Indonesia Sedang Mengalami Kemunduran Leadership Communication

Oleh: Dian Anggraeni Umar (Praktisi Komunikasi Publik)

Jika melihat perjalanan para presiden Indonesia, kita bisa melihat evolusi yang menarik.
– Soekarno membangun identitas bangsa (Identity Builder).
– Soeharto membangun fondasi pembangunan (Development Builder).
– Habibie membangun budaya inovasi dan teknologi (Innovation Builder).
– SBY membangun kepercayaan melalui komunikasi yang argumentatif dan transparan (Trust Builder).

Lalu bagaimana dengan hari ini?
Salah satu kritik yang sering muncul terhadap komunikasi Presiden Prabowo adalah kecenderungan lebih banyak bereaksi daripada menjelaskan. Kritik publik kerap ditanggapi secara defensif, sementara ruang dialog dan penjelasan substansial mengenai kebijakan sering kali dianggap kurang memadai.

Di sisi lain, muncul pula persepsi bahwa komunikasi kepemimpinan saat ini terlalu berfokus pada validasi eksternal dan pencitraan internasional. Frekuensi kunjungan luar negeri yang tinggi memang dapat dibaca sebagai upaya memperkuat posisi Indonesia di panggung global. Namun sebagian masyarakat mempertanyakan apakah perhatian yang sama besar juga diberikan pada berbagai persoalan domestik yang mereka hadapi sehari-hari, mulai dari daya beli, lapangan kerja, pendidikan, tata kelola pemerintahan, hingga kualitas pelayanan publik.

Akibatnya, muncul kesenjangan persepsi. Pemerintah berbicara tentang keberhasilan diplomasi, investasi, dan pengakuan dunia internasional. Sementara sebagian masyarakat lebih fokus pada persoalan yang mereka rasakan langsung di dalam negeri.

Di era digital, legitimasi tidak lagi dibangun hanya melalui pengakuan dari luar negeri atau popularitas politik. Kepercayaan publik lahir ketika masyarakat merasa bahwa pemimpinnya memahami realitas yang mereka hadapi dan hadir untuk menyelesaikan masalah yang paling dekat dengan kehidupan mereka.

Pada akhirnya, pemimpin besar tidak hanya dikenal oleh dunia internasional. Pemimpin besar adalah mereka yang mampu membuat rakyatnya merasa didengar, dipahami, dan diperjuangkan.

Karena dalam kepemimpinan modern, pengakuan internasional memang penting, tetapi kepercayaan rakyat sendiri jauh lebih penting. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 komentar