✍️Arham Rasyid
Semalam, mengantar seorang kawan ke pemakaman, setelah rahimahullah berjuang hampir sebulan melawan sakit gangguan di batang otak yang tiba-tiba, dan sempat koma selama tiga hari.
Usianya masih muda, kelahiran 99 (26 tahun), baru menikah dan punya anak masih bayi.
Kami semua shock dibuatnya. Secara orangnya aktif, gak ada riwayat penyakit, sebulan lalu masih wara wiri ngurus kajian dan berbagai kegiatan. Tapi yah namanya ajal, gak harus nunggu tua dan sakit dulu.
Auto merinding semalam melihat pelayat yang datang. Iring-iringan kendaraan panjang banget. Ambulans sudah tiba di bibir galian makam, antrian motor masih mengular di gerbang pemakaman.
Sejauh ini melayat orang meninggal, rasanya baru kali ini saya melihat orang serame ini ngantar sampe ke liang lahat, padahal malam hari. Masjid tempat sholat jenazah pun full, jamaah meluber hingga ke teras dan selasar.
Orang-orang bertanya, siapa si mayit? Pejabat kah? Keluarga besar? Orang penting?
Padahal jauh dari itu.
Kawan satu ini hanya orang biasa. Bahkan bisa dibilang sangat sederhana. Sehari-hari bekerja di toko skincare nyambi ngojek. Keluarga kecil pula. Gak aktif di sosial media. Gak terkenal, bukan ikhwan kibar.
Tapi apa amalannya?
Nah, ini yang patut diambil ibrohnya. Anak ini kami juluki “ikhwan seluruh DKM”. Ia aktif di hampir semua masjid tempat kajian di sini. Jadi relawan di ICM, pengurus di masjid Al-Furqon, masjid An-Nur, aktif di masjid At-Taufiq, aktif juga di masjid Raudhatul Jannah, komunitas MBI, dan banyak tempat berbasis dakwah sunnah lainnya.
Orangnya jarang ngomong, tapi suka kesibukan, rajin disuruh-suruh, gercep dan sat-set. Ibarat Santo Suruh versi anak ngaji, bisa disuruh apa saja. Pegang kamera, urus konsumsi, ngangkat-ngangkat, beli ini itu. Memang ada tipikal orang yang begini.
Kalo disuruh pun gak pernah nolak, gak ngeluh, gak ada musuh, gak senang keriuhan atau larut dalam hal-hal viral.
Dengan karakter lempeng seperti itu, maka wajar semalam pelayat membludak. Didominasi ustadz-ustadz dan orang-orang jenggotan celana cingkrang.
Rumah duka yang sederhana, jadi seperti tempat reuni ikhwah kajian. Yang lama gak ketemu pun pada ngumpul di sini. Pekuburan ibarat pasar malam. Saya seolah kehabisan kata untuk mendeskripsikan kekaguman pada suasana kematian.
Tapi ini bukan soal kuantitas atau banyak-banyakan. Kalo cuma banyak mah pelayat kematian Elvis Presley hingga Khomeini pun luar biasa.
Tapi ini soal keberkahan.
“Tidaklah seorang muslim meninggal dunia, dan dishalatkan oleh lebih dari empat puluh orang, dalam kondisi mereka tidak menyekutukan Allah, niscaya Allah akan mengabulkan syafaat (doa) mereka untuknya.” (HR. Muslim no. 948)
MasyaAllah, empat puluh orang bertauhid saja sudah bisa memberi syafaat pada mayit, sementara semalam sudah lebih dari kuota empat puluh orang bertauhid InsyaAllah.
Rahimahullah insyaAllah orang baik, wafat dalam keadaan baik, diselenggarakan jenazahnya di malam jum’at, suatu malam baik yang sarat dengan keberkahan.
Tinggal kita ini yang mereka-reka, entah seperti apa kematian kita nantinya. Masih ada waktu menanam investasi syafaat dengan sisa usia yang ada.
(sumber: fb)






