Kuliner Babi Solo
✍️Pega Aji Sitama
Buat orang Jawa sekalipun, Solo raya itu termasuk wilayah gimana gitu. Khususnya karena ‘kuliner ekstrim’.
Legenda sate dan tongseng Jamu serta olahan iwak Celeng seolah suatu yang normal terdengar saat kita melewati Solo raya.
Namun ternyata ada cerita yang lebih mumet, ada seorang pedagang bakmi keliling di Solo yang bakal bikin seorang Muslim tepok jidat, antara sedih dan pengen ngakak.
Nama panggilan penjualnya pak Mbois (pak gaul). Nama asli beliau adalah Maulana Malik Ibrahim (kalau tidak salah). Saat jualan bakmi sering sekali mengucap puji syukur Alhamdulillah.
Bahkan di salah satu foto yang diambil pelanggan ada ibu-ibu berjilbab membantu mengipasi kompor arang saat si bapak memasak pesanan.
Bakminya bukan bukan bakmi biasa, daging yang dipakai bukan daging Ayam kampung seperti kebanyakan penjual bakmi Jowo yang kita kenal.
Bakmi ini memakai daging Babi alias Khinzir. Hewan haram dan najis dalam Islam. Keharamannya mencapai tingkat “Ma’lum minad Din bid Dharurah”, atau sudah maklum diketahui semua Muslim termasuk yang cuma ber-KTP Islam.
Di Solo ada orang dengan nama Maulana Ibrahim, sering berbicara Alhamdulillah di depan pelanggan, tapi saat bersamaan tangan beliau pun cekatan mengiris-iris Babi untuk dimasukkan ke masakan yang dijualnya. Dikipasi ibu-ibu berjilbab.
Begitulah Solo raya, wilayah yang bikin bingung. Walau banyak penjual kuliner non halal dan ekstrim, namun pinggiran Solo bisa dibilang adalah ibukotanya gerakan Jihadis di Indonesia.
Di saat dakwah Tauhid dan syariat kencang, di sana juga ada Kerbau yang dikeramatkan, bahkan kletong (tai Kebo) pun diperebutkan masyarakatnya.
Belum lagi mobil buatan Solo yang katanya sudah laku ribuan unit tapi tak pernah terlihat di jalanan manapun.
Polemik ijazah bapak dan anak pun dari Solo.
Baru-baru ini ketika warung Babi dibakar OTK jadi isu intoleransi dan pembelaan masif, sementara pesantren tahfidz putri yang diperlakukan sewenang-wenang malah disindir wagub karena belum berizin katanya. Itupun terjadi di Solo.
Otomatis dalam kacamata kalangan Jihadis Solo, eksistensi masakan Babi lebih dihormati daripada eksistensi mereka sebagai warga Solo juga.
Dalam sejarah, Amangkurat 2 menggadaikan pelabuhan di pantura (Demak, Jepara, Pati) kepada VOC untuk biaya membangun keraton barunya di Solo.
Sampai sekarang kesunanan Surakarta dan Mangkunegara masih ada tetapi tanpa kekuasaan politik, cuma simbol budaya karena dihancurkan oleh kelompok kiri pimpinan Tan Malaka yang memandang feodalisme di situ kepanjangan tangan Belanda.
Uniknya 2 keraton Solo raya ini tetap mempertahankan aturan mutlak bahwa raja Solo harus beragama Islam, coba ini diterapkan di RI bisa dianggap “radikal dan diskriminatif”. Mangkunegara X yang asalnya Katolik jadi mualaf sebelum dibaiat oleh keluarganya jadi pemimpin keraton tahun 2022 lalu.
Solo raya itu ada:
- Jokowi yang pernah didukung PKS
- Kuliner haram
- Pesantren jihadis yang menjamur dan mudah ditemukan (Jihadis ini beda dengan takfiri ya, Jihadis masih mau membaur dan berpolitik, bahkan mencoblos serta ikut upacara, sementara takfiri semua dianggap kafir)
- Keraton yang harga mati dipimpin Muslim
- Lumbung suara PDIP
- Keturunan Kerbau Kyai Slamet yang dikeramatkan
Itulah Solo raya 😃








KAGAK USAH NYEBUT JOKOWI PERNAH DI DUKUNG PKS NNNJ***NG…..
GUE BUKAN PKAS TAPI GUE JIJIK AMA PEMBENCI/PEMFITNAH SESAMA MUSLIM