Hmmmm

Postingan Made Supriatma (seorang jurnalis dan peneliti) di fb dengan lampiran ss di atas:

Seorang kawan jurnalis di Papua memberikan berita ini (SS diatas). Seperti yang Anda tahu, Mama Yasinta muncul di Polda Metro Jaya dan bikin pengaduan. Ia didampingi oleh beberapa pengacara.

Saya menghormati kehendak bebas Mama Yasinta. Namun apapun itu, banyak pertanyaan yang harus diajukan. Apakah Mama Yasinta bertindak atas dasar kebebasannya? Apakah ia membuat keputusan tanpa tekanan?

Rekam jejak Mama Yasinta sudah diketahui umum. Beliau hadir pas launching film Pesta Babi di Jayapura pada Maret lalu. Berarti setidaknya beliau tahu bahwa ia ada dalam film ini.

Mama Yasinta juga aktif dalam menyuarakan penentangan terhadap Proyek Strategis Nasional (PSN). Beliau beberapa kali ke Jakarta untuk kepentingan ini.

Malah, menurut informasi yang saya terima, Mama Yasinta adalah masuk sebagai pihak yang meminta judicial review di Mahkamah Konstitusi terhadap PSN. Dia juga menjadi penggugat di PTUN di Jayapura juga tentang PSN. Dia adalah klien dari LBH Merauke yang dilaporkannya ke Polda Metro Jaya.

Tentu sulit sekali mengetahui apa yang terjadi dengan Mama Yasinta. Di mata saya, Mama Yasinta hanyalah rakyat kecil yang tidak banyak pilihan. Saat ini pun pilihan untuk dirinya nyaris tidak ada.

Film Pesta Babi dibuat untuk memberikan suara kepada orang seperti Mama Yasinta. Dan reaksi dari pihak-pihak yang kepentingannya terganggu oleh film ini adalah dengan menggunakan Mama Yasinta sendiri untuk menghantam dan menjatuhkan kredibilitas film ini.

Ini adalah taktik klasik ‘bare knuckle’ dalam politik. Hantam lawan dengan kekuatan yang dia miliki, dengan suara absah yang dia punya, dengan narasinya sendiri.

Sodara-sodara, saya percaya bahwa semua orang punya kehendak baik. Semua orang punya altruisme — kehendak berkorban untuk orang lain. Jika Anda memiliki altruisme semacam itu, Anda tentu tahu mengapa ini semua terjadi.

Dalam pandangan saya, Mama Yasinta dilukai dua kali. Pertama tanahnya dan tanah komunitasnya dirampas. Kedua kemerdekaannya pun dihilangkan entah dengan manipulasi atau intimidasi.

Tidak ada yang lebih mematikan daripada fitnah kepada korban. Itulah sekarang yang sedang dijalankan.

Kabarnya Mama Yasinta akan dibawa ke Medan sehabis ini. Sebagai kampanye membunuh narasi Pesta Babi. Kita tidak tahu dimana Mama Yasinta berada saat ini. Kabarnya keluarganya juga tidak tahu. Apakah tidak lebih baik kalau beliau mencari perlindungan di Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban? Atau, mungkin Komnas Perempuan.

Beberapa informasi masuk ke saya terkait dengan para “lawyer” pendamping Mama Yasinta. Tapi, siapa sesungguhnya mereka? Dalam konferensi pers, mereka tidak berusaha menutupi bahwa mereka membisiki jawaban kepada Mama Yasinta. Dari informasi awal, mereka bekerja untuk sebuah partai dan mantan pengurus nasional organisasi mahasiswa ekstra. Dari situ sebenarnya sudah terlihat afiliasinya dan kira-kira mereka bekerja untuk siapa.

Sekali lagi, kita tidak tahu keadaan beliau. Yang pasti, kita hormati apapun keputusan beliau.

(sumber: fb)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *