Tiga berita yang saling bersaing dan bertabrakan:
1. Hashim Djojohadikusumo, adiknya Prabowo bilang transfer bank akan kena pajak digital.
Pajak lagi, Sodara-sodara! Rakyat diperas sampai kering oleh negara.
Lagi pula, siapa Hashim? Dia memang adiknya Prabowo. Tapi dia tidak punya jabatan di portofolio ekonomi. Dia hanya pengusaha, utusan khusus presiden untuk bidang iklim, dan ketua satgas inovasi pembiayaan dan pengelolaan taman nasional.
Mengapa dia yang mengumumkan kebijakan perpajakan ini? Kemana Kementerian Keuangan yang membawahi Dirjen Pajak?
2. Indonesia menawarkan insentif pajak 0% untuk investor asing selama 50 tahun.
Jadi pemerintah akan membuat Pusat Keuangan Internasional Indonesia. Indonesia akan bersaing dengan Dubai dan Singapura. Pajak penghasilan 0% diberikan kepada tenaga ahli, pembebasan pajak atas sejumlah penghasilan investor asing, hingga ke pembebasan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM).
Dan itu selama 50 tahun! Indonesia bisa jadi surga pencucian uang. Jadi uang haram bisa masuk ke bisnis di negeri ini, buka perusahaan, keuntungannya tidak dipajaki. Investor bisa hidup foya-foya dengan mewah tanpa PPnBM.
Nasionalis?
3. Berita tentang Vietnam.
Kata IMF, tahun ini Vietnam akan lebih kaya dari Indonesia.
Lho bukannya kita kaya raya, seperti yang selalu dipidatokan Presiden Prabowo? Kaya ndhasmu!
Kita itu kaya dari bakar, gali, tanam. Bukan dari kerja otak. Bukan dari memproduksi sesuatu. Bukan dari industri dan teknologi. Kita ini bangsa agraris. Bahkan tentara kita pun ikut bertani, bukan?
Lagipula, siapa peduli Vietnam, yang seperti China adalah negara Komunis tak bertuhan?
Saya ingat pidato Presiden Prabowo, yang tidak senang negara ini, silahkan pindah ke negara lain.
Saya pikir pidato itu sangat relevan. Hai, anak-anak muda, sudahkah kau berpikir untuk pindah? Kalau tidak, mengapa kau diam saat harus bayar pajak lebih besar, dan kian hari kian bodoh dan miskin?
Kalau kau mau negeri ini maju dan kaya, rejim ini beserta kroni-kroni serta oligarkinya harus ditumbangkan! Iya, termasuk Jokowi, Gibran, dan gedibal-gedibalnya juga!








padahal sudah banyak yang tunjukin dan kasih contoh, kasih tambah pajak 2 – 5 persen ke orang kaya, gak bakal bikin mereka tambah miskin, tapi bisa tutup pajak dari orang menengah ribuan