Mengapa Trump Begitu Khawatir Dengan Abdul El-Sayed?

Melihat dinamika pemilu Senat Amerika Serikat dimana Presiden Donald Trump sangat massif menyerang Abdul El Sayed, calon Senator Amerika Serikat dari Michigan yang beragama Islam. Timbul pertanyaan:

Mengapa Donald Trump begitu berkepentingan mengalahkan Abdul El Sayed, seorang kandidat yang kalaupun terpilih, hanya akan menjadi satu dari 100 anggota Senat Amerika Serikat?

Jawabannya adalah, karena dalam politik, persoalannya bukan semata-mata berapa banyak kursi yang dimiliki seseorang, melainkan apa yang ia wakili, kekuatan politik apa yang bisa ia bangun, dan kepentingan siapa yang terancam oleh kehadirannya.

Berikut beberapa alasan yang patut kita cermati kekuatan politik Abdul El Sayed yang ditakuti Donald Trump and the ganknya :

1. Michigan bisa menentukan siapa yang menguasai Senat

Ini alasan yang paling strategis.

Pemilihan Abdul bukan sekadar perebutan satu kursi. Michigan merupakan salah satu negara bagian yang sangat menentukan keseimbangan kekuatan politik di Senat.

Jika Abdul menang, Demokrat berpeluang merebut kembali kendali Senat. Sebaliknya, kemenangan Mike Rogers akan membantu mempertahankan dominasi Partai Republik.

Dengan demikian, satu kursi dari Michigan bisa menentukan arah kebijakan nasional, termasuk pengawasan terhadap pemerintahan Trump, persetujuan kebijakan, dan berbagai keputusan politik penting.

2. Abdul menjadi simbol perlawanan terhadap politik uang dan AIPAC (Loby Israel)

Ini juga sangat penting.

Abdul berhasil mengalahkan Haley Stevens dalam pemilihan pendahuluan Partai Demokrat, meskipun kubu Stevens mendapat dukungan dana luar biasa besar dari kelompok-kelompok yang berafiliasi dengan AIPAC.

Menurut laporan Associated Press, AIPAC dan kelompok afiliasinya menggelontorkan hampir 30 juta dolar untuk mendukung Stevens dan mengalahkan Abdul. Namun, Abdul justru keluar sebagai pemenang.

Kemenangan itu menjadi pesan politik yang kuat: kekuatan uang dan lobi politik tidak selalu bisa mengalahkan suara rakyat.

Jika Abdul kemudian menang dalam pemilihan Senat, pesan tersebut akan semakin kuat. Ia bisa menjadi contoh bagi kandidat progresif lainnya bahwa seseorang dapat melawan dominasi pemodal besar dan kelompok lobi yang memiliki pengaruh kuat di Washington.

3. Sikap Abdul terhadap Palestina membuatnya menjadi ancaman politik bagi kelompok pro-Israel

Abdul secara terbuka mengkritik kebijakan Israel terhadap Palestina. Ia menyebut tindakan Israel sebagai genosida dan apartheid, serta menentang bantuan militer Amerika Serikat kepada Israel.

Sikap ini sangat berbeda dari sejumlah politisi Amerika yang selama ini mendukung kebijakan Israel.

Karena itulah, kelompok politik pro-Israel, khususnya AIPAC dan organisasi afiliasinya, berusaha keras menggagalkan pencalonannya. Bahkan, setelah Abdul memenangkan pemilihan pendahuluan, kelompok tersebut kembali mengeluarkan dana untuk menyerangnya dalam pemilihan umum.

Perlu dibedakan: kritik terhadap kebijakan Israel bukanlah kebencian terhadap orang Yahudi. Abdul sedang menyampaikan sikap politik mengenai kebijakan suatu negara dan penggunaan uang pajak rakyat Amerika untuk mendukung operasi militernya.

4. Abdul berpotensi menjadi senator Muslim pertama dalam sejarah Amerika

Ini memiliki makna simbolis yang sangat besar.

Abdul El-Sayed adalah seorang Muslim keturunan Mesir yang lahir dan besar di Michigan. Jika terpilih, ia akan menjadi senator Muslim pertama dalam sejarah Amerika Serikat.

