Ini cuma cerita keledai, jangan tersinggung kalau ada kesamaan 😁

Cerita Tentang Keledai: Petani itu amat gembira. Ini untuk pertama kali dalam hidupnya ia punya seekor keledai. Ia membelinya dengan semua tabungan yang ia punya.

Ia tahu bahwa keledai adalah binatang bodoh. Tidak saja itu, ia keras kepala. Ia sulit diperintah. Sulit dikendalikan. Namun ia berguna untuk mengangkat beban. Itu pun kalau ia mau menuruti perintah.

Petani itu menuntunnya pulang. Sampai di rumah, ia membawanya naik ke atap. Disana ia memperlihatkan keledai ini pemandangan, rumah-rumah tetangganya, kampungnya, bukit dan gunung di kejauhan.

Ia ingin agar keledai itu tahu dimana dia berada. Sehingga kalau pergi, keledai itu tahu tempat pulang.

Sang keledai tampaknya juga senang berada di atap rumah laki-laki itu. Ia merasa nyaman. Ia berada di ketinggian. Apa yang lebih menyenangkan dari ketinggian? Ia merasa agung. Ia terpana karena merasa ada kuasa yang luar biasa di ketinggian. Ia bisa melihat semuanya. Dan, mereka yang di bawah harus menengadah hanya untuk melihatnya.

Itulah sebabnya, ketika hari sudah surut, petani itu hendak membawanya turun kembali. Keledai menolak. Petani itu membujuknya. Sang keledai tetap menolak. Petani itu mendorong, keledai tetap menolak. Ia bersikeras tempatnya adalah di atap. Di ketinggian. Dimana semua orang menengadah untuk melihatnya!

Petani itu hilang kesabaran. Ia mulai menarik keledai itu turun ke bawah. Sang keledai tetap menolak. Semakin keras si petani menariknya, keledai tetap menolak. Ketika ditarik semakin kasar, si keledai memberontak.

Keledai itu mulai menendang apa saja yang ada di sekitarnya. Ia mengamuk ketika hendak diturunkan. Dan, atap itu mulai berantakan. Semakin lama, si keledai itu makin menggila. Rumah pun goyah dan terguncang berat.

Melihat itu, sang petani sadar rumahnya akan runtuh. Ia berlari turun dan mengajak istrinya keluar rumah. Benar saja, rumah petani itu ambruk. Si keledai ambruk bersamanya dan mati seketika.

Setelah keadaan tenang, si petani mengais reruntuhan rumahnya. Ia mendapati keledai yang tidak bernyawa itu. Ia berkata, “Bukan salahmu o keledai yang malang. Ini semua salahku karena mengangkatmu ke ketinggian! Kau seharusnya tidak berada di sana. Kau seharusnya tidak boleh menikmati segala keagungan di ketinggian itu.”

Begitulah. Sang petani menyesal. Namun rumahnya sudah runtuh. Tabungannya sudah habis. Dan keledai yang diharapkannya untuk membantunya bekerja meraih kemakmuran pun sudah mati.

Moral of the story? Banyak. Jangan mengangkat orang eh keledai ke tempat yang tinggi! Menurunkannya tidak gampang karena ia bisa meruntuhkan rumah.

Note: Saya mendapat cerita ini dari satu reel yang saya tonton kemarin. Ceritanya melekat di otak saya. Namun saya gagal menemukan kembali reel itu.

(Made Supriatma)

Foto: Keledai sedang pidato berapi-api.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

10 komentar

  1. Alhamdulillah….. akhirnya petani mengakui kesalahannya krn telah mengangkat keledai yang bodoh, keras kepala, susah diatur, mo menang sendiri dan komunikasi nya pun buruk.

    Adakah petani lainnya kembali waras ❓
    Semoga…….

  2. lebih ngeri lagi ada yg merasa berhak menilai kinerja org lain padahal dia bukan atasan dan bukan yg memiliki kapasitas, lebih buruk lg kinerjanya terburuk di era reformasi, mengakibatkan kesombongannya membuat dia kalah telak

    1. kalah karna pilpres sdh disetting Qodari tong…
      makanya doi masuk kabinet.
      benci boleh, goblok jangan

  3. Dalam struktur organisasi demokrasi yang sehat, yang punya hak menilai bukan hanya atasan aja, tapi “bawahan” pun punya hak untuk menilai. inga’…. inga’…. peristiwa 1998, apalagi atasan digaji oleh bawahan dari pajak.

  4. 02 dan Voters nya memang keledai.. sudah dinasehati masih ngeyel….bukan saja keledai… tapi keledai muka babiiik…. bangsaaaaaattttt….

  5. wkwkwkwk…si SUPER DUPER GOBLOK Aris Wijayantolol ODGJ alias si af alias si Anonim Babi guRun alias BabRun masih juga dengan keGOBLOKANnya. Woii ANJING PENJILAT, kami rakyat berhak menilai, mengritik junjungan yang juga sesembahan mu itu. Karena dia seenaknya aja mengangkangi konstitusi, menghamburkan uang rakyat untuk kerjaan yang tak jelas itu. Dasar kau GUOBLOKKKK Ris‼️
    😜😂😝🤣

  6. Cerita ini sangat sesuai dengan kisah Raja Kodok Kurap dan ternaknya di Indonesia. Bedanya, “petani” yg mengangkat Si Raja Kodok Kurap di sini ga ada penyesalan sama sekali.