anggaplah Anda benar-benar percaya bahwa pemerintah Iran jahat. Anggaplah Anda meyakini Iran pernah melakukan kejahatan di Suriah, Irak, atau di tempat lain. Baik. Itu bisa diperdebatkan, diteliti, bahkan dikritik sekeras-kerasnya.

Tetapi pertanyaannya sederhananya, Sejak kapan dosa sebuah pemerintah diwariskan kepada anak-anak sekolah?

Apa kesalahan seorang anak yang sedang duduk di ruang kelas?

Apa hubungannya seorang murid SD dengan keputusan militer negaranya?

Apa yang membuat kematian atau penderitaan mereka layak disambut dengan “Alhamdulillah”?

Kalau kejahatan dibalas dengan kejahatan terhadap orang yang tidak bersalah, itu bukan keadilan. Itu hanya membuat lingkaran kebencian semakin panjang.

Dan kalau penderitaan anak-anak dari “pihak yang kita benci” membuat kita bersyukur, mungkin masalahnya bukan lagi siapa yang benar dalam geopolitik. Mungkin yang perlu kita periksa adalah apa yang sedang terjadi pada hati kita.

Sebab kemanusiaan diuji bukan ketika korban berasal dari kelompok yang kita cintai. Itu mudah.

Kemanusiaan justru diuji ketika korban berasal dari bangsa, mazhab, negara, atau kelompok yang selama ini kita tidak sukai.

Apakah kita tetap mampu berkata, “Dia tetap manusia. Anak itu tetap tidak bersalah. Darahnya tetap haram. Tangis ibunya tetap tangis seorang ibu.”

Itulah batas yang tidak boleh hilang.

Anda boleh membenci pemerintah Iran. Anda boleh mengkritik Amerika. Anda boleh menentang Israel. Anda boleh tidak menyukai kelompok mana pun. Tetapi ketika anak-anak, sekolah, rumah sakit, keluarga, dan warga sipil menjadi korban, jangan kehilangan kemampuan untuk berduka.

Karena ketika kita mulai memilih-milih anak mana yang pantas dikasihani dan anak mana yang kematiannya boleh dirayakan, yang sedang runtuh bukan hanya sebuah sekolah, Yang sedang runtuh adalah kemanusiaan kita sendiri.

(Ismail Amin)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

3 komentar

  1. kita tetap membela palestina tetapi kita tetap benci syiah yg bertaqiyah. membela palestina. mereka sejatinya benci islam spt di yaman sekarang, memberontak thdp pemerintahan islam yg sah. tetap waspada pada niat busuk syiah laknatullah terhadap kaum muslimin.

  2. Guru TK lulusan SLTA saja logika pikirnya saja tersesat jauh…. Bagaimana dengan wapres yang cuma lulusan SMP trus “dipaksa” pimpin ratusan juta rakyat….apa gak ambyar negara seperti ini?

  3. anak anak yang meninggal belum akil balig tidak dimintai pertanggung jawaban dihari penghisaban, janganlah karna kebenciamu pada suatu kaum membuatmu jadi tidak adil…