

LIPUTAN UTAMA MAJALAH TEMPO TERBARU:
Isam punya konglomerasi batu bara yang makin membesar karena akuisisi ini, melampaui dua perusahaan batu bara terbesar lain.
Bagaimana bisa?
Andi Syamsuddin Arsyad, pengusaha sawit dan batu bara, akhirnya mengakuisisi PT Bayan Resources Tbk, perusahaan batu bara lain yang sedang moncer. Dengan akuisisi itu, konglomerasi batu bara Isam makin membesar, melampaui dua perusahaan batu bara terbesar lain.
Bayan sedang terjepit.
Pemerintah memotong proposal produksi batu baranya menjadi hampir separuh dari produksi tahun lalu. Akibatnya, lembaga pemeringkat rating menilai prospek bisnis Bayan jadi negatif.
Isam kini jadi pemilik 30,25 persen saham Bayan. Ia mendapat harga saham sepernam dari harga pasar.
Uang untuk membelinya dari pinjaman Bank Mandiri.
***
Kredit Janggal Bank Mandiri untuk Haji Isam Membeli Bayan merujuk pada laporan investigasi dan polemik pasar modal mengenai pengucuran kredit jumbo dari PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) kepada lini bisnis milik Andi Syamsuddin Arsyad (Haji Isam).
Fasilitas kredit ini disorot karena diduga memiliki berbagai kejanggalan dalam proses agunan, harga transaksi, hingga peruntukan dana yang menyeret kekhawatiran stabilitas pasar modal Indonesia.
Poin-Poin Utama Kejanggalan Transaksi
- Tujuan Penggunaan Dana: Berdasarkan investigasi media seperti Tempo.co, kucuran dana pinjaman tersebut diduga kuat digunakan untuk mendanai akuisisi 30,25% saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN). Akuisisi ini bernilai fantastis hingga membesarkan konglomerasi batu bara Jhonlin Group.
- Agunan Saham Likuiditas Rendah: Kejanggalan terbesar berada pada struktur agunan. Entitas Haji Isam, termasuk PT Pradiksi Guna Tama Tbk (PGUN) dan PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR), menggadaikan saham mereka hingga senilai Rp73 triliun ke Bank Mandiri. Masalahnya, saham-saham tersebut memiliki porsi free float (saham beredar di publik) di bawah 9%, yang artinya sangat tidak likuid dan nyaris mustahil dijual di pasar jika debitur mengalami gagal bayar (default).
- Harga yang Tak Wajar: Laporan menyebutkan bahwa Haji Isam berhasil mendapatkan saham Bayan dengan harga diskon yang drastis, yakni sekitar seperenam dari harga pasar, di tengah kondisi bisnis Bayan yang sedang mendapat peringkat prospek bisnis negatif dari lembaga pemeringkat.
- Korban Saham Entitas Anak: Pemegang saham terbesar PGUN menjaminkan 100% saham mereka untuk melancarkan kredit bagi PT Jhonlin Baratama selaku debitur utama. Perusahaan anak dikorbankan sebagai penjamin, namun dana pinjaman tidak mengalir ke operasional mereka sendiri melainkan dialihkan untuk entitas lain dalam grup.
Bantahan dan Klarifikasi Bank Mandiri
Menanggapi ramainya isu transaksi yang dianggap tidak lazim ini, manajemen Bank Mandiri memberikan klarifikasi resmi:
- Bukan untuk Beli Saham: Senior Vice President Bank Mandiri menegaskan bahwa fasilitas kredit yang diberikan kepada PT Jhonlin Baratama ditujukan untuk mendukung kebutuhan usaha operasional, bukan untuk transaksi pembelian (trading) saham.
- Sesuai Aturan Regulasinya: Perusahaan mengklaim seluruh proses penyaluran kredit dan penerimaan agunan telah dilakukan dengan prinsip kehati-hatian (prudential banking) serta mematuhi peraturan dari Otoritas Jasa Keuangan (POJK).
Meskipun otoritas bursa seperti Bursa Efek Indonesia (BEI) menyatakan tidak berwenang membatalkan transaksi yang sudah disepakati para pihak, pengawasan ketat dari publik dan pengamat pasar modal terus bergulir untuk mengantisipasi risiko sistemik perbankan.








wowo pro pengusaha fribumik salah, wiwi pro aseng salah, semua salah