✍🏻Ustadz Muhammad Abduh Negara
Terlepas dari kasus “kiyai” yang sedang ramai saat ini, yang katanya cuma “kiyai-kiyaian”, bukan kiyai betulan yang alim, tapi fenomena orang alim (berilmu) yang buruk, itu benar-benar ada. Karena itu, saya berulang kali menyampaikan, meski idealnya ilmu dan keshalihan itu talazum (tak terpisahkan), tapi fakta di lapangan tidak selalu ideal.
Di masa lalu, Imam al-Ghazali mengkritik sebagian ulama di zamannya yang dianggap hubbud dunya (hatinya melekat dan begitu cinta pada dunia). Fenomena ulama dunia atau ulama suu, yang menggadaikan agama demi meraih dunia, mendapatkan popularitas dan kekayaan, serta menjilat penguasa, ini dikritik keras oleh al-Ghazali, salah satunya di Ihya ‘Ulumiddin.
Bagi para pengkaji ushul fiqih, tentu juga mengenal istilah “mujtahid fasiq”. Meski ini disajikan dalam konteks teoritis, apakah seorang mujtahid yang fasiq ijtihadnya sah, dan apakah orang lain boleh mengikuti hasil ijtihadnya tersebut, tapi adanya bahasan ini, menunjukkan para pakar ushul fiqih menganggap fenomena ini mungkin saja terjadi. Mungkin saja ada seorang alim yang mampu berijtihad, tapi sekaligus fasiq. Fasiq, artinya bisa jadi dia tidak shalat lima waktu, tidak puasa Ramadhan, minum khamr, berzina (‘iyadzan billah), dan seterusnya.
Bagi orang-orang yang dikaruniai Allah ta’ala ilmu, tentu ini menjadi peringatan, untuk memiliki rasa khasyyah (takut karena sadar keagungan Allah ta’ala), sekaligus berusaha secara serius untuk senantiasa muraqabatullah (sadar diawasi oleh Allah ta’ala). Sekaligus, ini juga peringatan kepada umat, agar tidak tertipu dengan kefasihan bacaan al-Qur’an, berdirinya seseorang di atas mimbar agama, atau kepiawaiannya membaca dan menjelaskan kitab-kitab berbahasa Arab.
Ustadz, kiyai, tuan guru, atau syaikh itu tetaplah manusia biasa, yang belum aman dari fitnah dunia (baik fitnah syahwat maupun fitnah syubhat). Hatinya sangat mungkin masih takluk pada dunia, masih cinta pada harta dan popularitas, masih haus pujian dan tepuk tangan, masih suka menjilat penguasa dan pengusaha, serta masih sulit mengendalikan syahwatnya kepada perempuan. Mereka bukan malaikat yang selalu taat, mereka bukan Nabi yang ma’shum nan terjaga dari kesalahan.
Jika orang awam hijau matanya melihat tumpukan uang, jangan anda pikir seorang kiyai tidak hijau juga matanya melihat tumpukan uang yang sama. Jika anda yang perempuan khawatir berdekatan fisik dengan laki-laki awam non mahram, jangan malah jadi ‘gatal’ ketika yang mendekati anda adalah seorang ustadz atau gus yang rupawan. Ketika anda melihat ada seorang aktivis atau politisi yang suka menjilat kekuasaan, maka itu juga bisa dilakukan oleh seorang tokoh agama. Mereka juga manusia.
Semoga Allah ta’ala menyelamatkan kita dari fitnah dunia, fitnah syahwat dan fitnah syubhat.







apalagi seseorang yg dipanggil Gus..
lagunya bener2 nyebelin
mukanya senga semua sombong