Ritual Sati (Pati Obong) adalah praktik kuno di mana seorang janda membakar dirinya di atas tumpukan kayu bakar kremasi suaminya yang telah meninggal. Praktik ini berakar dari tradisi Hindu di India, namun juga pernah menyebar dan dipraktikkan di beberapa wilayah Nusantara seperti Jawa dan Bali pada masa lampau.
Pramoedya Ananta Toer:
“Tapi pesta itu kini telah ditiadakan. Dahulu dalam pesta ini, tulang-belulang atau mayat-mayat dibakar bersama-sama di empat penjuru kota, bila memang banyak yang harus dibakar. Bila abunya telah diambil, janda-janda pun menyusul masuk ke dalam api unggun sampai lumat jadi abu pula.
Pesta api sudah tiada. Orang-orang Islam telah berusaha melawan adat kejam dan mengerikan ini sambil memasyhurkan agamanya.”
(Arus Balik, Pramoedya Ananta Toer)
***

Menurut Prof. Koh Young Hun dalam bukunya ‘PRAMOEDYA MENGGUGAT: Melacak Jejak Indonesia’, fragmen itu digunakan Pramodya untuk menggambarkan suasana Tuban pada waktu pergantian agama, dimana agama Hindu mengalami kemerosotan tajam dan Islam mengalami pasang naik.
Apa yang ditulis Pramoedya itu terekam dengan catatan sejaman yang ditulis oleh Tom Pires dalam karya monumentalnya Suma Oriental pada bagian adat kematian orang Jawa.
“Sudah menjadi adat di Jawa dan di negeri-negeri yang kita uraikan nanti, bahwa tatkala raja wafat, banyak istri utama dan gundiknya membakar diri hidup-hidup, demikian pula sebagian rakyat raja, hal ini juga dilakukan tatkala tuan besar wafat atau orang penting lainnya. Ini terjadi di antara orang kafir, bukan di antara orang Jawa yang Moor.”
“Dan, perempuan yang enggan membakar diri, menenggelamkan diri dengan sukarela, dengan musik dan pesta. Tatkala suami mereka wafat, peempuan dan lelaki paling penting, jika mereka bangsawan, demikian pula bangsawan yang ingin mati bersama raja. Rakyat jelata menenggelamkan diri di laut, atau membakar diri.” (hal. 163).
***
Tradisi ini bisa dikatakan sama persis dengan tradisi kematian di India yang ditulis Ibnu Batutah (penjelajah muslim terbesar asal Maroko), dimana apabila para suami meninggal, maka jandanya akan membakar diri hidup-hidup bersama mayat suaminya.
Opsi selain membakar diri hidup-hidup adalah mengenggelamkan diri ke sungai Gangga. Dimana janda tersebut diikat dalam batu besar kemudian dilempar ke sungai Gangga. Di Jawa, tradisi ini disebut larung.
Hanya saja, kalau di Jawa dan juga Bali, yang membakar diri bukan hanya istri tapi juga budak yang dimiliki.
Cornelis de Houtman (penjelajah asal Belanda yang memimpin ekspedisi pelayaran pertama Belanda ke Nusantara) mencatat tentang pembakaran mayata seorang raja, dimana bersama dibakarnya mayat sang raja, ikut dibakar pula lima puluh orang, yakni istri dan para budak yang dimiliki, hidup-hidup.
Dalam sebuah tulisan di kumparan, catatan sati (janda membakar diri) terbesar di Jawa itu ketika Raja Blambangan, Tawang Alun II meninggal.
“Di Indonesia sendiri pernah mencatat peristiwa ritual Sati (di Indonesia disebut dengan Pati Obong) terbesar pada tahun 1691. Ketika Raja Blambangan, Pangeran Tawang Alun II meninggal dan akan dikremasi. Pangeran Tawang Alun II diketahui memiliki sekitar 400 istri. Dari 400 istri tersebut, sebanyak 270 di antaranya melakukan ritual Pati Obong dan ikut dibakar dalam upacara kremasi Pangeran Tawang Alun II.”
Kerajaan Blambangan adalah kerajaan Hindu-Buddha terakhir di Pulau Jawa yang berpusat di Banyuwangi, Jawa Timur.
(Arif Wibowo)







Af lu ga mau kurap ky junjunganmu