Kehadirannya di Senat akan mematahkan anggapan bahwa seorang Muslim tidak mungkin menduduki posisi politik tertinggi di Amerika.

Ia juga berpotensi menjadi inspirasi bagi jutaan warga Muslim Amerika untuk terlibat lebih jauh dalam kehidupan politik negaranya.

Yang menarik, pada 25 Oktober 2026, Trump secara terbuka menyerang Abdul dengan mengaitkan dirinya dengan ekstremisme Islam dan bahkan menyebut tragedi 11 September dalam serangannya.

Reuters melaporkan bahwa Trump menggambarkan Abdul seolah-olah memiliki hubungan dengan kelompok ekstremis, tanpa memberikan bukti yang mendukung tuduhan terorisme tersebut.

Ini menunjukkan bahwa Trump tidak sekadar mempersoalkan program politik Abdul, tetapi juga menjadikan identitas keagamaannya sebagai bahan serangan politik

5. Abdul membawa agenda politik yang berlawanan dengan Trump

Abdul memperjuangkan layanan kesehatan universal (Medicare for All), pengurangan beban biaya hidup, perlindungan masyarakat kecil, dan pembatasan pengaruh uang korporasi dalam politik.

Sementara itu, Trump membangun kekuatan politik dengan pendekatan konservatif dan populisme kanan.

Jika Abdul berhasil menang, ia bukan hanya akan menjadi satu senator yang berbeda pandangan dengan Trump. Ia berpotensi menjadi salah satu wajah baru gerakan progresif Amerika, bersama tokoh-tokoh seperti Bernie Sanders dan Alexandria Ocasio-Cortez.

Kemenangan Abdul juga bisa menjadi modal politik bagi gerakan progresif dalam menghadapi pemilihan presiden.

Kesimpulannya, Trump takut pada simbol yang dibawa Abdul, bukan sekadar satu kursi Senat.

Menurut saya, inilah inti persoalannya.

Trump memahami bahwa Abdul El-Sayed membawa beberapa simbol perlawanan sekaligus: perlawanan terhadap politik uang, dominasi kelompok lobi, dukungan tanpa syarat kepada Israel, diskriminasi terhadap Muslim, dan kebijakan ekonomi yang tidak berpihak kepada masyarakat kecil.

Tentu, kita tidak bisa memastikan seluruh motif pribadi Trump.

Namun, pola serangan dan kepentingan politik yang dipertaruhkan memperlihatkan mengapa pencalonan Abdul menjadi perhatian nasional.

Bayangkan jika seorang Muslim, keturunan imigran Mesir, yang secara terbuka membela Palestina dan menentang dominasi politik uang, berhasil memenangkan kursi Senat Amerika Serikat.

Pesan politiknya akan jauh melampaui Michigan. Ia akan memperlihatkan bahwa identitas Muslim bukan penghalang untuk menjadi pemimpin Amerika, bahwa dukungan kepada Palestina bukan akhir karier politik seseorang, dan bahwa kekuatan uang tidak selalu mampu membeli suara rakyat.

Itulah sebabnya, menurut saya, pertarungan melawan Abdul menjadi begitu penting bagi Trump dan kelompok politik yang sejalan dengannya.

Abdul mungkin hanya satu dari 100 senator. Namun, simbol politik yang dibawanya bisa jauh lebih besar daripada satu kursi Senat.

Dan inilah yang membuat pemilihan Senat Michigan layak diperhatikan oleh dunia Islam, termasuk masyarakat Indonesia.

NB: Pemilu akan digelar 3 November 2026. Posisi saat ini peluang Abdul untuk menang 70%, unggul dari lawannya 30%.

(Teuku Zulkhairi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

4 komentar

  1. masyarakat umum bahkan di Indonesia sangat gampang di intimidasi dengan pelaksanaan syariat islam jika politikus yang taat beragama menang, jadi politik saat ini isinya adalah orang beragama tapi kelakukan setan

  2. hebat sekali amerika dan warganya kemungkinan cerdas2 bisa menerima double minoritas dari etnis dan agama minoritas disana, kalau di suatu negara nanti ada demo larangan memilih pemimpin non mayoritas