Sekeluarga tewas saat Glamping di Temanggung, Glamping bisa Bahaya bagi yang tidak faham, ini kronologinya…

✍🏻Ella Angellina

Ada yang inbox “kak Ela udah baca berita terbaru satu keluarga tewas saat glamping di Temanggung, Jawa tengah kak, dulu juga ada berita pengantin baru tewas glamping di Alahan panjang, Sumatera Barat. Kenapa glamping beresiko? Kakak kan suka kegiatan outdoor bisa jelaskan kak? Soalnya kami sekeluarga juga suka glamping.”

Baiklah ini pengalaman saya selama belasan tahun bercamping ria. Pertama kita bedakan dulu apa itu glamping dan apa itu camping? Hampir sama tapi jauh berbeda:

Glamping = Glamorous Camping
Glamping adalah Camping dengan mewah estetik, artinya camping dengan fasilitas yang sudah tersedia oleh pengelolanya seperti kasur, listrik/genset, toilet, water heater, bahkan alat BBQ yang sebenarnya berbahaya jika ada dalam tenda. Glamping biasanya dilakukan oleh keluarga yang suka kegiatan outdoor tapi ingin ringkas, praktis tak mau repot tak jarang juga pemula yang minim pengalaman tentang bahaya yang selalu “mengintai dunia outdoor” sehingga memilih tempat yang tersedia yang dipikir memiliki rasa aman tapi sebenarnya rasa aman tanpa pengetahuan dan pengalaman maka itu adalah “rasa aman palsu”, mungkin juga pengelola fasilitas kadang tidak aware tentang bahaya-bahaya tersembunyi dalam tenda glamping dan memberi penjelasan pada tamu.

Hal yang paling sering mengintai nyawa saat glamping adalah “KERACUNAN” !!

Mungkin penjelasan keracunan ini amat sangat berguna jika kemudian hari ada rencana glamping:
Keracunan gas saat glamping paling sering terjadi karena penggunaan alat pembakaran di ruang tertutup, terutama menghasilkan Karbon Monoksida (CO). Gas ini sangat berbahaya karena: tidak berwarna, tidak berbau, tidak terasa. Orang bisa tertidur lalu kehilangan kesadaran tanpa sadar sedang keracunan.

Penyebab yang sering:
BBQ atau arang dibawa masuk tenda/kabin. Meletakkan genset dekat tenda, ada kompor portable dipakai dalam ruang tertutup, heater gas tanpa ventilasi atau mobil menyala dekat area tidur.

Kenapa glamping jadi lebih rentan? Karena glamping sering memakai:
tenda tebal tertutup, kabin kecil, ventilasi minim lalu agar hangat maka ada alat pemanas tambahan saat dingin.
Juga saat udara dingin, orang juga cenderung menutup semua celah udara, sehingga gas menumpuk maka terjadilah keracunan. Gejala keracunan CO ini awalnya juga mirip masuk angin atau kelelahan sehingga orang tidak aware seperti: pusing, mual, sakit kepala, lemas, mengantuk berat
Lalu bisa berkembang menjadi:
bingung, pingsan, gagal napas lalu meninggal.

Tanda khas yang sering terlambat disadari: “semua orang di tenda merasa ngantuk bersamaan.”

Sementara Camping lebih dekat ke konsep bertahan dan menyatu dengan alam.
Biasanya tidur di tenda sederhana, bawa perlengkapan sendiri, minim listrik dan fasilitas
lebih “alam banget”. Camper biasanya dari kalangan yang mempelajari medan sebelum turun, mempelajari cuaca juga bahaya meskipun ada beberapa camper yang mengabaikan pengetahuan hanya suka-suka tanpa pengalaman padahal semua kegiatan outdoor itu memiliki tingkat risiko yang jauh lebih tinggi daripada kegiatan indoor

Camping biasa/tradisional ini juga jarang sekali memakai peralatan listrik atau gas yang berisiko tinggi diruang tertutup karena tujuannya memang melatih kemandirian, belajar menjadi survival dialam liar. Semakin alami peralatan di alam maka kemampuan bertahan juga semakin tinggi karena lebih banyak mengandalkan insting dan tanda alam itu sendiri. Sebenarnya itulah tujuan utama kita datang kealam selain menikmati keindahan kita juga mempelajari cara beradaptasi.

(Sumber: fb penulis)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *