Boros dan Kesenjangan
Oleh: Made Supriatma
Sejak kemarin, lini masa saya dipenuhi dengan “kejutan” perta ulang tahun untuk Sekretaris Kabinet kita. Dia sedang mengikuti bos-nya, Presiden Prabowo, berkunjung ke Paris. Perhatian saya tidak pada kue ulang tahun atau pose-pose riang gembira orang-orang disana.

Saya melihat hotelnya yang super mewah. Seorang kawan mengatakan, dilihat dari lokasinya yang bisa tampak menara Eifel, bisa dipastikan itu adalah Ritz Carlton Paris. Paling murah menginap disana harganya 24 juta per malam. Jelas, dari sisi mewahnya, uang yang dihabiskan jauh lebih banyak dari itu.
Dan, para staf presiden yang semuanya laki-laki muda ini sangat gemar memamerkan kemewahan (flexing) serta berpesta. LIhatlah jas-jas yang mereka kenakan, itu jas yang amat mahal.
Bangsa ini sedang krisis? Itu jauh sekali dari mereka. Karena mereka hidup di awan, dengan pesawat kepresidenan, dan segala macam fasilitas yang disediakan oleh negara. Sungguh gaya hidup anak-anak muda sukses, berkuasa, dan glamor (ala Raffi Ahmad!) sangat merasuk. Mereka seperti hidup dalam ‘klub’-nya sendiri.
Kekuasaan mereka sangat besar karena mereka dekat dengan presiden. Sebaliknya, presiden pun sangat menyayangi mereka. Masih ingat pada Agustus 2025, presiden menjemput salah satu staf pribadinya ini ke Bengkulu dengan pesawat kepresidenan dan kemudian terbang ke Kuala Lumpur?
Tugas mereka adalah melayani presiden. Mereka menjadi gatekeeper untuk sang presiden. Siapapun hendak berurusan dengan presiden harus melalui mereka. Kekuasaan mereka berasal dari kedekatan dan akses kepada presiden. Sehingga tidak heran, menteri atau jendral bintang empat sekali pun menghormat pada mereka.
Sebenarnya saya tidak terlalu peduli pada gaya hidup mereka yang tampak sangat hedonistik ini. Asalkan yang dipakai adalah duit mereka sendiri.
Sementara itu, kemarin saya mendapati pengadaan alat makan untuk 15 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di seluruh Yogyakarta. Nilai pengadaan itu Rp 4,196 trilyun!
Tidakkah saya berhak untuk menunjukkan kemarahan terhadap semua ini? Saya membayar pajak. Dan negara ini semakin efektif menarik pajak dari rakyatnya. Jangan dikira Anda tidak terkena. Jangan dikira Anda hanya membayar pajak penghasilan. Jika Anda perokok, 12% dari harga itu adalah pajak. Jika Anda ngopi, Anda kena pajak. Punya rumah, motor, atau mobil, Anda bayar pajak.
Uang-uang itulah yang membeayai kemewahan mereka semua itu. Mungkin mereka bisa berargumen, kami menjalankan tugas negara untuk menyejahterakan rakyat. Really? Tidak adakah cara lain yang lebih hemat?
Hedonisme yang sangat korup ini sudah menjadi gaya hidup di negeri ini.






