“Islam keras, Kristen damai.” Narasi lama yang terus diulang
Kalian bandingkan Al-Qur’an dengan Injil saja,
lalu pura-pura lupa bahwa Alkitab juga memuat Perjanjian Lama?
Ulangan 20:16-17
“Tetapi dari kota-kota bangsa-bangsa ini… janganlah kaubiarkan hidup sesuatu pun yang bernafas, melainkan haruslah kautumpas mereka…”
1 Samuel 15:3
“Pergilah, kalahkanlah Amalek… bunuhlah laki-laki maupun perempuan, kanak-kanak maupun bayi…”
Yosua 6:21
“Mereka menumpas dengan mata pedang segala yang ada di kota itu, baik laki-laki maupun perempuan…”
Kenapa bagian yang penuh perang itu sering tidak diajak diskusi?
Dalam Perjanjian Lama, perang itu nyata, darah itu nyata, penaklukan itu nyata. Dan tidak selalu dibingkai sebagai kejahatan.
Sampaikan agama dengan kejujuran, perang atas nama Tuhan bukan monopoli Islam.
Jika kita jujur memahami konteksnya:
Pada fase awal
- Yesus alaihi salam di Yerusalem berada di bawah tekanan Romawi.
- Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam di Mekkah berada di bawah tekanan Quraisy.
Situasinya identik, minoritas, tertindas, mendapatkan siksaan, dan tanpa kekuasaan.
Apa yang muncul?
Baik dalam Al-Qur’an maupun Perjanjian Baru sikap yang diambil adalah bersabar.
Artinya, kalau konteksnya sama, respon wahyunya juga sama.
Perbedaan muncul saat sejarah tidak lagi sama.
Yesus wafat sebelum memimpin negara.
Sementara Muhammad shalallahu alaihi wasallam melanjutkan hingga membangun masyarakat di Madinah. Ini bukan detail kecil, ini titik pembeda besar.
Ketika fase di Madinah:
- Ada ancaman nyata dari luar
- Terjadi serangan nyata beberapa kali terhadap perjuangan Nabi
- Ada kebutuhan bertahan hidup
Lalu ayat perang turun. Bukan karena “haus kekerasan”, tapi karena realitas tidak selalu bisa diselesaikan dengan retorika cinta kasih, tapi harus ada keadilan.
Dan pola yang sama juga terlihat dalam Perjanjian Lama:
- Ketika kekuatan terbentuk,
- Fase perlawanan muncul, dan ayat-ayat perang pun ada seperti yang saya kutip di awal.
Sederhananya:
Injil → fase tertindas : bersabar
Al-Qur’an Mekkah → fase tertindas : bersabar
Al-Qur’an Madinah → fase berdaulat : jihad
Perjanjian Lama → fase berdaulat : jihad
Yang satu berhenti di tengah jalan.
Yang satu berlanjut sampai selesai.
Maka Al-Qur’an memuat dua realitas:
saat lemah → sabar
saat kuat → ada aturan perang
Ini bukan kontradiksi, ini kelengkapan.
Sementara kalian, ambil Injil (fase damai), abaikan Perjanjian Lama (fase perang), lalu bandingkan dengan Al-Qur’an secara utuh.
Ini bukan analisis. Ini seleksi cara mengajarkan agama dengan cara yang tidak jujur.
Cinta kasih tanpa keadilan adalah kedamaian yang semu.
Dan mendakwahkan agama tanpa kejujuran adalah ketidakpercayaan terhadap keyakinannya sendiri.
(Kang Irvan Noviandana)







penjajahan, kolonialisme, genosida penduduk lokal, emang yang ngelakuin itu siapa ?